Penulis Dimaz Bromo FM Senin 24/08/2015 GADING - Sebuah bendungan bekas kolonial Belanda di Desa Condong Kecamatan Gading menjadi a...
Penulis Dimaz Bromo FM
Senin 24/08/2015
GADING - Sebuah bendungan bekas kolonial Belanda di Desa Condong Kecamatan Gading menjadi andalan petani dalam mengatasi bencana kekeringan kemarau panjang. Meski sempat menyusut, namun bendungan legendaris ini tetap mampu mengairi areal sawah pertanian seluas enam ribu hektar lebih.
Bendungan Dam Pekalen atau dalam bahasa sekitar terkenal dengan istilah Dam Wolu sangat membantu para petani terlebih saat musim kemarau panjang untuk bisa mengairi sawahnya.
Disebut Dam Wolu, karena lubang kolong atau intake air bendungan ini berjumlah delapan. Bangunan ini merupakan peninggalan zaman kolonial Belanda yang dibangun sejak tahun 1880.
Meski sempat menyusut saat memasuki musim kemarau panjang, namun tidak mengurangi kemampuannya dalam mengairi lahan pertanian. Sekitar 6400 hektar areal sawah di enam kecamatan mulai dari Maron, Banyuanyar, Tegalsiwalan, Gending, Pajarakan dan Krejengan mampu diatasi dengan stabil.
Jika musim penghujan, debet air bendungan ini mencapai 12000 liter per detik, dengan intake air mencapai 8500 liter. Namun sejak kemarau debet turun jadi 6000 liter, dengan intake hanya 4.500 liter per detik.
Siasati turunnya debit air di musim kemarau, petugas jaga bendungan ini berlakukan sistem glondongan. Yakni pembagian air berdasarkan desa dan luas area tanam. Dengan begitu air akan merata terbagi di semua lahan pertanian.
Sukarli, petugas jaga Dam Pekalen mengatakan, bendungan ini dibuat Hindia Belanda tahun 1880. Aliran air meliputi dua pengamat seluas 6400 hektar, debet musim hujan primer 8400. “Selebihnya kita buang, sekarang debet 4500. Kalau semacam ini cukup untuk mengairi sawah pertanian masyarakat,” ungkapnya.
Sementara Kepala Dinas PU Pengairan Kabupaten Probolinggo Donny Adianto mengatakan dalam rangka pelestarian daerah resapan, harus kerja sama dengan Dinas Perkebunan dan Kehutanan serta Badan Lingkungan Hidup.
“Harus ada penanaman lahan kritis seperti sengon dan gamelina. Ini sangat mendukung sumber air di Pekalen. Dalam rangka menjaga andalan air Pekalen ini, tentunya menjadi tanggung kawab kami sehingga air tidak langsung terjun ke laut. Agar saluran primer bisa masuk ke saluran petani,” katanya. (maz/drs)
Bendungan Dam Pekalen atau dalam bahasa sekitar terkenal dengan istilah Dam Wolu sangat membantu para petani terlebih saat musim kemarau panjang untuk bisa mengairi sawahnya.
Disebut Dam Wolu, karena lubang kolong atau intake air bendungan ini berjumlah delapan. Bangunan ini merupakan peninggalan zaman kolonial Belanda yang dibangun sejak tahun 1880.
Meski sempat menyusut saat memasuki musim kemarau panjang, namun tidak mengurangi kemampuannya dalam mengairi lahan pertanian. Sekitar 6400 hektar areal sawah di enam kecamatan mulai dari Maron, Banyuanyar, Tegalsiwalan, Gending, Pajarakan dan Krejengan mampu diatasi dengan stabil.
Jika musim penghujan, debet air bendungan ini mencapai 12000 liter per detik, dengan intake air mencapai 8500 liter. Namun sejak kemarau debet turun jadi 6000 liter, dengan intake hanya 4.500 liter per detik.
Siasati turunnya debit air di musim kemarau, petugas jaga bendungan ini berlakukan sistem glondongan. Yakni pembagian air berdasarkan desa dan luas area tanam. Dengan begitu air akan merata terbagi di semua lahan pertanian.
Sukarli, petugas jaga Dam Pekalen mengatakan, bendungan ini dibuat Hindia Belanda tahun 1880. Aliran air meliputi dua pengamat seluas 6400 hektar, debet musim hujan primer 8400. “Selebihnya kita buang, sekarang debet 4500. Kalau semacam ini cukup untuk mengairi sawah pertanian masyarakat,” ungkapnya.
Sementara Kepala Dinas PU Pengairan Kabupaten Probolinggo Donny Adianto mengatakan dalam rangka pelestarian daerah resapan, harus kerja sama dengan Dinas Perkebunan dan Kehutanan serta Badan Lingkungan Hidup.
“Harus ada penanaman lahan kritis seperti sengon dan gamelina. Ini sangat mendukung sumber air di Pekalen. Dalam rangka menjaga andalan air Pekalen ini, tentunya menjadi tanggung kawab kami sehingga air tidak langsung terjun ke laut. Agar saluran primer bisa masuk ke saluran petani,” katanya. (maz/drs)



COMMENTS