Penulis Dimaz Bromo FM Kamis 30/04/2015 KRAKSAAN – Sedikitnya 127 perawat dari 125 Pondok Kesehatan Desa (Ponkesdes) mendapatk...
Penulis Dimaz Bromo FM
Kamis 30/04/2015
KRAKSAAN – Sedikitnya 127 perawat dari 125 Pondok Kesehatan Desa (Ponkesdes) mendapatkan pembinaan dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo, Senin hingga Rabu (27-29/4).
Dalam kesempatan tersebut, perwakilan perawat ponkesdes memaparkan kegiatannya dihadapan Sekretaris Dinkes Sentot Dwi Hendriyono beserta seluruh Kepala Bidang (Kabid) di lingkungan Dinkes Kabupaten Probolinggo.
”Pembinaan ini dilakukan untuk mengevaluasi kinerja dari para perawat ponkesdes serta hasil kegiatan kinerja mereka dilapangan. Selain itu untuk memberikan informasi program terbaru dari masing-masing bidang di Dinas Kesehatan,” ungkap Kepala Dinkes dr. Shodiq Tjahjono melalui Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan dr. Sri Wahjuni Dyah Martiningsih.
Perempuan kelahiran Madiun, 17 Maret 1963 ini menjelaskan ponkesdes adalah sarana pelayanan kesehatan yang berada di desa atau kelurahan yang merupakan pengembangan dari Pondok Bersalin Desa (Polindes) sebagai jaringan puskesmas dengan tenaga minimal perawat dan bidan dalam rangka mendekatkan akses dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
“Ponkesdes terdiri dari bidan dan perawat. Dalam melaksanakan tugas mereka harus saling bekerja sama dengan baik dengan lintas sektoral sehingga bisa memberikan pelayanan kepada masyarakat secara maksimal. Misalnya dalam program KIA, perawat juga ikut berperan selain bidan. Artinya harus ada kolaborasi antara bidan dan perawat,” jelasnya.
Melalui pembinaan ini Dyah mengharapkan agar angka kematian sesuai dengan komitmen Milenium Development Goals (MDG’s) bisa menurun. Tetapi semua itu tentunya harus ada kerja sama antara bidan dan perawat. Selain itu dibutuhkan pula partisipasi dari masyarakat.
“Kegiatan ini merupakan salah satu bagian terpenting dalam memberikan pembinaan terhadap perawat selain kunjungan ke lapangan. Sebab kesehatan itu tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Butuh dukungan dari masyarakat supaya tugas bidan dan perawat bisa berjalan dengan baik,” tandasnya. (wan/drs)
Dalam kesempatan tersebut, perwakilan perawat ponkesdes memaparkan kegiatannya dihadapan Sekretaris Dinkes Sentot Dwi Hendriyono beserta seluruh Kepala Bidang (Kabid) di lingkungan Dinkes Kabupaten Probolinggo.
”Pembinaan ini dilakukan untuk mengevaluasi kinerja dari para perawat ponkesdes serta hasil kegiatan kinerja mereka dilapangan. Selain itu untuk memberikan informasi program terbaru dari masing-masing bidang di Dinas Kesehatan,” ungkap Kepala Dinkes dr. Shodiq Tjahjono melalui Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan dr. Sri Wahjuni Dyah Martiningsih.
Perempuan kelahiran Madiun, 17 Maret 1963 ini menjelaskan ponkesdes adalah sarana pelayanan kesehatan yang berada di desa atau kelurahan yang merupakan pengembangan dari Pondok Bersalin Desa (Polindes) sebagai jaringan puskesmas dengan tenaga minimal perawat dan bidan dalam rangka mendekatkan akses dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
“Ponkesdes terdiri dari bidan dan perawat. Dalam melaksanakan tugas mereka harus saling bekerja sama dengan baik dengan lintas sektoral sehingga bisa memberikan pelayanan kepada masyarakat secara maksimal. Misalnya dalam program KIA, perawat juga ikut berperan selain bidan. Artinya harus ada kolaborasi antara bidan dan perawat,” jelasnya.
Melalui pembinaan ini Dyah mengharapkan agar angka kematian sesuai dengan komitmen Milenium Development Goals (MDG’s) bisa menurun. Tetapi semua itu tentunya harus ada kerja sama antara bidan dan perawat. Selain itu dibutuhkan pula partisipasi dari masyarakat.
“Kegiatan ini merupakan salah satu bagian terpenting dalam memberikan pembinaan terhadap perawat selain kunjungan ke lapangan. Sebab kesehatan itu tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Butuh dukungan dari masyarakat supaya tugas bidan dan perawat bisa berjalan dengan baik,” tandasnya. (wan/drs)



COMMENTS