Penulis Wawan Bromo FM Selasa 18/08/2015 KRAKSAAN - Musim kemarau yang panjang tentu sangat merugikan bagi warga yang dilanda keke...
Penulis Wawan Bromo FM
Selasa 18/08/2015
KRAKSAAN - Musim kemarau yang panjang tentu sangat merugikan bagi warga yang dilanda kekeringan. Namun tidak demikian halnya bagi petani garam. Seperti yang dirasakan petani garam di Kabupaten Probolinggo. Mereka malah diuntungkan dengan kemarau panjang, sebab hasil produksi garam semakin melimpah dengan kualitas yang lebih baik.
Namun sayang, harga garam justru anjlok. Hal ini dipicu keengganan konsumen mengkonsumsi garam produksi petani, lantaran dianggap tidak lebih baik dari garam import, dengan harga yang lebih murah.
Awal Agustus 2015 ini, menjadi puncak produksi garam bagi sejumlah petani garam di Desa Kebonagung Kecamatan Kraksaan. Mereka seolah tidak merasakan dampak kekeringan dan kelangkaan air bersih yang melanda sebagian besar warga akibat musim kemarau yang berkepanjangan.
Bagi mereka, semakin panjang musim kemarau, maka semakin baik. Sebab dapat meningkatkan jumlah produksi dan kualitas garam. Jika musim kemarau berlangsung 6 bulan saja, petani bisa memproduksi antara 150 hingga 170 ton. Namun jika musim kemarau hanya 4 bulan, mereka akan merugi sebab hanya mampu memproduksi garam maksimal 70 ton per satu hektar lahan.
Suhariyanto , salah satu petani garam mengatakan musim kemarau panjang sejak April lalu, membuat kualitasnya pun lebih baik dibanding awal musim kemarau. Sehingga mereka berharap kemarau tahun ini berlangsung lama hingga bulan Nopember nanti.
“Saat ini kualitas garam para petani lebih bagus dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Selain menggunakan terpal pada dasar tambak, petani juga mengunakan filter irigasi serta penyimpanan sementara hasil panen di gudang kedap udara,” ungkapnya.
Sementara Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanla) Kabupaten Probolinggo Dedy Isfandi berjanji akan meningkatkan bantuan modal dan prasarana guna mendongkrak kualitas dan harga jual garam petani agar produksi garam lokal bisa bersaing dengan garam luar negeri.
“Produksi garam pada tahun lalu mencapai 25.000 ton dari target 12.500 ton dengan luas lahan sekitar 400 hektar. Jika kemarau terus berlangsung hingga Nopember, diperkirakan produksi garam dua kali lipat dari target sebesar 13.000 ton,” katanya. (wan/drs)
Namun sayang, harga garam justru anjlok. Hal ini dipicu keengganan konsumen mengkonsumsi garam produksi petani, lantaran dianggap tidak lebih baik dari garam import, dengan harga yang lebih murah.
Awal Agustus 2015 ini, menjadi puncak produksi garam bagi sejumlah petani garam di Desa Kebonagung Kecamatan Kraksaan. Mereka seolah tidak merasakan dampak kekeringan dan kelangkaan air bersih yang melanda sebagian besar warga akibat musim kemarau yang berkepanjangan.
Bagi mereka, semakin panjang musim kemarau, maka semakin baik. Sebab dapat meningkatkan jumlah produksi dan kualitas garam. Jika musim kemarau berlangsung 6 bulan saja, petani bisa memproduksi antara 150 hingga 170 ton. Namun jika musim kemarau hanya 4 bulan, mereka akan merugi sebab hanya mampu memproduksi garam maksimal 70 ton per satu hektar lahan.
Suhariyanto , salah satu petani garam mengatakan musim kemarau panjang sejak April lalu, membuat kualitasnya pun lebih baik dibanding awal musim kemarau. Sehingga mereka berharap kemarau tahun ini berlangsung lama hingga bulan Nopember nanti.
“Saat ini kualitas garam para petani lebih bagus dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Selain menggunakan terpal pada dasar tambak, petani juga mengunakan filter irigasi serta penyimpanan sementara hasil panen di gudang kedap udara,” ungkapnya.
Sementara Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanla) Kabupaten Probolinggo Dedy Isfandi berjanji akan meningkatkan bantuan modal dan prasarana guna mendongkrak kualitas dan harga jual garam petani agar produksi garam lokal bisa bersaing dengan garam luar negeri.
“Produksi garam pada tahun lalu mencapai 25.000 ton dari target 12.500 ton dengan luas lahan sekitar 400 hektar. Jika kemarau terus berlangsung hingga Nopember, diperkirakan produksi garam dua kali lipat dari target sebesar 13.000 ton,” katanya. (wan/drs)


COMMENTS