Penulis Dimaz Bromo FM Senin 04/05/2015 BANTARAN ¬– Menjalani profesi sebagai bidan desa bisa dibilang gampang-gampang susah. Seba...
Penulis Dimaz Bromo FM
Senin 04/05/2015
BANTARAN ¬– Menjalani profesi sebagai bidan desa bisa dibilang gampang-gampang susah. Sebab butuh keuletan dan pantang menyerah dalam menghadapi kebiasaan masyarakat. Hal itu diakui betul oleh Wika Williana Dewi, bidan Desa Tempuran Kecamatan Bantaran Kabupaten Probolinggo.Mengawali tugas sebagai bidan desa, Mei 2010 silam, perempuan kelahiran Probolinggo, 30 Mei 1985 ini bertekad memotivasi dan menyadarkan masyarakat tentang pentingnya hidup sehat. Hal itu ia lakukan mengingat masih rendahnya Sumber Daya Manusia (SDM) di Kabupaten Probolinggo sehingga kesadaran untuk hidup sehat masih kurang.
“Saya prihatin karena masih ada masyarakat yang kurang perhatian terhadap kesehatannya. Semua ini yang menjadi motivasi saya memilih berprofesi sebagai bidan. Sebab saya ingin menciptakan masyarakat desa yang peduli dengan kesehatannya,” ujarnya.
Sejak duduk di bangku SDN Alaskandang 1 Kecamatan Besuk, istri dari Muhamad Ali ini mengaku, bahagia ketika mampu membantu persalinan dengan baik. “Tidak ada hal yang bisa membahagiakan, selain bisa menolong proses persalinan. Di mana ibu dan bayi yang dilahirkan sehat dan selamat,” ujar alumni Akademi Kebidanan (Akbid) Stikes Surabaya ini.
Anak pertama dari dua bersaudara pasangan Sugianto dan Khusnul Khotimah ini mempunyai keinginan, menyadarkan masyarakat akan pentingnya berkunjung ke Posyandu.
“Selama ini masyarakat belum sepenuhnya mengerti akan pentingnya datang ke Posyandu. Padahal dengan datang ke Posyandu banyak informasi dan manfaat yang bisa didapat baik bagi ibu maupun balitanya,” terang penyuka travelling ini.
Ibu dari Alika Khanza Janeta dan Alika Najwa Vanesa ini menambahkan, ingin mengajak lintas sektoral untuk meningkatkan pendidikan yang nantinya akan berdampak positif dalam cara pandang tentang hidup sehat. “Jika pendidikannya cukup, maka masyarakat akan lebih memahami arti penting dari hidup sehat,” ujarnya.
Alumni SMU Darul Ulum Jombang ini berharap, pendidikan masyarakat di Desa Tempuran Kecamatan Bantaran bisa lebih baik. Sebab rata-rata pendidikan formal warga hanya tamat SD. Jika pendidikannya tinggi, maka setelah lulus SD mereka tidak langsung menikah.
“Jika langsung menikah, kesadaran melahirkan di tenaga kesehatan rendah. Masih cenderung lahir ke dukun. Kalau ada imunisasi, kadang menolak. Kita ajarkan program tidak akan nyambung. Semoga ke depan ada aturan semacam Peraturan Desa (Perdes) yang menjadi pedoman masyarakat dalam persyaratan pernikahan,” pungkasnya. (maz/drs)


COMMENTS