Penulis : Wawan Bromo FM Selasa, 27/10/2015 KRAKSAAN – Bidan adalah profesi mulia yang mendampingi setiap tahapan kehidupan para per...
Penulis : Wawan Bromo FM
Selasa, 27/10/2015
Selasa, 27/10/2015
KRAKSAAN – Bidan adalah profesi mulia yang mendampingi setiap tahapan kehidupan para perempuan. Selain itu juga merupakan ladang amal untuk mengamalkan ilmu, khususnya bagi sesama perempuan.
Itulah motivasi yang dimiliki bidan Kelurahan Patokan Kecamatan Kraksaan Ratna Kusumastuti selama menjalani profesi sebagai bidan. “Untuk menjadi seorang bidan yang sukses kuncinya harus sabar dan ikhlas dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat,” ungkap alumnus Akbid Yayasan RSI Surabaya ini.
Perempuan kelahiran Malang, 19 Nopember 1984 ini mengharapkan, ke depan tidak ada lagi Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Kabupaten Probolinggo. “Untuk mewujudkan hal tersebut, masyarakat diharapkan lebih mandiri dan peduli untuk meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak,” jelas ibu dua anak ini.
Anak keempat dari empat bersaudara pasangan Soemartono (alm) dan Astuti Rahayu menjelaskan, ibu dan bayi adalah aset penting suatu bangsa. “Oleh karenanya mohon dukungan, bantuan dan kerjasamanya untuk menyukseskan program kesehatan pemerintah dalam peningkatan derajat kesehatan ibu dan anak,” tegasnya.
Perempuan asli Kepanjen Malang ini mengaku, ada suka dan duka yang dialaminya selama menjadi bidan. Sukanya bisa mengamalkan ilmu dalam membantu para perempuan melewati jihadnya sebagai seorang ibu sehingga ibu dan bayi bisa sehat dan selamat.
“Selama kita belajar ikhlas atas tugas dan kewajiban, insya Allah semua urusan dipermudah oleh Allah. Jadi duka atau kesulitan sebagai bidan bisa diminimalisasi,” terangnya.
Istri Andri Purwasito ini mengaku, setiap kali menolong persalinan adalah pengalaman yang berkesan karena mengingatkannya bahwa Allah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. “Tugas seorang bidan adalah melaksanakan kerjanya berdasarkan urutan prioritas masalah kesehatan yang dihadapi sesuai dengan kewenangan yang diberikan,” pungkasnya. (wan/abh)
Itulah motivasi yang dimiliki bidan Kelurahan Patokan Kecamatan Kraksaan Ratna Kusumastuti selama menjalani profesi sebagai bidan. “Untuk menjadi seorang bidan yang sukses kuncinya harus sabar dan ikhlas dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat,” ungkap alumnus Akbid Yayasan RSI Surabaya ini.
Perempuan kelahiran Malang, 19 Nopember 1984 ini mengharapkan, ke depan tidak ada lagi Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Kabupaten Probolinggo. “Untuk mewujudkan hal tersebut, masyarakat diharapkan lebih mandiri dan peduli untuk meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak,” jelas ibu dua anak ini.
Anak keempat dari empat bersaudara pasangan Soemartono (alm) dan Astuti Rahayu menjelaskan, ibu dan bayi adalah aset penting suatu bangsa. “Oleh karenanya mohon dukungan, bantuan dan kerjasamanya untuk menyukseskan program kesehatan pemerintah dalam peningkatan derajat kesehatan ibu dan anak,” tegasnya.
Perempuan asli Kepanjen Malang ini mengaku, ada suka dan duka yang dialaminya selama menjadi bidan. Sukanya bisa mengamalkan ilmu dalam membantu para perempuan melewati jihadnya sebagai seorang ibu sehingga ibu dan bayi bisa sehat dan selamat.
“Selama kita belajar ikhlas atas tugas dan kewajiban, insya Allah semua urusan dipermudah oleh Allah. Jadi duka atau kesulitan sebagai bidan bisa diminimalisasi,” terangnya.
Istri Andri Purwasito ini mengaku, setiap kali menolong persalinan adalah pengalaman yang berkesan karena mengingatkannya bahwa Allah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. “Tugas seorang bidan adalah melaksanakan kerjanya berdasarkan urutan prioritas masalah kesehatan yang dihadapi sesuai dengan kewenangan yang diberikan,” pungkasnya. (wan/abh)


COMMENTS