Penulis Wawan Bromo FM Kamis 01/10/2015 SUKAPURA - Puncak perayaan Yadnya Karo tahun ini digelar di Desa Ngadisari Kecamatan Sukapur...
Penulis Wawan Bromo FM
Kamis 01/10/2015
SUKAPURA - Puncak perayaan Yadnya Karo tahun ini digelar di Desa Ngadisari Kecamatan Sukapura, Rabu (30/9). Puncak peringatan tersebut ditandai dengan ritual Tari Sodoran yang merupakan ritual puncak dalam rangkaian perayaan Yadnya Karo.Hari raya Karo merupakan hari raya masyarakat Tengger untuk memperingati asal usul manusia diciptakan oleh Yang Maha Kuasa. Hari raya ini diperingati setahun sekali setiap bulan Karo menurut perhitungan kalender Tengger yang dihadiri oleh Forkopimka Sukapura.
Ritual adat ini juga menarik perhatian wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang nampak antusias mengikuti jalannya acara. Tidak sedikit yang mengabadikan momen-momen unik dengan perangkat rekam yang mereka bawa. Tidak ketinggalan puluhan wartawan baik cetak maupun elektronik meliput dan ikut mengabadikan ritual tersebut.
Sejak pagi hari masyarakat Tengger yang berasal dari Desa Ngadisari, Jetak dan Wonotoro berkumpul di tempat tersebut untuk mengikuti puncak prosesi Yadnya Karo. Kaum laki-laki asli Tengger berbusana lengkap pakaian adat warna hitam-hitam. Mereka datang dengan membawa sesajen yang dibungkus janur berisikan aneka makanan, mulai jajanan pasar hingga jajanan modern.
Setelah semuanya berkumpul, prosesi ritual Sodoran pun dimulai, dimana laki-laki dengan Tarian Sodoran dengan diiringi alunan musik tradisional. Penari tersebut hanya menggerakkan salah satu tangannya ke atas dan tangan yang lain memegang pinggang. Sedangkan kakinya sedikit bergoyang mengikuti irama musik. Mereka menari sambil berjalan di tengah-tengah warga. Pada bagian tertentu penari tersebut juga membawa bambu di tangannya. Mereka berjalan bolak balik sambil menari.
Selanjutnya, penari lelaki tersebut memberi isyarat kepada warga lain yang sedang duduk dengan cara memberi sarak. Bagi mereka yang terkena sarak harus melanjutkan menari dan tidak boleh menolak. Sarak tersebut terbuat dari tanduk kerbau. Tarian tersebut terus berlangsung secara berkelanjutan.
Sementara kaum laki-laki sibuk dengan Tari Sodoran, kaum perempuan dengan mengenakan pakaian adat warna hitam mulai berdatangan sambil membawa rantang berisi makanan. Dalam rantang tersedia berbagai macam makanan mulai makanan berat, kudapan dan buah-buahan. Begitu tarian rehat, para istri menyerahkan makanan tersebut kepada suami yang mengikuti ritual Sodoran untuk dimakan bersama-sama dengan keluarga.
Menurut tokoh masyarakat Tengger Supoyo mengatakan Yadnya Karo merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap tahun tepatnya pada bulan Karo pada kalender Tengger.
”Saya berharap kepada para generasi muda Tengger agar ritual Sodoran terus dilestarikan. Sebab dengan cara ini kerukunan dan kebersamaan masyarakat Tengger dapat selalu terpelihara. Ritual ini jangan sampai punah sebab sudah menjadi tradisi turun temurun sejak jaman nenek moyang,” ujarnya.
Ritual Tari Sodoran merupakan puncak dari serangkaian ritual adat Yadnya Karo. Rangkaian ritual ini diawali dengan kumpul Karo di rumah Kepala Desa masing-masing. Dilanjutkan ritual Tekane Ping Pitu. Ritual ini dimaksudkan untuk mengundang arwah para leluhur untuk datang ke rumah masing-masing warga.
Rangkaian ritual Yadnya Karo kemudian dilanjutkan dengan pemasangan penjor dan umbul-umbul, Mele’an Kajad Banten Karo, Resik Karo, Nyuceni Jimat Klonthongan dan Tumpeng Bathungan.
Bersamaan dengan Tari Sodoran juga digelar Tumpeng Gedhe yang dilanjutkan dengan Sesandhing/Santi, Nyadran, Sedhekah Pangonan, Wayon Karo hingga Mulihe Ping Pitu. (wan/abh)


COMMENTS