Penulis Wawan Bromo FM Senin 20/07/2015 KRAKSAAN – Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, angka buta aksara di Kab...
Penulis Wawan Bromo FM
Senin 20/07/2015
KRAKSAAN – Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, angka buta aksara di Kabupaten Probolinggo mencapai 125.479 orang. Kemudian capaian dalam pemberantasan buta aksara tahun 2011 sebanyak 20.560 orang, tahun 2012 sebanyak 8.880 orang dan tahun 2013 sebanyak 14.540 orang.“Tahun 2014, kami melakukan pemberantasan buta aksara sebanyak 7.930 orang atau 793 kelompok. Sehingga sisa garapan pada akhir tahun 2014 sebanyak 73.569 orang,” ungkap Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Probolinggo Tutug Edi Utomo melalui Kepala Bidang Pendidikan Luar Sekolah, Olahraga dan Kesenian Suwari.
Pria kelahiran Magetan, 16 Agustus 1958 ini menjelaskan, upaya maksimal sudah dilakukan Dispendik hingga tahun 2013 kemarin. Sehingga dari 11 kecamatan yang masuk zona merah tahun 2010, jumlahnya tinggal tiga kecamatan yakni, Tiris, Krucil dan Bantaran.
“Tahun 2013 kemarin, kita menggunakan metode blok sistem yang angka buta aksaranya di atas 4.000 orang. Alhamdulillah, metode tersebut mampu mengurangi kecamatan zona merah menjadi dua yakni Tiris dan Kurcil,” jelasnya.
Untuk tahun 2015 ini, Dispendik menggunakan program Kecamatan Tuntas pada Kecamatan Kraksaan, Pajarakan, Gending, Dringu dan Sukapura. “Dalam Kecamatan Tuntas ini, kami berupaya menuntaskan angka buta aksara di kecamatan yang jumlahnya rendah. Sehingga nantinya kecamatan tersebut tuntas buta aksara. Untuk program ini kami melibatkan relawan buta aksara melalui dana APBD Kabupaten Probolinggo,” terangnya.
Warga Desa Sukomulyo Kecamatan Pajarakan ini menambahkan, dengan jumlah buta aksara mencapai 73.569 orang, Kabupaten Probolinggo masuk dalam blok sistem nasional 33 kabupaten di Indonesia yang berada di zona merah. Di mana jumlah buta aksaranya berada di atas 50 ribu.
“Untuk tahun 2015 mendatang, saya mengharapkan agar angka buta aksara ini bisa turun sehingga tidak punya zona merah lagi di atas 50 ribu dengan jalan meningkatkan anggaran baik dari APBD Kabupaten Probolinggo, hibah APBD Provinsi Jawa Timur serta bantuan sosial dari APBN,” tegasnya.
Suwari menerangkan, penyebab utama tingginya buta aksara di Kabupaten Probolinggo adalah karena kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan relatif masih kurang. “Peran serta stakeholders untuk bersama-sama mendukung program gerakan percepatan penuntasan pemberantasan buta aksara di Kabupaten Probolinggo perlu ditingkatkan. Sehingga jumlah buta aksara di Kabupaten Probolinggo bisa terus berkurang,” pungkasnya. (wan/drs)


COMMENTS