Penulis Wawan Bromo FM Minggu 19/07/2015 KRAKSAAN – Tahun 2013 lalu, angka Unmet Need di Kabupaten Probolinggo sebesar 12 %. Angka i...
Penulis Wawan Bromo FM
Minggu 19/07/2015
KRAKSAAN – Tahun 2013 lalu, angka Unmet Need di Kabupaten Probolinggo sebesar 12 %. Angka ini sangat tinggi jika dibandingkan dengan target Provinsi Jawa Timur yang hanya 6,5 % dan nasional 5 %. Sementara tahun 2014 kemarin, angkanya masih tinggi mencapai 5,7 %. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Probolinggo melalui Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) menargetkan agar angka Unmet Need terus turun setiap tahun.
“Unmet Need itu adalah pasangan suami istri (pasutri) usia subur yang ingin anak ditunda dan tidak ingin mempunyai anak lagi, tetapi mereka tidak memperoleh pelayanan KB. Hal ini dikarenakan ketidaktahuannya mau ikut apa dan harus bagaimana,” ungkap Kepala BPPKB Kabupaten Probolinggo dr. Endang Astuti melalui Kepala Bidang Keluarga Berencana dan Kesejahteraan Keluarga Imam Syafi'i.
Untuk menurunkan angka Unmet Need tersebut jelas mantan Lurah Patokan ini, para PLKB (Penyuluh Lapangan KB), PPKBD (Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa) dan Sub PPKBD melakukan pendampingan dan konseling.
“Jika sudah ada anak satu, maka harus didampingi oleh petugas KB dengan cara didatangi apa mau anak lagi atau tidak. Kemudian diberi pilihan mau ikut alat kontrasepsi apa. Dengan demikian, masyarakat akhirnya bisa terlayani dengan baik,” jelasnya.
Lelaki kelahiran Probolinggo, 6 Desember 1969 ini menerangkan bahwa selama ini kinerja petugas PLKB sudah sangat bagus dan selalu menyapa masyarakat melalui sosialisasi dan pembinaan. Hanya saja, kompetensi setiap petugas PLKB maupun PPKBD masih kurang maksimal.
“Untuk mengatasi hal tersebut, kami rutin memberikan sosialisasi terkait tugas dan program-program KB, memberikan pembinaan intern dan keluar, pemberian pelatihan dan yang tidak kalah pentingnya kita memberikan rangsangan dana untuk kegiatan petugas KB di lapangan,” pungkasnya. (wan/drs)


COMMENTS