Penulis Dimaz Bromo FM Jumat 21/08/2015 KRAKSAAN-Kendati hujan mulai turun, namun droping air bersih ke warga masih terus dilakukan. ...
Penulis Dimaz Bromo FM
Jumat 21/08/2015
KRAKSAAN-Kendati hujan mulai turun, namun droping air bersih ke warga masih terus dilakukan. Bahkan, droping air tersebut dilakukan hingga akhir Oktober mendatang. Hal itu disampaikan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo Dwijoko Nurjayadi. “Hujannya kan dua hari, jadi tetap kami lakukan droping air,” ujarnya.Dwijoko melanjutkan, droping air itu dilalukan ke 40 desa di 11 kecamatan yang masuk status darurat bencana kekeringan. Kecamatan Tongas menempati ranking teratas, dengan 9 desa yang kekeringan. Selanjutnya Kecamatan Sukapura dan Lumbang masing-masing enam desa. Di bawahnya diikuti Kecamatan Wonomerto dengan 5 desa dan Kecamatan Tegalsiwalan dengan 4 desa.
Selain kecamatan di atas, kecamatan lain yang desanya mengalami kekeringan diantaranya, Kecamatan Kuripan, Sumber, Bantaran, Leces, Banyuanyar, Krucil dan Sumberasih.
Mantan Camat Dringu ini mengatakan penanganan bencana kekeringan saat ini dilakukan dengan menyuplai atau mendistribusikan air bersih ke desa-desa terdampak kekeringan. Setiap harinya BPBD mendistribusikan air bersih ke enam desa, sesuai dengan jumlah armada yang dimiliki. “Berputar dan bergantian. Kapasitas tangki kendaraan yang kami miliki 6 ribu liter,” katanya.
Droping air tersebut diperkirakan akan terus dilakukan hingga Oktober mendatang. Hal itu bukannya tanpa alasan, sebab kekeringan tahun ini diperkirakan lebih lama dibanding tahun lalu. Ini karena musim kemarau sebagai dampak badai El Nino.
Menurutnya, El Nino adalah peningkatan kelembaban udara di Samudera Pacifik. Dampaknya juga dirasakan di Probolinggo, tingkat panasnya tinggi dan menyebabkan penyerapan airnya bertambah.
Lebih lanjut Dwijoko mengaku dana untuk droping air ini menggunakan dana Tak Terduga atau TT dengan menelan biaya hingga Rp 360 juta. “Kami menggunakan dana TT senilai Rp 360 juta, sudah bisa digunakan,” ujarnya.
Dibanding tahun lalu, sebaran daerah yang mengalami bencana kekeringan tahun ini berkurang. Pada tahun 2014, ada 43 desa di Kabupaten Probolinggo yang mengalami kekeringan. Sedangkan tahun ini berkurang menjadi 40 desa.
Tiga desa yang kini sudah tidak mengalami kekeringan itu menurut Dwijoko sudah mendapat proyek pengadaan air bersih. “Ya proyek dari instansi terkait. Seperti dari PDAM atau Dinas Pekerjaan Umum (DPU),” pungkasnya. (maz/drs)


COMMENTS