Dicko Bromo FM Jum'at 03/04/2015 SUMBERASIH - Pupuk kompos dapat diproduksi sendiri dengan cara yang sederhana tanpa harus meng...
Dicko Bromo FM
Jum'at 03/04/2015
SUMBERASIH
- Pupuk kompos dapat diproduksi sendiri dengan cara yang sederhana
tanpa harus mengeluarkan biaya. Cukup dengan memanfaatkan sampah organik
yang berada di sekitar. Sampah organik bisa “disulap” menjadi pupuk
kompos, yang bisa menyuburkan tanaman. Hal inilah yang dipelajari dan
dipraktikkan siswa SDN Pesisir 1 Kecamatan Sumberasih.
Suasana SDN Pesisir 1 Kecamatan Sumberasih, Rabu (25/3) terlihat berbeda dari biasanya. Puluhan siswa dan siswi dari kelas I hingga kelas V melakukan aksi membuat pupuk kompos dari sampah daun yang ada di lingkungan sekitar sekolah.
“Mengajarkan bagaimana menangani sampah sampai kemudian dimanfaatkan menjadi pupuk tidak harus selalu dengan teori. Praktik langsung ternyata lebih gampang dan lebih mudah dipahami siswa,” ungkap Kepala SDN Pesisir 1 Mujiman.
Menurut Mujiman, pembuatan pupuk kompos dari sampah dedaunan ini bertujuan untuk mengajak siswa supaya peduli terhadap kebersihan lingkungan. Di mana daun tersebut diolah menjadi pupuk kompos untuk menyuburkan tanaman.
“Kebetulan di lingkungan sekolah memang ada pohon mangga dan beberapa pohon kecil yang setiap hari daunnya berguguran. Daun yang berjatuhan tersebut dikumpulkan sebagai bahan pembuatan pupuk kompos,” jelasnya.
Mujiman menambahkan, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya sekolah untuk melatih anak didik disiplin dan kreatif dalam memanfaatkan sampah. “Kebetulan di lingkungan sekolah, sarana pembuangan sampah minim. Setidaknya dengan kegiatan ini, volume sampah bisa diminimalisir. Harapannya, anak didik bisa memahami cara membuat pupuk kompos secara sederhana,” harapnya.
Sementara Hari Purnomo selaku guru pembimbing mengatakan, kegiatan ini bertujuan agar siswa bisa memahami cara pembuatan pupuk kompos secara sederhana dan tradisional dengan memanfaatkan sampah daun yang ada di lingkungan sekitar.
“Untuk sementara ini kompos produksi siswa tidak dijual. Tetapi kualitasnya lebih bagus daripada pupuk kompos di luar. Sebab yang dari luar biasanya terbuat dari sekam dan pasir. Kalau produk siswa ini murni dari daun yang dicampur dengan tanah dan pupuk kandang,” jelasnya.
Pembuatan sampah kompos ini sangat mudah. Masing-masing siswa mencari daun kering dan basah. Selanjutnya daun-daun tersebut diiris kecil-kecil dan ditaruh dalam tong besar. Setelah itu dicampur dengan tanah dan pupuk kandang.
Kemudian ketiga campuran tersebut diaduk-aduk hingga rata. “Baru kemudian dimasukkan ke dalam plastik,” tegasnya.
Menurut Hari, kegiatan pembuatan pupuk kompos memanfaatkan sampah daun ini masuk dalam ekstrakurikuler sekolah. Kegiatan ini dilakukan setiap Rabu dan Sabtu.
“Kami berharap dengan kegiatan ini anak-anak semakin cinta terhadap lingkungan baik di sekitar tempat tinggal maupun di sekolah. Caranya dengan memanfaatkan sampah yang ada untuk dibuat pupuk kompos,” pungkasnya.(dc/fir)
Jum'at 03/04/2015
SUMBERASIH
- Pupuk kompos dapat diproduksi sendiri dengan cara yang sederhana
tanpa harus mengeluarkan biaya. Cukup dengan memanfaatkan sampah organik
yang berada di sekitar. Sampah organik bisa “disulap” menjadi pupuk
kompos, yang bisa menyuburkan tanaman. Hal inilah yang dipelajari dan
dipraktikkan siswa SDN Pesisir 1 Kecamatan Sumberasih.Suasana SDN Pesisir 1 Kecamatan Sumberasih, Rabu (25/3) terlihat berbeda dari biasanya. Puluhan siswa dan siswi dari kelas I hingga kelas V melakukan aksi membuat pupuk kompos dari sampah daun yang ada di lingkungan sekitar sekolah.
“Mengajarkan bagaimana menangani sampah sampai kemudian dimanfaatkan menjadi pupuk tidak harus selalu dengan teori. Praktik langsung ternyata lebih gampang dan lebih mudah dipahami siswa,” ungkap Kepala SDN Pesisir 1 Mujiman.
Menurut Mujiman, pembuatan pupuk kompos dari sampah dedaunan ini bertujuan untuk mengajak siswa supaya peduli terhadap kebersihan lingkungan. Di mana daun tersebut diolah menjadi pupuk kompos untuk menyuburkan tanaman.
“Kebetulan di lingkungan sekolah memang ada pohon mangga dan beberapa pohon kecil yang setiap hari daunnya berguguran. Daun yang berjatuhan tersebut dikumpulkan sebagai bahan pembuatan pupuk kompos,” jelasnya.
Mujiman menambahkan, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya sekolah untuk melatih anak didik disiplin dan kreatif dalam memanfaatkan sampah. “Kebetulan di lingkungan sekolah, sarana pembuangan sampah minim. Setidaknya dengan kegiatan ini, volume sampah bisa diminimalisir. Harapannya, anak didik bisa memahami cara membuat pupuk kompos secara sederhana,” harapnya.
Sementara Hari Purnomo selaku guru pembimbing mengatakan, kegiatan ini bertujuan agar siswa bisa memahami cara pembuatan pupuk kompos secara sederhana dan tradisional dengan memanfaatkan sampah daun yang ada di lingkungan sekitar.
“Untuk sementara ini kompos produksi siswa tidak dijual. Tetapi kualitasnya lebih bagus daripada pupuk kompos di luar. Sebab yang dari luar biasanya terbuat dari sekam dan pasir. Kalau produk siswa ini murni dari daun yang dicampur dengan tanah dan pupuk kandang,” jelasnya.
Pembuatan sampah kompos ini sangat mudah. Masing-masing siswa mencari daun kering dan basah. Selanjutnya daun-daun tersebut diiris kecil-kecil dan ditaruh dalam tong besar. Setelah itu dicampur dengan tanah dan pupuk kandang.
Kemudian ketiga campuran tersebut diaduk-aduk hingga rata. “Baru kemudian dimasukkan ke dalam plastik,” tegasnya.
Menurut Hari, kegiatan pembuatan pupuk kompos memanfaatkan sampah daun ini masuk dalam ekstrakurikuler sekolah. Kegiatan ini dilakukan setiap Rabu dan Sabtu.
“Kami berharap dengan kegiatan ini anak-anak semakin cinta terhadap lingkungan baik di sekitar tempat tinggal maupun di sekolah. Caranya dengan memanfaatkan sampah yang ada untuk dibuat pupuk kompos,” pungkasnya.(dc/fir)


COMMENTS