Penulis Dimaz Selasa 28/07/2015 KRAKSAAN - Kritis kekeringan yang melanda 40 desa di 11 kecamatan di Kabupaten Probolinggo pada mu...
Penulis Dimaz
Selasa 28/07/2015
Sebagian besar petani tembakau mengeluhkan dampak kekeringan ini. Pasalnya, faktor asupan air untuk tembakau sangat dibutuhkan. Atas kekeringan ini asupan air tersebut berkurang sehingga tembakau mengalami kerusakan parah. Bahkan, penyakit tembaku mulai menyerang seperti dimakan ulat dan londrak (ker-ker).
“Kalau sudah seperti ini petani tembakau sangat merugi mas. Sebab faktor air sangat utama untuk tembakau. Dari kekeringan ini, penyakit hama tembakau mulai menyerang. Yang jelas petani sudah bisa dipastikan merugi,” kata Mutaham, salah satu petani tembakau.
Hal senada dikatakan Samsudin. Dirinya menyebutkan, kalau kekeringan yang melanda di Kabupaten Probolinggo tahun ini sangat parah, sehingga mengancam terhadap tanaman tembakau yang merupakan sumber utama petani di saat musim tanam tembaku tiba.
“Kami sangat berharap terhadap pemerintah agar mengambil kebijakan untuk menstabilkan harga tambakau. Karena kalau harganya tidak stabil bagaimana nasib petani. Kualitas tembaku sekarang rusak, sedangkan biaya obat-obatan dan perawatannya cukup mahal,” tandasnya.
Secara terpisah Kepala Dinas Perkebunan dan kehutanan (Disbunhut) Kabupaten Probolinggo Rahardjo mengatakan setidaknya ada 7 kecamatan di Kabupaten Probolinggo yang berpotensi menghasilkan tembakau. Yakni, Kecamatan Paiton dengan areal lahan 1.949 hektar, Kotaanyar 1.544 hektar, Pakuniran 1.490 hektar, Besuk 2.188 hektar, Krejengan 2.200 hektar, Kraksaan 1.110 hektar dan Gading 299 hektar.
“Di Kabupaten Probolinggo tahun 2015 ini, rencana areal tanam tembakau mencapai 10.774 hektar dengan produksi per hektar 1,2 ton. Namun petani menyampaikan beberapa permasalahan, salah satunya iklim yang mulai memasuki musim kemarau. Jalan keluarnya untuk daerah yang dilanda kekeringan, petani harus memberlakukan sistem tanam juringan,” ungkapnya. (maz/drs)


COMMENTS