Penulis : Dimaz Bromo FM Rabu, 14 Oktober 2015 KRAKSAAN - Penularan HIV/AIDS di Kabupaten Probolinggo sangat mengkhawatirkan. Jumla...
Penulis : Dimaz Bromo FM
Rabu, 14 Oktober 2015
Pada tahun 2012 lalu, pengidap HIV/AIDS berjumlah 161 jiwa. Dimana 50 diantaranya meninggal dunia. Tahun berikutnya 2013, penderitanya bertambah sampai dua kali lipat mencapai 237 orang dan 80 orang meninggal dunia. Pada tahun 2014 mencapai 240 orang, 48 diantaranya meninggal dunia.
Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo Sentot Dwi Hendriyono mengatakan, hingga awal Oktober 2015 jumlah HIV/AIDS di Kabupaten Probolinggo berjumlah 117 orang. Diantara mereka ada 83 orang yang masih hidup, sedangkan 34 orang menghembuskan nafas setelah berjuang melawan penyakit tersebut. Angka ini disinyalir akan terus bertambah, karena kekurangtahuan masyarakat akan bahaya penyakit mematikan tersebut.
“Bisa jadi pada akhir tahun nanti, jumlahnya lebih dari angka tersebut. Baik yang masih mempunyai harapan hidup maupun yang meninggal dunia,” katanya.
Sesuai data Dinkes Kabupaten Probolinggo, Kecamatan Paiton berada di urutan teratas dengan 123 penderita. Disusul Kota Kraksaan sebanyak 98 penderita dan Besuk 80 penderita. Dari tiga kecamatan itu jelas Sentot, Kecamatan Besuk yang kenaikannya lebih tinggi dibanding kecamatan lainnya.
“Kami sendiri belum mengetahui, mengapa trendnya seperti itu. Padahal, dinamika sosial di Kecamatan Besuk tidak terlalu tinggi dan industrinya juga tidak terlalu menonjol,” jelas mantan Kabag Kominfo ini.
Upaya pencegahan yang dilakukan Dinkes antara lain dengan memberikan penyuluhan tentang bahaya dan penyebab HIV/AIDS melalui sekolah-sekolah. Penyuluhan ini diberikan mulai dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Disamping juga pondok-pondok pesantren dan sejumlah lembaga pendidikan lainnya.
Selain menyasar anak sekolah, upaya yang lain yang dilakukan Dinkes adalah dengan memasang baliho, spanduk dan selebaran yang isinya tentang bahaya HIV/AIDS. Termasuk pendampingan terhadap pengidap HIV/AIDS melalui layanan Voluntary Conseling and Testing (VCT). “Saat ini kami sudah memiliki layanan VCT di beberapa Puskesmas,” tegasnya.
Dengan VCT diharapkan penderita mau memeriksakan diri ke puskesmas terdekat. Ini demi mencegah penyebaran virus lebih luas. “Sasaran utama kami untuk mencegah penularan HIV melakukan pemeriksaan terhadap ibu hamil, penderita TB, pemakai narkoba dan penderita PMS. Karena merekalah yang memilki kemungkinan besar terjangkit HIV,” ujarnya.
Bagi penderita HIV/AIDS positif akan diberikan obat Anti Retro Viral (ARV) yang diambil dari RSUD Waluyo Jati Kraksaan. Apabila cukup parah akan di rujuk di rumah sakit yang memiliki fasilitas Care Support Treatment (CST). (maz/abh)


COMMENTS