Penulis Dimaz Bromo FM Sabtu 29/08/2015 DRINGU - Ada saja jalan agar bisa menunaikan rukun Islam yang kelima pergi haji. Salah satuny...
Penulis Dimaz Bromo FM
Sabtu 29/08/2015
DRINGU - Ada saja jalan agar bisa menunaikan rukun Islam yang kelima pergi haji. Salah satunya seperti yang dilakukan pasangan suami istri (pasutri) Rohmad Junaedi dan Endah Yuliati ini. Demi haji, mereka memilih menjual mobil pribadinya. Rohmad merupakan salah seorang PNS Kabupaten Probolinggo yang saat ini dinas di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Sebagai abdi masyarakat, lengkap rasanya untuk menunaikan rukun Islam yang ke lima ini. Terlebih, pada Selasa (25/8), Bupati Probolinggo Hj P Tantriana Sari, SE dan suaminya yang juga anggota Komisi VIII DPR RI Drs. H Hasan Aminudin, M.Si mengunjunginya di kediamannya.
Rohmad mengungkapkan, keberangkatannya menunaikan ibadah haji tahun ini juga karena bantuan H Hasan Aminuddin yang merupakan mantan bupati Probolinggo dua periode. “Sebenarnya juga berkat bantuan dari Pak Hasan,” ujarnya.
Didampingi istrinya, Rohmad bercerita bahwa untuk menunaikan ibadah haji ini, dirinya menabung khusus sejak tahun 2007. Tabungan pertamanya Rp 200 ribu. Dengan uang tersebut, cukup untuk membuka dua rekening tabungan haji.
Sebelum memutuskan menabung untuk haji, Endah mengaku sempat menangis ketika membantu memasukkan bawang bawaan tetangganya yang kala itu naik haji. “Nangis saya mas. Kapan ya saya bisa naik haji. Sejak itu saya mulai menabung,” jelasnya.
Tabungan haji yang dilakukan pasutri ini cukup Rp 100 ribu per bulan. Selama dua tahun tabungan haji itu rutin dilakukan oleh Endah. Namun, Endah tak tahan dengan lamanya menunggu uang tabungannya terkumpul cukup untuk pergi haji.
Karena itu, Endah kemudian ngebet minta kepada suaminya untuk menjual mobil pribadinya. Rohmad pun memutuskan menjual mobil Panther tahun 1996 yang kala itu laku Rp 55 juta. Dengan uang tersebut, Rohmad dan Endah mendapat porsi haji.
Namun, sebelum mobil pribadi itu dijual, Rohmad yang selama 20 tahun bertugas di Dinkes, dimutasi ke Bagian Pengelolaan dan Pengadaan. Waktu itu kepala bagiannya adalah Ulfiningtyas. “Saya 20 tahun di Dinkes, tapi kenapa kok dipindah. Ternyata, hikmah dari mutasi itu luar biasa,” ucapnya.
Sebab, setelah dimutasi, atas persetujuan Bupati Probolinggo, Rohmad mendapatkan izin untuk membawa mobil operasional ke rumahnya. “Karena sudah ada mobil operasional, akhirnya kami jual mobil pribadi untuk naik haji. Tentu, sebelum mobil kami jual, sudah sering cerita ke Bu Ulfi,” katanya.
Setelah mobil pribadi dijual, Rohmad terbantu oleh mobil dinas operasional yang diperbolehkan dibawah pulang. Mobil yang dipakai itu jenis pikap. Konon, mobil itu diperkenankan dibawa pulang, lantaran tidak terpakai.
Mobil yang dijual itu benar-benar sangat membantu Rohmad dan Endah untuk menunaikan ibadah haji. Sebab, selain mobil pribadinya itu, tidak ada lagi yang bisa diandalkan untuk menutup biaya haji.
“Ada kata-kata yang tidak terlupakan dari Bu Ulfi soal mobil. Dia bilang, kalau mobil ada tokonya. Kalau kesempatan haji, tidak ada yang tahu. Makanya saran itu akhirnya kami lakukan,” pungkasnya. (maz/drs)


COMMENTS