Penulis Wawan Bromo FM Selasa 26/05/2015 MARON – Seorang bidan tugas utamanya berhubungan dengan kemanusiaan dan menjunjung keper...
Penulis Wawan Bromo FM
Selasa 26/05/2015
Hal tersebut disampaikan bidan Desa Wonorejo Kecamatan Maron Uswatun Hasanah. “Keberhasilan program kita harus melihat peluang. Semua yang terjadi di masyarakat harus dikembalikan kepada diri kita sendiri. Setelah itu kita baru bisa mencari jalan keluar yang terbaik,” ungkap alumnus SPK Depkes Jember ini.
Bidan yang hobi membaca ini mempunyai keinginan kuat untuk bertemu dengan idolanya Bupati Probolinggo Hj P. Tantriana Sari SE. Begitu bangganya, setiap sampul buku yang dimilikinya ditempeli foto Bupati Tantri.
“Saya bangga sekali, beliau menjadi spirit dan motivasi karena sangat peduli terhadap kesehatan, tetapi tidak melupakan keluarga. Saya ingin menyampaikan aspirasi langsung mengenai kesehatan,” katanya.
Perempuan kelahiran, 18 Desember 1979 ini mengawali karir sebagai PTT tahun 1999 silam di Desa Wonorejo Kecamatan Maron. Sebelum akhirnya diangkat menjadi PNS dan bertugas sebagai bidan di desa tersebut tahun 2008.
“Semua program akan berjalan dengan baik, jika kita sebagai bidan bisa menjalin hubungan yang baik dengan kepala desa, perangkat desa, kader dan dukun bayi. Harapan saya derajat kesehatan masyarakat meningkat dengan slogan senyum bidan adalah pelayanan Polindes,” jelasnya.
Anak bungsu dari tujuh bersaudara pasangan Alm Satimin dan Susiati ini menjelaskan, masyarakat saat ini sudah mengerti kesehatan. Meskipun hal itu butuh perjuangan yang berat.
“Saya menginginkan, masyarakat paham dengan kesehatan dan sesegera mungkin datang ke bidan manakala ada gangguan kesehatan. Meningkatkan kemandirian dalam bidang kesehatan dimulai dari diri sendiri dan masyarakat,” ujarnya.
Istri Hasan Basri ini mengaku, memiliki pengalaman yang sangat berkesan. Tepatnya saat dirinya hendak menikah. Di mana saat H-1 dan mau pulang untuk persiapan menikah, dirinya didatangi warga yang meminta pertolongan persalinan istrinya.
“Kebetulan waktu itu istrinya sudah satu bulan tidak bisa bicara. Bahkan untuk meyakinkan saya, ia berjanji akan mengantarkan hingga Malasan. Akhirnya saya tangani dan setelah melahirkan ia bisa bicara dengan langsung menanyakan jenis kelamin anaknya,” akunya.
Selama menjadi bidan, berbagai prestasi diraihnya. Seperti Kartini Award (2012), bidan teladan I Kabupaten Probolinggo dan bidan teladan III Jatim (2013) serta pembuat video klip pasti ASI I dan lomba PHBS I tingkat Kabupaten Probolinggo.
“Kami juga sudah meningkatkan persalinan ke bidan dengan mengadakan kesepakatan kemitraan bidan dan dukun di hadapan kepala desa. Apalagi juga ada Dana Sosial Kesehatan dengan cara menarik iuran sukarela ke masyarakat sebesar Rp 500 per bulan yang digunakan untuk melayani kesehatan masyarakat ke rumah sakit,” pungkasnya. (wan/drs)


COMMENTS