Penulis Wawan Bromo FM Rabu 10/06/2015 KRAKSAAN - Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1436 H, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) ...
Penulis Wawan Bromo FM
Rabu 10/06/2015
KRAKSAAN - Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1436 H, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) mengantisipasi tekanan inflasi. Salah satu upayanya dengan melakukan rapat koordinasi, Selasa (9/6) di ruang pertemuan Argopuro Setda Kabupaten Probolinggo.
Rakor yang dipimpin Wakil Bupati Probolinggo Drs HA. Timbul Prihanjoko itu dihadiri Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Probolinggo selaku Ketua TPID Kabupaten Probolinggo H Moch. Nawi. Hadir pula wakil dari Kantor Perwakilan BI Cabang Malang, BPS Kabupaten Probolinggo dan Sub Divre Bulog Probolinggo serta sejumlah kepala perangkat daerah terkait.
Dalam sambutannya Wabup Timbul mengatakan, selama ini perekonomian di Kabupaten Probolinggo tumbuh dengan baik. Tetapi semua itu akan percuma apabila inflasi juga meningkat.
“Marilah kita bersama-sama untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan menekan laju inflasi. Inflasi daerah perlu mendapatkan dukungan dari daerah. Sehingga jangan ragu-ragu menganggarkan untuk operasi pasar tatkala terjadi kelangkaan komoditas sembako,” ujarnya.
Menurut Wabup Timbul, sudah menjadi budaya masyarakat jelang Ramadhan melakukan aksi borong sembako. Hal ini tentunya akan memicu tingginya inflasi. Padahal inflasi yang tinggi akan menghambat pertumbuhan ekonomi.
“Beberapa penghambat pertumbuhan ekonomi itu meliputi pemasukan barang sembako yang terbatas, barang dan jasa serta distribusi barang yang tidak lancar. Oleh karena itu harus rutin melakukan sidak ke gudang-gudang. Tatkala ada kelangkaan segera lakukan operasi pasar untuk menekan harga kebutuhan pokok,” tegasnya.
Sementara Sekda Nawi mengungkapkan, karakter inflasi sangat dipengaruhi faktor kejutan seperti bencana alam, kenaikan BBM atau Tarif Dasar Listrik (TDL). Faktor-faktor ini sangat besar sekali dalam kenaikan inflasi. “Inflasi adalah meningkatnya harga-harga pokok pada umumnya dan terjadi secara terus menerus,” ungkapnya.
Untuk mengendalikan inflasi tersebut, Sekda Nawi meminta agar sejumlah perangkat daerah meningkatkan koordinasi dengan melakukan rakor secara berkala untuk memutuskan kebijakan strategis untuk mengatasi inflasi daerah.
“Tingkatkan inventarisasi data dan perkembangan harga barang dan memberikan himbauan moral kepada masyarakat mengenai hal-hal yang diperlukan dalam rangka menyikapi kenaikan harga dengan tidak panik dan memutuskan mencari pengganti barang,” jelasnya.
Yang paling penting lagi jelas Sekda Nawi agar masing-masing perangkat daerah bersinergi dengan instansi terkait untuk melakukan aksi nyata dalam upaya mengendalikan inflasi menjelang Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 1436 H. (wan/drs)
Rakor yang dipimpin Wakil Bupati Probolinggo Drs HA. Timbul Prihanjoko itu dihadiri Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Probolinggo selaku Ketua TPID Kabupaten Probolinggo H Moch. Nawi. Hadir pula wakil dari Kantor Perwakilan BI Cabang Malang, BPS Kabupaten Probolinggo dan Sub Divre Bulog Probolinggo serta sejumlah kepala perangkat daerah terkait.
Dalam sambutannya Wabup Timbul mengatakan, selama ini perekonomian di Kabupaten Probolinggo tumbuh dengan baik. Tetapi semua itu akan percuma apabila inflasi juga meningkat.
“Marilah kita bersama-sama untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan menekan laju inflasi. Inflasi daerah perlu mendapatkan dukungan dari daerah. Sehingga jangan ragu-ragu menganggarkan untuk operasi pasar tatkala terjadi kelangkaan komoditas sembako,” ujarnya.
Menurut Wabup Timbul, sudah menjadi budaya masyarakat jelang Ramadhan melakukan aksi borong sembako. Hal ini tentunya akan memicu tingginya inflasi. Padahal inflasi yang tinggi akan menghambat pertumbuhan ekonomi.
“Beberapa penghambat pertumbuhan ekonomi itu meliputi pemasukan barang sembako yang terbatas, barang dan jasa serta distribusi barang yang tidak lancar. Oleh karena itu harus rutin melakukan sidak ke gudang-gudang. Tatkala ada kelangkaan segera lakukan operasi pasar untuk menekan harga kebutuhan pokok,” tegasnya.
Sementara Sekda Nawi mengungkapkan, karakter inflasi sangat dipengaruhi faktor kejutan seperti bencana alam, kenaikan BBM atau Tarif Dasar Listrik (TDL). Faktor-faktor ini sangat besar sekali dalam kenaikan inflasi. “Inflasi adalah meningkatnya harga-harga pokok pada umumnya dan terjadi secara terus menerus,” ungkapnya.
Untuk mengendalikan inflasi tersebut, Sekda Nawi meminta agar sejumlah perangkat daerah meningkatkan koordinasi dengan melakukan rakor secara berkala untuk memutuskan kebijakan strategis untuk mengatasi inflasi daerah.
“Tingkatkan inventarisasi data dan perkembangan harga barang dan memberikan himbauan moral kepada masyarakat mengenai hal-hal yang diperlukan dalam rangka menyikapi kenaikan harga dengan tidak panik dan memutuskan mencari pengganti barang,” jelasnya.
Yang paling penting lagi jelas Sekda Nawi agar masing-masing perangkat daerah bersinergi dengan instansi terkait untuk melakukan aksi nyata dalam upaya mengendalikan inflasi menjelang Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 1436 H. (wan/drs)



COMMENTS