Penulis Wawan Bromo FM Selasa 21/07/2015 KRAKSAAN – Saat ini batik yang dihasilkan para perajin Kabupaten Probolinggo banyak dicar...
Penulis Wawan Bromo FM
Selasa 21/07/2015
KRAKSAAN – Saat ini batik yang dihasilkan para perajin Kabupaten Probolinggo banyak dicari masyarakat luar daerah. Oleh karena itu, para perajin harus bisa memberikan kekhasan dan karakter batik sebagai ciri khas batik yang dihasilkan.
Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Keswadayaan Masyarakat Badan Pemberdayaan Masyarakat (Bapemas) Kabupaten Probolinggo Taufik Alami. “Biasanya batik dianggap setelah menjadi kain. Padahal kalau sudah menjadi kain akan sia-sia kalau tidak mempunyai ciri khas,” ungkapnya.
Dengan ciri khas tersebut, jelas Taufik, banyak manfaat yang diperoleh perajin. Salah satunya adalah keberlangsungan usaha dengan berbagai variasi dan keunikan masing-masing perajin. Secara otomatis akan mengurangi persaingan di antara sesama perajin sendiri.
“Dengan adanya ciri khas, maka kita tidak akan kesulitan mencari karena ternyata banyak potensi. Apalagi masih banyak potensi yang belum diangkat, tinggal butuh sentuhan kreativitas dari perajin saja,” jelasnya.
Taufik meminta supaya perajin tidak berhenti di kain, tetapi bagaimana bisa diaplikasikan ke media lain dan tidak hanya baju. Seperti, bahan aksesoris pelengkap busana mulai dari dasi, ikat pinggang, syal, tas dan ikat kepala batik. “Batik kain itu adalah bahan setengah jadi. Kita harus mencari identitas untuk memiliki busana khas daerah,” terangnya.
Dari belasan perajin aktif, saat ini baru ada 3 perajin yang memiliki ciri khas. Kelemahannya, kurang ide dan kreativitas serta inovasi karena terlalu berpaku pada pakem mataraman. Selain itu keterbatasan produksi dan naiknya bahan baku sehingga perajin takut untuk mencoba motif baru.
“Salah satu upaya yang harus dilakukan untuk menggeliatkan sentra batik adalah melalu gerakan cinta batik Kabupaten Probolinggo yang dimulai dari aparatur sampai masyarakat. Harapannya, selain sebagai produk unggulan juga menjadi salah satu penopang pengentasan kemiskinan yang menyentuh langsung aspek pemberdayaan ekonomi,” pungkasnya. (wan/drs)
Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Keswadayaan Masyarakat Badan Pemberdayaan Masyarakat (Bapemas) Kabupaten Probolinggo Taufik Alami. “Biasanya batik dianggap setelah menjadi kain. Padahal kalau sudah menjadi kain akan sia-sia kalau tidak mempunyai ciri khas,” ungkapnya.
Dengan ciri khas tersebut, jelas Taufik, banyak manfaat yang diperoleh perajin. Salah satunya adalah keberlangsungan usaha dengan berbagai variasi dan keunikan masing-masing perajin. Secara otomatis akan mengurangi persaingan di antara sesama perajin sendiri.
“Dengan adanya ciri khas, maka kita tidak akan kesulitan mencari karena ternyata banyak potensi. Apalagi masih banyak potensi yang belum diangkat, tinggal butuh sentuhan kreativitas dari perajin saja,” jelasnya.
Taufik meminta supaya perajin tidak berhenti di kain, tetapi bagaimana bisa diaplikasikan ke media lain dan tidak hanya baju. Seperti, bahan aksesoris pelengkap busana mulai dari dasi, ikat pinggang, syal, tas dan ikat kepala batik. “Batik kain itu adalah bahan setengah jadi. Kita harus mencari identitas untuk memiliki busana khas daerah,” terangnya.
Dari belasan perajin aktif, saat ini baru ada 3 perajin yang memiliki ciri khas. Kelemahannya, kurang ide dan kreativitas serta inovasi karena terlalu berpaku pada pakem mataraman. Selain itu keterbatasan produksi dan naiknya bahan baku sehingga perajin takut untuk mencoba motif baru.
“Salah satu upaya yang harus dilakukan untuk menggeliatkan sentra batik adalah melalu gerakan cinta batik Kabupaten Probolinggo yang dimulai dari aparatur sampai masyarakat. Harapannya, selain sebagai produk unggulan juga menjadi salah satu penopang pengentasan kemiskinan yang menyentuh langsung aspek pemberdayaan ekonomi,” pungkasnya. (wan/drs)



COMMENTS