Penulis Wawan Bromo FM Jum'at 07/08/2015 TIRIS - Bupati Probolinggo Hj. P. Tantriana Sari, SE, Rabu (5/8) berkunjung ke Desa And...
Penulis Wawan Bromo FM
Jum'at 07/08/2015
TIRIS - Bupati Probolinggo Hj. P. Tantriana Sari, SE, Rabu (5/8) berkunjung ke Desa Andungsari dan Andungbiru Kecamatan Tiris. Di Desa Andungbiru, Bupati Tantri melakukan panen petik merah kopi. Sementara di Desa Andungsari, Bupati beramah tamah dengan petani asal Kecamatan Tiris, Krucil, Sukapura dan Sumber.Kegiatan petik merah kopi dilakukan langsung di ladang milik petani. Kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi kepada petani asal empat kecamatan tersebut. Tidak hanya itu, dalam kesempatan tersebut, Bupati Tantri juga menyempatkan diri mengunjungi stan produk olahan asli Desa Andungsari dilanjutkan dengan aksi tari tiup dari SDN Andungsari Kecamatan Tiris.
Dalam sambutannya Bupati Tantri mengungkapkan bahwa Kabupaten Probolinggo merupakan penghasil kopi terbaik di Jawa Timur. Pengolahan kopi yang baik sebelum dijual bisa menjadikan produk kopi semakin berkualitas. “Apalagi kalau pengolahannya baik, pasti hasilnya akan berkualitas. Harga tentu akan terkerek naik. Pembeli akan mencari produk dengan kualitas terbaik,” ungkapnya.
Empat kecamatan yang petaninya diundang kemarin merupakan kecamatan penghasil biji kopi berkualitas. Yakni kopi jenis Arabika dan Robusta. “Yang jelas kopi Arabika dan Robusta pemasarannya sudah ke mana-mana. Bahkan sampai hingga ke luar negeri,” jelasnya.
Pada petik merah kopi tersebut, Bupati Tantri juga mengundang eksportir kopi, PT Indokom Persada. “Kami minta eksportir untuk membina petani agar kualitas produk yang dihasilkan semakin tinggi. Hal ini akan sangat membantu kesejahteraan petani kopi Probolinggo,” pintanya.
Menurut Bupati Tantri, kopi saat ini berkembang menjadi minuman favorit yang sedang tren. Penikmat kopi bukan hanya berasal dari kalangan tua, tapi juga dari para remaja. Hal ini yang menyebabkan harganya pun cukup tinggi.
“Kalau di Tiris harga secangkir kopi Rp 2.000, di Surabaya secangkir kopi bisa Rp 50 ribu, bahkan Rp 150 ribu per cangkir. Ini membuktikan bahwa potensi ekonomi dari penanaman kopi sangat terbuka lebar,” katanya.
Sementara Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan (Disbunhut) Kabupaten Probolinggo Raharjo mengatakan bahwa petik merah penting dilakukan agar menghasilkan kopi yang berkualitas. “Usahakan pada waktu pemetikan agar berhati-hati supaya tidak ada bagian yang rusak,” ungkapnya.
Menurut Raharjo, petik merah kopi ini sengaja digelar untuk bisa mengembangkan pengelolaan kopi yang baik. “Tidak hanya pengelolaan pada saat panen, tapi pasca panen juga bisa dikelola dengan baik. Ini demi meningkatkan kesejahteraan petani,” pungkasnya. (wan/drs)


COMMENTS