Dicko Bromo FM Rabu 01/04/2015 Probolinggo – Kenaikan bahan bakar minyak (BBM) pada Sabtu (28/3/2015) lalu, para nelayan sangat m...
Dicko Bromo FM
Rabu 01/04/2015
Probolinggo – Kenaikan bahan bakar minyak (BBM) pada Sabtu (28/3/2015) lalu, para nelayan sangat menyayangkan. Sebab di samping harga jual ikan yang anjlok, hasil tangkapan ikan makin sepi. Hal itu menjadikan ratusan nelayan di Kabupaten Probolinggo, juga kesulitan melaut karena harga solar yang naik, sehingga kerap merugikan mereka.
Dari ratusan nelayan, sebagian besar ada yang lebih memilih memperbaiki alat tangkapan ikannya di bibir pantai. Seperti jaring ikan dan lain sebagainya, para nelayan lebih antusias beraktifitas didalam kapal untuk mengkroscek segala sesuatunya untuk persiapan melaut ketika ikan mulai banyak dan harapan mereka dengan turunnya harga BBM.
H.Dhofir, salah satu nelayan setempat mengatakan kalau dirinya dan nelayan yang lain merugi jutaan rupiah, sebab selain tangkapan ikan sepi dan harga ikan anjlok serta BBM naik, para nelayan kelimpungan. “Kami berharap harga BBM kembali normal. Sedangkan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) bersubsidi disini sudah lama mangkrak tidak difungsikan,”aku Dhofir.
Sementara Muji Suwito, Kabid Unit Pengelola Pelabuhan Perikanan Pantai (UPPP) Paiton, mengungkapkan bahwa para nelayan tetap memaksakan diri untuk bekerja,sebab tidak ada pekerjaan lainnya untuk mereka, meskipun hanya memperbaiki jaring ikan dan hasil tangkapan ikan sangat sepi.
“Para nelayan disini bisa dikatakan sangat terpaksa bekerja menjaring ikan ke tengah laut. Sebab, sebagai warga pesisir tidak ada lahan lain untuk bekerja. Mereka mengeluh dengan naiknya harga BBM saat ini,”ungkapnya.(dc/fir)
Rabu 01/04/2015
Probolinggo – Kenaikan bahan bakar minyak (BBM) pada Sabtu (28/3/2015) lalu, para nelayan sangat menyayangkan. Sebab di samping harga jual ikan yang anjlok, hasil tangkapan ikan makin sepi. Hal itu menjadikan ratusan nelayan di Kabupaten Probolinggo, juga kesulitan melaut karena harga solar yang naik, sehingga kerap merugikan mereka.
Dari ratusan nelayan, sebagian besar ada yang lebih memilih memperbaiki alat tangkapan ikannya di bibir pantai. Seperti jaring ikan dan lain sebagainya, para nelayan lebih antusias beraktifitas didalam kapal untuk mengkroscek segala sesuatunya untuk persiapan melaut ketika ikan mulai banyak dan harapan mereka dengan turunnya harga BBM.
H.Dhofir, salah satu nelayan setempat mengatakan kalau dirinya dan nelayan yang lain merugi jutaan rupiah, sebab selain tangkapan ikan sepi dan harga ikan anjlok serta BBM naik, para nelayan kelimpungan. “Kami berharap harga BBM kembali normal. Sedangkan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) bersubsidi disini sudah lama mangkrak tidak difungsikan,”aku Dhofir.
Sementara Muji Suwito, Kabid Unit Pengelola Pelabuhan Perikanan Pantai (UPPP) Paiton, mengungkapkan bahwa para nelayan tetap memaksakan diri untuk bekerja,sebab tidak ada pekerjaan lainnya untuk mereka, meskipun hanya memperbaiki jaring ikan dan hasil tangkapan ikan sangat sepi.
“Para nelayan disini bisa dikatakan sangat terpaksa bekerja menjaring ikan ke tengah laut. Sebab, sebagai warga pesisir tidak ada lahan lain untuk bekerja. Mereka mengeluh dengan naiknya harga BBM saat ini,”ungkapnya.(dc/fir)


COMMENTS