Penulis Dimaz Bromo FM Kamis 20/08/2015 GADING - Menghindari resiko gagal panen akibat kekeringan, sejumlah petani di Kabupaten Pro...
Penulis Dimaz Bromo FM
Kamis 20/08/2015
GADING - Menghindari resiko gagal panen akibat kekeringan, sejumlah petani di Kabupaten Probolinggo memilih mengembangkan tanaman kacang hijau. Selain tanaman tersebut hemat air, harga jualnya pun tinggi. Alhasil mereka meraup untung besar pada musim kemarau panjang ini.
Seperti yang dilakukan Siti Romlah (22) warga Desa Condong Kecamatan Gading. Ia mengaku sengaja menanam kacang hijau di lahan sawah tadah hujan miliknya. Hal itu dilakukan dengan kondisi tanah yang kurang air dan mengalami kekeringan di musim kemarau. Jelas tidak memungkinkan untuk menanam padi lagi, karena dipastikan akan mati. “Saya memilih tanaman yang hemat air, untuk menghindari resiko gagal panen akibat kurang air,” ujarnya.
Pilihan wanita muda ini bukannya tanpa alasan. Hasil panen kacang hijau sangat memuaskan. Dari satu hektare lahan miliknya, hasil panennya bisa mencapai 1,9 ton. Dengan harga jual yang berkisar antara Rp 14.500 hingga Rp 15.000 per kilogram, ia bisa menadapatkan keuntungan Rp 27,55 juta. Keuntungan hingga puluhan juta rupiah itu didapat dalam tiga kali panen kacang hijau.
Di Kabupaten Probolinggo, setidaknya terdapat sekitar 2.000 lahan pertanian tadah hujan. Lahan tersebut tersebar di beberapa kecamatan, seperti Kecamatan Gading. Lahan tersebut sangat potensial dan cocok ditanami kacang hijau.
Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Probolinggo Mahbub Zunaidi mengatakan, pihaknya melalui penyuluh pertanian sudah mengedukasi petani dalam menghadapi musim kemarau. Petani diminta agar tidak memaksakan menanam tanaman yang membutuhkan air banyak. Tapi disarankan memilih tanaman hemat air, semisal kacang hijau.
“Petani sebenarnya sudah pintar. Mereka sudah dapat memilih mana tanaman yang dapat ditanam di lahan pertaniannya dan menguntungkan. Mereka mengandalkan pasokan air dari sungai setempat dengan pompanisasi,” katanya.
Kacang hijau dari petani dijual ke pedagang untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal Kabupaten Probolinggo. Selain itu juga dikirim ke Surabaya dan beberapa daerah di Jawa Timur. (maz/drs)
Seperti yang dilakukan Siti Romlah (22) warga Desa Condong Kecamatan Gading. Ia mengaku sengaja menanam kacang hijau di lahan sawah tadah hujan miliknya. Hal itu dilakukan dengan kondisi tanah yang kurang air dan mengalami kekeringan di musim kemarau. Jelas tidak memungkinkan untuk menanam padi lagi, karena dipastikan akan mati. “Saya memilih tanaman yang hemat air, untuk menghindari resiko gagal panen akibat kurang air,” ujarnya.
Pilihan wanita muda ini bukannya tanpa alasan. Hasil panen kacang hijau sangat memuaskan. Dari satu hektare lahan miliknya, hasil panennya bisa mencapai 1,9 ton. Dengan harga jual yang berkisar antara Rp 14.500 hingga Rp 15.000 per kilogram, ia bisa menadapatkan keuntungan Rp 27,55 juta. Keuntungan hingga puluhan juta rupiah itu didapat dalam tiga kali panen kacang hijau.
Di Kabupaten Probolinggo, setidaknya terdapat sekitar 2.000 lahan pertanian tadah hujan. Lahan tersebut tersebar di beberapa kecamatan, seperti Kecamatan Gading. Lahan tersebut sangat potensial dan cocok ditanami kacang hijau.
Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Probolinggo Mahbub Zunaidi mengatakan, pihaknya melalui penyuluh pertanian sudah mengedukasi petani dalam menghadapi musim kemarau. Petani diminta agar tidak memaksakan menanam tanaman yang membutuhkan air banyak. Tapi disarankan memilih tanaman hemat air, semisal kacang hijau.
“Petani sebenarnya sudah pintar. Mereka sudah dapat memilih mana tanaman yang dapat ditanam di lahan pertaniannya dan menguntungkan. Mereka mengandalkan pasokan air dari sungai setempat dengan pompanisasi,” katanya.
Kacang hijau dari petani dijual ke pedagang untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal Kabupaten Probolinggo. Selain itu juga dikirim ke Surabaya dan beberapa daerah di Jawa Timur. (maz/drs)



COMMENTS