Penulis Dimaz Bromo FM Minggu 16/08/2015 KRAKSAAN - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) membuat seba...
Penulis Dimaz Bromo FM
Minggu 16/08/2015
KRAKSAAN - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) membuat sebagian besar pemilik home industri di Kabupaten Probolinggo kelimpungan. Home industri ataupun UKM saat ini tidak mampu berbuat banyak karena selama beberapa bulan ini terkendala melemahnya ekonomi. Sedangkan komoditas pendukung bahan-bahan harganya terus merangkak naik.
Seperti home industri kaca grafier di Desa Asembagus Kecamatan Kraksaan yang selama 4 bulan terakhir ini mulai sepi peminatnya dan tidak produksi lagi. Bahkan saat ini akan gulung tikar. Padahal pemasarannya cukup luas hingga di daerah Bali, Jember, dan Pasuruan.
Umar (30) pemilik home industri kaca grafier mengaku, kalau usaha yang ia kelola dalam 4 bulan ini sudah sepi dan tidak produksi. Tidak hanya itu, puluhan karyawannya pun distop untuk kerja. Oleh karenanya dia memastikan usahanya akan gulung tikar.
“Kalau kondisi rupiah tetap melemah seperti ini, maka usaha saya ini pastinya akan gulung tikar. Mau kerja bagaimana, peminatnya sepi. Harga bahan-bahan terus naik. Dan ini tidak terjadi pada saya saja, melainkan hampir semua home industri di Kabupaten Probolinggo,” ujarnya.
Dikatakan Umar, ekonomi saat ini memang sangat sulit. Di kalangan industri terjadi stagnasi, banyak industri yang tidak mampu menjual produk mereka sehingga terjadi penumpukan hasil produksi.
“Kondisi ini sangat berat, apalagi bagi industri yang bahan bakunya mengandalkan impor dan menjualnya di dalam negeri. Sudah dipastikan akan rugi. Apalagi sekarang ini daya beli masyarakat turun,” jelasnya.
Umar berharap, pemerintah mempertahankan kondisi ekonomi supaya tidak semakin memburuk. Selain itu mampu meningkatkan daya beli, sehingga perputaran uang di masyarakat semakin besar. (maz/drs)
Seperti home industri kaca grafier di Desa Asembagus Kecamatan Kraksaan yang selama 4 bulan terakhir ini mulai sepi peminatnya dan tidak produksi lagi. Bahkan saat ini akan gulung tikar. Padahal pemasarannya cukup luas hingga di daerah Bali, Jember, dan Pasuruan.
Umar (30) pemilik home industri kaca grafier mengaku, kalau usaha yang ia kelola dalam 4 bulan ini sudah sepi dan tidak produksi. Tidak hanya itu, puluhan karyawannya pun distop untuk kerja. Oleh karenanya dia memastikan usahanya akan gulung tikar.
“Kalau kondisi rupiah tetap melemah seperti ini, maka usaha saya ini pastinya akan gulung tikar. Mau kerja bagaimana, peminatnya sepi. Harga bahan-bahan terus naik. Dan ini tidak terjadi pada saya saja, melainkan hampir semua home industri di Kabupaten Probolinggo,” ujarnya.
Dikatakan Umar, ekonomi saat ini memang sangat sulit. Di kalangan industri terjadi stagnasi, banyak industri yang tidak mampu menjual produk mereka sehingga terjadi penumpukan hasil produksi.
“Kondisi ini sangat berat, apalagi bagi industri yang bahan bakunya mengandalkan impor dan menjualnya di dalam negeri. Sudah dipastikan akan rugi. Apalagi sekarang ini daya beli masyarakat turun,” jelasnya.
Umar berharap, pemerintah mempertahankan kondisi ekonomi supaya tidak semakin memburuk. Selain itu mampu meningkatkan daya beli, sehingga perputaran uang di masyarakat semakin besar. (maz/drs)


COMMENTS