Penulis Wawan Bromo FM Selasa 21/04/2015 SUKAPURA - Dalam rangka mengajak masyarakat mencintai lingkungannya, puluhan siswa SDN ...
Penulis Wawan Bromo FM
SUKAPURA - Dalam rangka mengajak masyarakat mencintai lingkungannya, puluhan siswa SDN Wonokerto 1 Kecamatan Sukapura ramai-ramai menanam pohon euchalyptus (bahan baku minyak kayu putih) di Dusun Krajan Desa Wonokerto Kecamatan Sukapura.
Tidak hanya siswa, penanaman 500 bibit pohon euchalyptus ini juga melibatkan dewan guru, komite sekolah, wali murid dan perangkat desa setempat. Kegiatan ini diawali pada pukul 08.00 WIB pagi.
Kepala SDN Wonokerto 1 Suerlina mengungkapkan selain sebagai penghijauan, penanaman pohon euchalyptus ini bertujuan supaya para siswa bisa mencintai lingkungannya.
“Kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk melestarikan alam dan mencegah terjadinya longsor. Bibit pohon euchalyptus ini berasal dari wali murid. Sedianya mau menyumbang 1.000 bibit, tetapi terealisasi 500 bibit,” ungkapnya.
Perempuan kelahiran Probolinggo, 12 Januari 1968 ini menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak berhenti sampai disini saja. Sebab selanjutnya siswa secara rutin akan memonitoring pertumbuhan pohon yang ditanamnya. “Jika ada yang mati nanti akan ditambal sulam,” tegasnya.
Istri dari Suprayono ini menerangkan kayu pohon euchalyptus ini sangat kuat dan bagus untuk bahan bangunan. Selain itu pertumbuhannya juga lebih cepat. “Daunnya bisa dipakai untuk obat. Jika sakit perut, ambil saja daun yang masih muda kemudian diremas-remas sampai halus dan balurkan ke perut,” terangnya.
Ke depan jelas Suerlina, pihaknya berencana mau melakukan penyulingan daun euchalyptus sebagai bahan baku minyak kayu putih. “Daunnya direbus dan uapnya diambil dijadikan minyak kayu putih. Daunnya tidak terlalu tua. Tetapi yang paling bagus adalah daun tunasnya. Tetapi kelemahan dari pohon ini kalau sudah terkena belerang daunnya akan kering,” jelasnya.
Suerlina mengharapkan agar kegiatan ini dapat menumbuhkan kepedulian siswa supaya bisa menyayangi tanaman. Apalagi tanamannya bisa memberikan manfaat bagi lingkungan. Sehingga jika sudah dewasa tidak seenaknya menebang pohon karena merasa ikut menanam sehingga merasa ikut memilikinya.
“Siswa akan merasa bangga karena sudah menanam pohon dan bisa memberikan manfaat kepada masyarakat. Hal ini adalah bukti rasa cintanya terhadap kelestarian lingkungan,” pungkasnya. (wan)
Tidak hanya siswa, penanaman 500 bibit pohon euchalyptus ini juga melibatkan dewan guru, komite sekolah, wali murid dan perangkat desa setempat. Kegiatan ini diawali pada pukul 08.00 WIB pagi.
Kepala SDN Wonokerto 1 Suerlina mengungkapkan selain sebagai penghijauan, penanaman pohon euchalyptus ini bertujuan supaya para siswa bisa mencintai lingkungannya.
“Kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk melestarikan alam dan mencegah terjadinya longsor. Bibit pohon euchalyptus ini berasal dari wali murid. Sedianya mau menyumbang 1.000 bibit, tetapi terealisasi 500 bibit,” ungkapnya.
Perempuan kelahiran Probolinggo, 12 Januari 1968 ini menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak berhenti sampai disini saja. Sebab selanjutnya siswa secara rutin akan memonitoring pertumbuhan pohon yang ditanamnya. “Jika ada yang mati nanti akan ditambal sulam,” tegasnya.
Istri dari Suprayono ini menerangkan kayu pohon euchalyptus ini sangat kuat dan bagus untuk bahan bangunan. Selain itu pertumbuhannya juga lebih cepat. “Daunnya bisa dipakai untuk obat. Jika sakit perut, ambil saja daun yang masih muda kemudian diremas-remas sampai halus dan balurkan ke perut,” terangnya.
Ke depan jelas Suerlina, pihaknya berencana mau melakukan penyulingan daun euchalyptus sebagai bahan baku minyak kayu putih. “Daunnya direbus dan uapnya diambil dijadikan minyak kayu putih. Daunnya tidak terlalu tua. Tetapi yang paling bagus adalah daun tunasnya. Tetapi kelemahan dari pohon ini kalau sudah terkena belerang daunnya akan kering,” jelasnya.
Suerlina mengharapkan agar kegiatan ini dapat menumbuhkan kepedulian siswa supaya bisa menyayangi tanaman. Apalagi tanamannya bisa memberikan manfaat bagi lingkungan. Sehingga jika sudah dewasa tidak seenaknya menebang pohon karena merasa ikut menanam sehingga merasa ikut memilikinya.
“Siswa akan merasa bangga karena sudah menanam pohon dan bisa memberikan manfaat kepada masyarakat. Hal ini adalah bukti rasa cintanya terhadap kelestarian lingkungan,” pungkasnya. (wan)


COMMENTS