Penulis Dimaz Bromo FM Senin 21/09/2015 KRAKSAAN - Garam terpal yang diusahakan oleh warga Desa Kebonagung Kecamatan Kraksaan mempuny...
Penulis Dimaz Bromo FM
Senin 21/09/2015
Sedangkan untuk garam rakyat yang menggunakan media tanah, hanya seharga Rp 425 per tonnya. Hal ini disebabkan kadar NaCl yang dikandung garam terpal mencapai 89-91 atau kualitas KW1. Kadar NaCl-nya juga lebih tinggi dari garam rakyat yang mencapai 84-86 atau KW2.
“Garam kami dijual ke Bali untuk beberapa salon kecantikan di sana. Berbeda dengan garam rakyat yang masuk ke gudang atau langsung ke pasar,” ujar Bambang Taufik, warga Desa Kebonagung Kecamatan Kraksaan.
Tidak hanya harga yang lebih mahal, ternyata dari segi produktifitas usaha ini lebih banyak dan cepat. Sepetak lahan dengan ukuran 13 meter x 57 meter mampu menghasilkan garam sebanyak 8,5 ton. Sedang dengan luas lahan yang sama, petani garam rakyat hanya memperoleh sekitar 6 ton saja. “Namun, itu juga tergantung pada lokasi dan perlakuannya,” jelasnya.
Bambang menerangkan yang pada tahun lalu masih mengusahakan garam dengan media hamparan tanah mengaku sistem baru itu lebih cepat. Dari pengalamannya selama bertani, agar menghasil garam, petani harus menunggu selama 17-20 hari untuk panen. Namun dengan sistem terpal, petani hanya membutuhkan 10-12 hari untuk panen.
Menurut Bambang, sistem terpal yang digunakan olehnya juga diterapkan pada kelompoknya, yakni kelompok tani Sidoagung. Ia mengatakan sejak dua tahun lalu, kelompoknya sudah menerapkannya.
Saat ini, sudah ada sekitar 16.500 meter per segi lahan digunakan dengan menerapkan metode ini. Hasilnya, sejak Juli lalu hingga sekarang, petani memanen 300 ton garam terpal. Sebanyak 156 ton sudah dikirim ke Bali, sisanya berada di gudang penampungan. (maz/abh)


COMMENTS