Penulis Dimas Bromo FM Senin 27/04/2015 KRAKSAAN - Tahun ini rencana areal tanam tembakau jenis Paiton Voor Oogst (Paiton VO) di...
Penulis Dimas Bromo FM
Senin 27/04/2015
KRAKSAAN - Tahun ini rencana areal tanam tembakau jenis Paiton Voor Oogst (Paiton VO) di Kabupaten Probolinggo mencapai 10.774 hektar (Ha). Angka ini sama persis dengan tahun sebelumnya. Rencana areal tanam tembakau ini setara dengan rencana pembelian tembakau sebesar 12.929 ton dengan asumsi produktifitasnya 1,2 ton per Ha.
Hal tersebut ditegaskan Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan (Disbunhut) Kabupaten Probolinggo Raharjo. Menurutnya, masalah tembakau itu klasik, di mana saat harganya naik, petani senang. Tetapi tatkala harganya turun, petani kebingungan.
“Padahal yang menentukan harga selain mutu adalah produksi dan permintaan. Jika permintaan sedikit dan produksinya banyak maka harga akan murah dan sebaliknya. Supaya antara permintaan dan produksi imbang, maka petani harus memperhatikan masa tanam sesuai kebutuhan gudang,” ungkapnya.
Mantan Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Pertanian (BKP4) Kabupaten Probolinggo ini mengharapkan, petani mulai menanam tembakau pada tanggal 25 Mei hingga akhir Juni 2015. Sehingga diperkirakan pertengahan Agustus 2015 sudah panen bersamaan dengan bukanya pembelian gudang.
“Persoalannya muncul pada saat gudang baru buka dan harganya mahal, petani baru mulai menanam tembakau. Sehingga tatkala panen, gudang sudah tutup. Tolong petani harus benar-benar memperhatikan masa tanam sehingga begitu panen bersamaan dengan bukanya gudang. Sebab berapapun itu pasti terbeli. Tapi kalau sudah tutup, tidak akan mungkin terbeli,” jelasnya.
Pria kelahiran Tegal, 5 Mei 1958 ini meminta supaya petani benar-benar memperhatikan kandungan unsur hara tanahnya. Sebab setiap daerah, unsur haranya berbeda-beda. Untuk mengurangi biaya produksi, pemupukan harus dilakukan dengan baik dan sesuai ukuran.
“Tetapi terkadang petani melakukan pemupukan tidak ada ukurannya. Sehingga ada kesan pemborosan dalam penggunaan pupuk,” tegasnya.
Menurut Raharjo, saat ini ada tujuh kecamatan di Kabupaten Probolinggo yang menjadi sentra tanaman tembakau. Yakni, Kecamatan Paiton, Kotaanyar, Pakuniran, Besuk, Krejengan, Kraksaan dan Gading.
“Saat ini kami sedang gencar melakukan sosialisasi rencana areal tanam tembakau mulai dari tingkat petani. Sehingga akhir bulan ini selesai dengan melibatkan unsur Forkopimda. Upaya ini penting dilakukan karena permasalahan tembakau itu klasik. Sehingga para petani sudah tahu langkah apa yang harus dilakukan dalam menghadapi masa tanam 2015,” pungkasnya. (maz/drs)
KRAKSAAN - Tahun ini rencana areal tanam tembakau jenis Paiton Voor Oogst (Paiton VO) di Kabupaten Probolinggo mencapai 10.774 hektar (Ha). Angka ini sama persis dengan tahun sebelumnya. Rencana areal tanam tembakau ini setara dengan rencana pembelian tembakau sebesar 12.929 ton dengan asumsi produktifitasnya 1,2 ton per Ha.
Hal tersebut ditegaskan Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan (Disbunhut) Kabupaten Probolinggo Raharjo. Menurutnya, masalah tembakau itu klasik, di mana saat harganya naik, petani senang. Tetapi tatkala harganya turun, petani kebingungan.
“Padahal yang menentukan harga selain mutu adalah produksi dan permintaan. Jika permintaan sedikit dan produksinya banyak maka harga akan murah dan sebaliknya. Supaya antara permintaan dan produksi imbang, maka petani harus memperhatikan masa tanam sesuai kebutuhan gudang,” ungkapnya.
Mantan Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Pertanian (BKP4) Kabupaten Probolinggo ini mengharapkan, petani mulai menanam tembakau pada tanggal 25 Mei hingga akhir Juni 2015. Sehingga diperkirakan pertengahan Agustus 2015 sudah panen bersamaan dengan bukanya pembelian gudang.
“Persoalannya muncul pada saat gudang baru buka dan harganya mahal, petani baru mulai menanam tembakau. Sehingga tatkala panen, gudang sudah tutup. Tolong petani harus benar-benar memperhatikan masa tanam sehingga begitu panen bersamaan dengan bukanya gudang. Sebab berapapun itu pasti terbeli. Tapi kalau sudah tutup, tidak akan mungkin terbeli,” jelasnya.
Pria kelahiran Tegal, 5 Mei 1958 ini meminta supaya petani benar-benar memperhatikan kandungan unsur hara tanahnya. Sebab setiap daerah, unsur haranya berbeda-beda. Untuk mengurangi biaya produksi, pemupukan harus dilakukan dengan baik dan sesuai ukuran.
“Tetapi terkadang petani melakukan pemupukan tidak ada ukurannya. Sehingga ada kesan pemborosan dalam penggunaan pupuk,” tegasnya.
Menurut Raharjo, saat ini ada tujuh kecamatan di Kabupaten Probolinggo yang menjadi sentra tanaman tembakau. Yakni, Kecamatan Paiton, Kotaanyar, Pakuniran, Besuk, Krejengan, Kraksaan dan Gading.
“Saat ini kami sedang gencar melakukan sosialisasi rencana areal tanam tembakau mulai dari tingkat petani. Sehingga akhir bulan ini selesai dengan melibatkan unsur Forkopimda. Upaya ini penting dilakukan karena permasalahan tembakau itu klasik. Sehingga para petani sudah tahu langkah apa yang harus dilakukan dalam menghadapi masa tanam 2015,” pungkasnya. (maz/drs)



COMMENTS