Penulis Wawan Bromo FM Senin 25/05/2015 KRAKSAAN - Angka Kematian Ibu (AKI) melahirkan di Kabupaten Probopolinggo melonjak. Hingg...
Penulis Wawan Bromo FM
Senin 25/05/2015
KRAKSAAN - Angka Kematian Ibu (AKI) melahirkan di Kabupaten Probopolinggo melonjak. Hingga Mei 2015, jumlah kematian ibu melahirkan tercatat 10 kasus. Padahal sepanjang 2014 lalu, angka kematian ibu melahirkan sebanyak 24 kasus.Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo dr Shodiq Thahjono melalui Kepala Bidang Kesehatan Keluarga dan Gizi dr Moch Asjroel Sjakrie mengatakan dari 10 kasus kematian ibu melahirkan itu, delapan diantaranya karena faktor penyakita dari ibu. "Sebelum hamil, si ibu sudah mempunyai penyakit. Jadinya ketika hamil dan persalinan makin memperberat resiko hingga menyebabkan kematian,” katanya.
Pria asal Kelurahan Sidomukti Kota Krakasaan ini mengatakan, delapan ibu hamil meninggal karena sakit jantung. Sedangkan dua ibu hamil mengembuskan napas terakhir karena saat proses persalinan. “Jadi hanya dua yang memang bukan karena faktor eskternal,” jelasnya.
Penyebab lainnya yakni karena usia dari ibu hamil masih tergolong muda. Menurut Asjroel, usia kematian ibu yang melahirkan ini beragam. Namun dia tidak menampik usia dari kematian ibu melahirkan masih tergolong muda.
“Faktor pernikiahan dini juga ada, karena untuk yang usia 17 tahun ini resikonya tinggi. Ibunya cenderung anemia, kurang protein, kurus badannya. Itu faktor resikonya lebih tinggi. Hamil itu lebih bagus di atas 20 tahun,” tegasnya.
Selain itu, Dinkes sendiri hingga saat ini masih menemukan masyarakat yang melakukan persalinan dengan menggunakan jasa dukun. “Hal seperti yang seharusnya sudah harus dihindari masyarakat,” terangnya.
Menurutnya, Dinkes sudah berupaya untuk menekan angka kematian ibu melahirkan ini. “Kami sudah ada program, Anta Natal Care (ANC). Jadi selama hamil harus ada kontak dokter minimal satu kali, supaya tahu ibu ini punya penyakit penyerta atau tidak,” tambahnya.
Dari sekian kasus itu kata Asjroel, ada beberapa yang sudah kontak dengan tenaga kesehatan. “Namun ada juga yang belum sama sekali karena kehamilannya disembunyikan. Mudah-mudahan kami tidak kecolongan,” akunya.
Selain itu, terobosan lainnya untuk menekan hal tersebut diantaranya dengan cara mengunjungi langsung bidan desa sebagai pelaksana di desa dan mengujungi puskesmas pembantu (pustu). “Kami pantau langsung kerja mereka. Bagaimana kegiatan mereka, bagaimana di lapangan, bagaimana program hulu ke hilir,” ujarnya.
Dengan cara seperti itu, diharapkan bisa menurunkan AKI dan AKB. “Karena biar bagaimanapun hal seperti ini upaya peningkatan Indeks pembangunan manusia (IPM) di sektor kesehatan,” pungkasnya. (maz/drs)


COMMENTS