Penulis Dimaz Bromo FM Minggu 12/07/2015 DRINGU - Polemik mengenai plasi (istilah selisih harga saat jual-beli bawang merah) di Kabu...
Penulis Dimaz Bromo FM
Minggu 12/07/2015
DRINGU - Polemik mengenai plasi (istilah selisih harga saat jual-beli bawang merah) di Kabupaten Probolinggo akhirnya menemukan titik terang. Hal ini terlihat dari hasil rapat koordinasi (rakor) yang dilakukan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Probolinggo.Sebelumnya pedagang tidak bisa menghapuskan plasi yang sudah dari dulu menjadi kesepakatan antara pedagang dengan petani bawang merah. Namun dari rakor tersebut disepakati bahwa plasi dipangkas menjadi 10% per kuintal.
Jumlah tersebut sedikit turun 5% dibandingkan yang selama ini dijalankan. Rakor dihadiri perwakilan dari Dinas Pendapatan (Dispenda), Dinas Pertanian (Dispertan), Bagian Hukum, Bagian Penyusunan Program, Bagian Kominfo dan Forkopimka Dringu.
Dalam rakor yang digelar di Musholla Pasar Bawang Dringu itu, Disperindag juga mengundang Asosiasi Petani Bawang Merah Desa Pabean dan pedagang bawang merah. Tarsan dari Asosiasi Petani Bawang Merah mengatakan, persoalan plasi sering dikeluhkan para petani.
Sisi lain petani selama ini tidak bisa berbuat banyak. “Jika tidak ada plasi maka bawang petani tidak diambil,” ujarnya.
Menurut Tarsan, persoalan plasi sudah terjadi sejak dulu, tetapi saat itu masih tergolong wajar karena hanya 5-6 kilogram per 1 kuintal. Namun kini mencapai 15-16 kilogram dan dirasa sangat memberatkan bagi petani. “Padahal pedagang ketika menjual ke luar daerah tidak menerapkan plasi,” terangnya.
Pernyataan Tarsan itu langsung direspon perwakilan pedagang bawang merah Muhammad Bakir. Menurutnya setiap kuintal selisihnya memang banyak.
“Kalau mau dihitung semua tidak sampai satu kuintal, belum yang busuk dan kotorannya. Karenanya, angka 15 persen atau setara 15 kilogram masih wajar,” katanya.
Sementara Kepala Disperindag Kabupaten Probolinggo M. Sidik Widjanarko mengharapkan, dengan kesepakatan ini tidak ada lagi perdebatan masalah plasi di kalangan petani dan pedagang. (maz/drs)


COMMENTS