Penulis Dimaz Bromo FM Selasa 18/08/2015 KRAKSAAN - Upacara bendera memperingati detik-detik proklamasi di Alun-alun Kota Kraksaan...
Penulis Dimaz Bromo FM
Selasa 18/08/2015
KRAKSAAN - Upacara bendera memperingati detik-detik proklamasi di Alun-alun Kota Kraksaan, Senin (17/8) pagi diwarnai pingsannya sejumlah siswa. Walau masih pagi, sinar matahari sudah terasa menyengat. Sampai ada 30-an siswa jatuh pingsan karena tidak kuasa menahan terik matahari.
Upacara pagi itu dihadiri langsung Bupati Probolinggo Hj P Tantriana Sari, SE. Selain para pejabat Pemkab Probolinggo, jajaran Forkopimda, TNI/Polri, juga ada kalangan pelajar yang mengikuti upacara memperingati HUT ke-70 Kemerdekaan RI tersebut.
Untuk upacara itu, barisan peserta sudah disiapkan sejak pukul 09.00. Barisan upacara baru bubar pukul 10.30. Sebelum upacara berakhir, ada sampai 30 pelajar yang jatuh pingsan. Tidak hanya pelajar putri yang pingsan, tapi juga pelajar putra.
Mereka yang pingsan itu rata-rata tergabung di barisan sisi barat Alun-alun, menghadap arah utara dan timur. Sedangkan yang di sisi timur Alun-alun merupakan barisan personel Kodim 0820 Probolinggo dan Polres Probolinggo.
Para pelajar yang “bertumbangan” pingsan langsung ditangani tim medis. Mereka digotong ke tenda di sisi selatan Alun-alun. Minyak kayu putih dioleskan agar segera siuman. Setelah siuman, mereka diberi minum untuk memulihkan kebugaran tubuhnya. “Memang tiap ada upacara, selalu saja ada peserta pingsan,” ujar M. Dhafir, salah seorang petugas medis dari PMI Kabupaten Probolinggo.
Menurutnya, peserta upacara bisa pingsan karena banyak faktor. Di antaranya terik matahari yang begitu menyengat. “Di sisi barat Alun-alun memang panas sekali,” katanya.
Apalagi tambah Dhafir, mereka berbaris sejak pukul 09.00 hingga 10.30. Bila kondisi tidak fit betul, mudah jatuh pingsan. Misalnya, bila perut dalam kondisi kosong saat upacara. Tubuh lemas, ditambah sengatan matahari, membuat seseorang mudah pingsan.
Hal itu pula yang terjadi pada Siti Nur Wahidah, murid salah satu SMK di Kraksaan. Ia termasuk yang pingsan dalam upacara tersebut, karena berangkat dalam kondisi perut kosong. “Tadi waktu berangkat tidak sarapan. Tapi diminta ikut upacara oleh Pak Guru. Cuacanya panas, saya tidak kuat,” katanya lirih dengan tubuh masih terbaring di tenda tim medis. (maz/drs)
Upacara pagi itu dihadiri langsung Bupati Probolinggo Hj P Tantriana Sari, SE. Selain para pejabat Pemkab Probolinggo, jajaran Forkopimda, TNI/Polri, juga ada kalangan pelajar yang mengikuti upacara memperingati HUT ke-70 Kemerdekaan RI tersebut.
Untuk upacara itu, barisan peserta sudah disiapkan sejak pukul 09.00. Barisan upacara baru bubar pukul 10.30. Sebelum upacara berakhir, ada sampai 30 pelajar yang jatuh pingsan. Tidak hanya pelajar putri yang pingsan, tapi juga pelajar putra.
Mereka yang pingsan itu rata-rata tergabung di barisan sisi barat Alun-alun, menghadap arah utara dan timur. Sedangkan yang di sisi timur Alun-alun merupakan barisan personel Kodim 0820 Probolinggo dan Polres Probolinggo.
Para pelajar yang “bertumbangan” pingsan langsung ditangani tim medis. Mereka digotong ke tenda di sisi selatan Alun-alun. Minyak kayu putih dioleskan agar segera siuman. Setelah siuman, mereka diberi minum untuk memulihkan kebugaran tubuhnya. “Memang tiap ada upacara, selalu saja ada peserta pingsan,” ujar M. Dhafir, salah seorang petugas medis dari PMI Kabupaten Probolinggo.
Menurutnya, peserta upacara bisa pingsan karena banyak faktor. Di antaranya terik matahari yang begitu menyengat. “Di sisi barat Alun-alun memang panas sekali,” katanya.
Apalagi tambah Dhafir, mereka berbaris sejak pukul 09.00 hingga 10.30. Bila kondisi tidak fit betul, mudah jatuh pingsan. Misalnya, bila perut dalam kondisi kosong saat upacara. Tubuh lemas, ditambah sengatan matahari, membuat seseorang mudah pingsan.
Hal itu pula yang terjadi pada Siti Nur Wahidah, murid salah satu SMK di Kraksaan. Ia termasuk yang pingsan dalam upacara tersebut, karena berangkat dalam kondisi perut kosong. “Tadi waktu berangkat tidak sarapan. Tapi diminta ikut upacara oleh Pak Guru. Cuacanya panas, saya tidak kuat,” katanya lirih dengan tubuh masih terbaring di tenda tim medis. (maz/drs)



COMMENTS