Penulis Wawan Bromo FM Selasa 08/09/2015 KRAKSAAN – Musim kemarau yang lebih panjang berdampak positif bagi panen garam tahun ini. Se...
Penulis Wawan Bromo FM
Selasa 08/09/2015
KRAKSAAN – Musim kemarau yang lebih panjang berdampak positif bagi panen garam tahun ini. Selain faktor iklim, penggunaan teknologi geomembrane atau geoisolator turut berkontribusi mendongkrak produksi garam tahun ini. Tidak hanya kuantitas, tapi juga kualitas garam yang dihasilkan.“Sebagian besar petani garam saat ini sudah menerapkan teknologi geoisolator. Sebab hasilnya cukup bagus. Biasanya satu bulan hanya panen 2 kali, dengan geoisolator bisa panen 3 hingga 4 kali. Selain itu, jumlah tonase per meja garam terus meningkat. Per hektarnya bisa produksi 50% lebih banyak,” ungkap Kepala Bidang Pengelolaan Sumber Daya Kelautan pada Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanla) Kabupaten Probolinggo Wahid Noor Azis.
Menurut Wahid, produksi garam tahun ini ditargetkan sebesar 13.371 ton. Tetapi hingga akhir Agustus realisasinya baru mencapai 3.500 ton. Masih rendahnya produksi garam tersebut dikarenakan masa pembuatan garam masih terbilang tidak lama. Petani mulai proses produksi garam pada Juni lalu.
“Masih baru panen, makanya jumlahnya masih rendah. Tetapi kami optimistis dapat mencapai target tersebut karena didukung oleh cuaca yang pengembangan sistem geoisolator. Biasanya panen awal itu hasilnya sedikit. Namun semakin lama akan semakin meningkat dan bisa mencapai 9 ton per hektar,” jelasnya.
Banyak keuntungan yang didapat dengan pengembangan sistem geoisolator ini. Penahan porositas yang awalnya menggunakan lahan tanah dilapisi plastik (terpal). Dengan adanya plastik, maka tidak ada rembesan dan pemanasannya lebih cepat. “Ini yang menyebabkan produksi garam meningkat,” tegasnya.
Selain tingginya produksi, dengan pengembangan geoisolator ini, Wahid mengaku optimistis mampu meningkatkan kualitas garam yang dihasilkan. Dengan kualitasnya meningkat, maka harganya akan turun naik.
“Melalui geoisolator ini, harganya bisa mencapai Rp 500 per kilogram. Padahal dengan lahan tanah, harganya berkisar antara Rp 400 hingga Rp 425 per kilogram. Mudah-mudahan hingga akhir tahun ini, target produksi garam bisa terealisasi,” harapnya. (wan/abh)


COMMENTS