Penulis Wawan Bromo FM Senin 17/08/2015 SUMBERASIH - Kesuksesan para pembudidaya ikan lele faktor paling utama adalah ketersediaan...
Penulis Wawan Bromo FM
Senin 17/08/2015
SUMBERASIH - Kesuksesan para pembudidaya ikan lele faktor paling utama adalah ketersediaan pakan. Rata-rata pakan yang dipakai para petani ikan adalah pakan dari pabrik yang harganya mahal, sehingga pendapatan sekali panen sedikit. Untuk meningkatan pendapatan anggota, Kelompok Budidaya Ikan Lele Predator Desa Banjarsari Kecamatan Sumberasih membuat terobosan membuat pakan sendiri secara tradisional.
Saat ini seluruh anggota Kelompok Budidaya Ikan Lele Predator menggunakan pakan 100% buatan sendiri. Terbukti, upaya ini mampu meningkatkan keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan menggunakan pakan pabrik.
“Budidaya ikan lele memang sangat dibutuhkan pakan yang cukup banyak. Tetapi jika tergantung dengan pakan buatan pabrik yang harganya sudah pasti mahal, keuntungan yang di peroleh petani tidak akan maksimal. Membuat pakan sendiri adalah solusi terbaik untuk mengurangi ketergantungan kepada pakan pabrik,” ungkap Ketua Kelompok Budidaya Ikan Lele Predator Wahyudiono.
Menurut Wahyu, pakan buatan sendiri mampu menekan biaya pemeliharaan hingga 50%. Pakan ini dibuat dari bahan-bahan yang mudah didapat di lingkungan sekitar antara lain ikan laut bernilai ekonomi rendah, katul padi, tepung singkong, kulit kacang, minyak ikan dan tepung rajungan.
“Dalam sehari, biasanya kami mampu membuat 2 kwintal pakan. Bahan yang dibutuhkan adalah campuran semua bahan sebanyak 1 kwintal dan ikan laut 70 kg. Semua bahan tersebut kemudian dihancurkan dan diaduk menggunakan mesin. Sebelum dicetak, semua bahan inin harus difermentasi selama semalam. Hingga besok harinya langsung dicetak,” jelasnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Sekretaris Kelompok Budidaya Ikan Lele Predator Kholil. Menurutnya, pembuatan 2 kwintal pakan hanya menelan biaya Rp 1.000.000. Biaya tersebut jauh lebih hemat dibandingkan dengan membeli pakan pabrik yang harganya mencapai Rp 272 ribu per 30 kg. Sebab pakan tradisional biasanya dijual seharga Rp 180 ribu per 30 kg. “Dengan pemakaian pakan buatan sendiri, maka biaya budidaya bisa lebih rendah dan hasilnya cukup lumayan jika dibandingkan dengan menggunakan pakan pabrik,” ujarnya.
Lelaki yang awalnya hanya bekerja sebagai nelayan ini mengaku selain untuk memenuhi kebutuhan kelompok, pakan buatannya terkadang juga dibeli oleh pembudidaya dari daerah lain. “Satu yang saat ini sedang kami cari solusinya bagaimana meminimalisir agar sisa pakan tidak terlalu kasar sehingga tidak banyak ampas yang terbuang,” jelasnya.
Menurut Kholil, pembuatan pakan lele ini awalnya untuk pakan sendiri seiring dengan mahalnya pakan pabrik. Tetapi setiap saat, seluruh anggota kelompok saling tukar informasi sekaligus sharing agar produk pakan buatannya bisa lebih bagus.
“Budidaya lele dan pembuatan pakan sendiri ini awalnya hanya sekesar coba-coba. Tetapi melihat prospeknya yang bagus, usaha sampingan ini akhirnya menjadi usaha pokok. Bahkan ada salah satu anggota kelompok yang menjual sapinya dan dibuat modal melakukan budidaya lele,” tegasnya.
Sementara Kasi Budidaya dan Produksi Perikanan Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanla) Kabupaten Probolinggo Asmiyati Kurnianingsih mengungkapkan bahwa usaha ini merupakan momentum yang sangat tepat sekali. Sebab pembuatan pakan sendiri ini sejalan dengan program pemerintah pusat berupa Gerakan Pakan Ikan Mandiri.
“Jika dilihat dari analisanya, usaha ini sangat menjanjikan. Dulu hanya usaha sampingan, tetapi sekarang bisa menjadi usaha pokok. Yang jelas kami sangat mendukung upaya pembuatan pakan sendiri demi meningkatkan pendapatan kelompok,” ungkapnya. (wan/drs)
Saat ini seluruh anggota Kelompok Budidaya Ikan Lele Predator menggunakan pakan 100% buatan sendiri. Terbukti, upaya ini mampu meningkatkan keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan menggunakan pakan pabrik.
“Budidaya ikan lele memang sangat dibutuhkan pakan yang cukup banyak. Tetapi jika tergantung dengan pakan buatan pabrik yang harganya sudah pasti mahal, keuntungan yang di peroleh petani tidak akan maksimal. Membuat pakan sendiri adalah solusi terbaik untuk mengurangi ketergantungan kepada pakan pabrik,” ungkap Ketua Kelompok Budidaya Ikan Lele Predator Wahyudiono.
Menurut Wahyu, pakan buatan sendiri mampu menekan biaya pemeliharaan hingga 50%. Pakan ini dibuat dari bahan-bahan yang mudah didapat di lingkungan sekitar antara lain ikan laut bernilai ekonomi rendah, katul padi, tepung singkong, kulit kacang, minyak ikan dan tepung rajungan.
“Dalam sehari, biasanya kami mampu membuat 2 kwintal pakan. Bahan yang dibutuhkan adalah campuran semua bahan sebanyak 1 kwintal dan ikan laut 70 kg. Semua bahan tersebut kemudian dihancurkan dan diaduk menggunakan mesin. Sebelum dicetak, semua bahan inin harus difermentasi selama semalam. Hingga besok harinya langsung dicetak,” jelasnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Sekretaris Kelompok Budidaya Ikan Lele Predator Kholil. Menurutnya, pembuatan 2 kwintal pakan hanya menelan biaya Rp 1.000.000. Biaya tersebut jauh lebih hemat dibandingkan dengan membeli pakan pabrik yang harganya mencapai Rp 272 ribu per 30 kg. Sebab pakan tradisional biasanya dijual seharga Rp 180 ribu per 30 kg. “Dengan pemakaian pakan buatan sendiri, maka biaya budidaya bisa lebih rendah dan hasilnya cukup lumayan jika dibandingkan dengan menggunakan pakan pabrik,” ujarnya.
Lelaki yang awalnya hanya bekerja sebagai nelayan ini mengaku selain untuk memenuhi kebutuhan kelompok, pakan buatannya terkadang juga dibeli oleh pembudidaya dari daerah lain. “Satu yang saat ini sedang kami cari solusinya bagaimana meminimalisir agar sisa pakan tidak terlalu kasar sehingga tidak banyak ampas yang terbuang,” jelasnya.
Menurut Kholil, pembuatan pakan lele ini awalnya untuk pakan sendiri seiring dengan mahalnya pakan pabrik. Tetapi setiap saat, seluruh anggota kelompok saling tukar informasi sekaligus sharing agar produk pakan buatannya bisa lebih bagus.
“Budidaya lele dan pembuatan pakan sendiri ini awalnya hanya sekesar coba-coba. Tetapi melihat prospeknya yang bagus, usaha sampingan ini akhirnya menjadi usaha pokok. Bahkan ada salah satu anggota kelompok yang menjual sapinya dan dibuat modal melakukan budidaya lele,” tegasnya.
Sementara Kasi Budidaya dan Produksi Perikanan Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanla) Kabupaten Probolinggo Asmiyati Kurnianingsih mengungkapkan bahwa usaha ini merupakan momentum yang sangat tepat sekali. Sebab pembuatan pakan sendiri ini sejalan dengan program pemerintah pusat berupa Gerakan Pakan Ikan Mandiri.
“Jika dilihat dari analisanya, usaha ini sangat menjanjikan. Dulu hanya usaha sampingan, tetapi sekarang bisa menjadi usaha pokok. Yang jelas kami sangat mendukung upaya pembuatan pakan sendiri demi meningkatkan pendapatan kelompok,” ungkapnya. (wan/drs)



COMMENTS