Penulis Dimaz Bromo FM Minggu 16/08/2015 KRAKSAAN - Jumlah buta aksara di Kabupaten Probolinggo saat ini masih di angka 73.679 jiw...
Penulis Dimaz Bromo FM
Minggu 16/08/2015
KRAKSAAN - Jumlah buta aksara di Kabupaten Probolinggo saat ini masih di angka 73.679 jiwa. Posisinya berada di urutan tertinggi kedua di Jawa Timur. Untuk itu, Pemkab Probolinggo melalui Dinas Pendidikan menargetkan bisa mengentas 11.110 jiwa buta aksara agar bisa membaca.
Tahun 2014, jumlah buta aksara di Kabupaten Probolinggo mencapai 73.679 jiwa. Angka itu terbilang menurun dibanding 2013 yang jumlahnya 81.479 jiwa. Dengan kata lain, telah terjadi penurunan jumlah buta aksara hingga 7.800 orang.
Warga buta aksara di Kabupaten Probolinggo paling banyak berada di Kecamatan Tiris, Kecamatan Krucil dan Kecamatan Bantaran. Sedangkan jumlah terkecil berada di Kecamatan Pajarakan. Dan berdasar hasil verifikasi dan validasi data, warga buta aksara di Kabupaten Probolinggo ini berada di usia rata-rata 50 tahun ke atas.
Di sisi lain, dengan jumlah buta aksara 73.679 jiwa, Kabupaten Probolinggo masih masuk ranking kedua tertinggi di Jawa Timur. Pemkab Probolinggo pun terus bekerja keras menekan jumlah warga buta aksara melalui sejumlah program.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo Tutug Edi Utomo melalui Kasi Pendidikan Luar Sekolah Massajo mengatakan, setiap tahun Pemkab Probolinggo mengupayakan pengurangan jumlah warga buta aksara. “Setiap tahun kami targetkan ada pengurangan jumlah buta aksara. Ini sudah komitmen,” katanya.
Upaya keras mengurangi angka buta aksara secara terus menerus merupakan bagian dari langkah meningkatkan IPM (Indeks Pembangunan Manusia) di Kabupaten Probolinggo. Untuk tahun ini, Dispendik menargetkan mengentas 11.110 warga buta aksara. Mereka diajari membaca, menulis dan berhitung (calistung). “Memang jumlah tahun ini lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Salah satunya dengan cara gerakan pemberantasan buta aksara,” jelasnya.
Gerakan tersebut melibatkan seluruh guru negeri di Kabupaten Probolinggo yang telah mendapatkan Tunjangan Profesi Pendidik (TPP) atau sertifikasi. Dengan menggandeng para guru, diharapkan target pengurangan jumlah buta aksara dapat tercapai.
Selain melibatkan guru, Dispendik juga melibatkan seluruh lembaga pendidikan negeri di 24 kecamatan di Kabupaten Probolinggo atau sebanyak 700 lembaga negeri diminta untuk berkontribusi terhadap pemberantasan buta aksara. Bila masing-masing lembaga menanggung 1 kelompok belajar, dipastikan ada 7.000 orang buta aksara yang terentas. (maz/drs)
Tahun 2014, jumlah buta aksara di Kabupaten Probolinggo mencapai 73.679 jiwa. Angka itu terbilang menurun dibanding 2013 yang jumlahnya 81.479 jiwa. Dengan kata lain, telah terjadi penurunan jumlah buta aksara hingga 7.800 orang.
Warga buta aksara di Kabupaten Probolinggo paling banyak berada di Kecamatan Tiris, Kecamatan Krucil dan Kecamatan Bantaran. Sedangkan jumlah terkecil berada di Kecamatan Pajarakan. Dan berdasar hasil verifikasi dan validasi data, warga buta aksara di Kabupaten Probolinggo ini berada di usia rata-rata 50 tahun ke atas.
Di sisi lain, dengan jumlah buta aksara 73.679 jiwa, Kabupaten Probolinggo masih masuk ranking kedua tertinggi di Jawa Timur. Pemkab Probolinggo pun terus bekerja keras menekan jumlah warga buta aksara melalui sejumlah program.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo Tutug Edi Utomo melalui Kasi Pendidikan Luar Sekolah Massajo mengatakan, setiap tahun Pemkab Probolinggo mengupayakan pengurangan jumlah warga buta aksara. “Setiap tahun kami targetkan ada pengurangan jumlah buta aksara. Ini sudah komitmen,” katanya.
Upaya keras mengurangi angka buta aksara secara terus menerus merupakan bagian dari langkah meningkatkan IPM (Indeks Pembangunan Manusia) di Kabupaten Probolinggo. Untuk tahun ini, Dispendik menargetkan mengentas 11.110 warga buta aksara. Mereka diajari membaca, menulis dan berhitung (calistung). “Memang jumlah tahun ini lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Salah satunya dengan cara gerakan pemberantasan buta aksara,” jelasnya.
Gerakan tersebut melibatkan seluruh guru negeri di Kabupaten Probolinggo yang telah mendapatkan Tunjangan Profesi Pendidik (TPP) atau sertifikasi. Dengan menggandeng para guru, diharapkan target pengurangan jumlah buta aksara dapat tercapai.
Selain melibatkan guru, Dispendik juga melibatkan seluruh lembaga pendidikan negeri di 24 kecamatan di Kabupaten Probolinggo atau sebanyak 700 lembaga negeri diminta untuk berkontribusi terhadap pemberantasan buta aksara. Bila masing-masing lembaga menanggung 1 kelompok belajar, dipastikan ada 7.000 orang buta aksara yang terentas. (maz/drs)



COMMENTS