Penulis Wawan Bromo FM Minggu 16/08/2015 KRAKSAAN – Masalah tembakau kuncinya terletak pada harga. Kalau harganya bagus, maka peta...
Penulis Wawan Bromo FM
Minggu 16/08/2015
KRAKSAAN – Masalah tembakau kuncinya terletak pada harga. Kalau harganya bagus, maka petani akan merasa senang. Begitu juga sebaliknya jika harganya kurang bagus. Harga sendiri ditentukan oleh produksi dan kualitas tembakau.
Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan (Disbunhut) Kabupaten Probolinggo Raharjo menyikapi keluhan hama dan penyakit yang menyerang tanaman tembakau masyarakat. Meskipun diakuinya, serangan tersebut hanya merusak beberapa tanaman saja.
“Kalau produksinya banyak, maka pabrikan tentu akan membeli sedikit. Walaupun kualitasnya bagus, maka harganya akan murah. Demikian pula sebaliknya, jika produksinya sedikit, maka pabrikan akan membeli banyak dengan harga yang mahal,” ungkapnya.
Menurut Raharjo, disinilah peran dari pemerintah bagaimana petani selaku produsen memperoleh harga yang layak dan pabrikan selaku konsumen memperoleh bahan baku yang berkualitas. “Untuk mewujudkan hal tersebut kuncinya terletak pada areal. Setelah koordinasi untuk areal tanam tembakau kami dijatah seluas 10.774 hektar sesuai dengan kebutuhan pabrikan dan ditanam di 7 kecamatan yang potensi tembakau,” jelasnya.
Pengaturan areal itu harus didukung dengan tanam yang tepat yakni mulai 25 Mei hingga akhir Juli. “Yang menjadi persoalan, petani baru tanam diluar waktu tanam yang ditentukan. Sehingga begitu gudang tutup, petani baru panen. Dengan demikian, gudang tidak akan membeli tembakau yang dihasilkan petani,” terangnya.
Selain produksi, harga tembakau ditentukan oleh kualitas. Dimana kualitas sendiri ditentukan mulai dari budidaya pemilihan benih, pemupukan yang berimbang, pengendalian hama dan penyakit hingga penanganan pasca panen. (wan/drs)
Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan (Disbunhut) Kabupaten Probolinggo Raharjo menyikapi keluhan hama dan penyakit yang menyerang tanaman tembakau masyarakat. Meskipun diakuinya, serangan tersebut hanya merusak beberapa tanaman saja.
“Kalau produksinya banyak, maka pabrikan tentu akan membeli sedikit. Walaupun kualitasnya bagus, maka harganya akan murah. Demikian pula sebaliknya, jika produksinya sedikit, maka pabrikan akan membeli banyak dengan harga yang mahal,” ungkapnya.
Menurut Raharjo, disinilah peran dari pemerintah bagaimana petani selaku produsen memperoleh harga yang layak dan pabrikan selaku konsumen memperoleh bahan baku yang berkualitas. “Untuk mewujudkan hal tersebut kuncinya terletak pada areal. Setelah koordinasi untuk areal tanam tembakau kami dijatah seluas 10.774 hektar sesuai dengan kebutuhan pabrikan dan ditanam di 7 kecamatan yang potensi tembakau,” jelasnya.
Pengaturan areal itu harus didukung dengan tanam yang tepat yakni mulai 25 Mei hingga akhir Juli. “Yang menjadi persoalan, petani baru tanam diluar waktu tanam yang ditentukan. Sehingga begitu gudang tutup, petani baru panen. Dengan demikian, gudang tidak akan membeli tembakau yang dihasilkan petani,” terangnya.
Selain produksi, harga tembakau ditentukan oleh kualitas. Dimana kualitas sendiri ditentukan mulai dari budidaya pemilihan benih, pemupukan yang berimbang, pengendalian hama dan penyakit hingga penanganan pasca panen. (wan/drs)


COMMENTS