Dicko : BromoFM Jum'at 06/03/2015 SUKAPURA - Aktivitas membatik semakin digemari warga Kabupaten Probolinggo. Selain motif dan corakn...
Dicko : BromoFM
Jum'at 06/03/2015
SUKAPURA - Aktivitas membatik semakin digemari warga Kabupaten Probolinggo. Selain motif dan coraknya bervariasi, harga kain batik juga terjangkau. Bahkan keterampilan membatik juga dipelajari para siswa seperti di SDN Wonokerto 1 Kecamatan Sukapura.
Kepala SDN Wonokerto 1 Suerlina mengungkapkan, pelatihan keterampilan membatik ini dilakukan sejak tahun 2013 silam. Kegiatan ini dimaksudkan untuk melestarikan budaya daerah. Apalagi sekolah yang dipimpinnya berada di lereng Gunung Bromo yang setiap harinya dilalui oleh para wisatawan.
“Ada dua jenis batik yang diajarkan kepada siswa, yakni batik jumputan dan batik tulis. Khusus untuk batik tulis, sudah ada beberapa motif yang dihasilkan. Seperti motif strawberry, Bromo dan alam. Intinya motifnya diambil dengan mengangkat potensi lokal,” ungkapnya.
Perempuan kelahiran Probolinggo, 12 Januari 1968 ini menjelaskan, pelatihan membatik ini bertujuan melatih anak didik kreatif sebagai upaya pendidikan keterampilan dalam mengembangkan bakat dan minat anak didiknya.
“Dengan kegiatan ini nantinya anak-anak mengetahui cara membatik sehingga bisa praktik langsung. Nanti pengembangan ke depannya bisa sebagai oleh-oleh yang diwujudkan dalam bentuk souvenir daerah wisata kawasan gunung Bromo,” jelasnya.
Menurut perempuan yang pernah menjadi guru di SDN Sukapura 2 ini, sebagian besar anak didiknya sudah mulai terampil membatik. Dimana untuk batik jumputan, dalam sehari bisa menghasilkan 16 potong. Jika lebih dimaksimalkan lagi, maka sehari bisa menghasilkan 50 potong.(dc/fir
)
Jum'at 06/03/2015
SUKAPURA - Aktivitas membatik semakin digemari warga Kabupaten Probolinggo. Selain motif dan coraknya bervariasi, harga kain batik juga terjangkau. Bahkan keterampilan membatik juga dipelajari para siswa seperti di SDN Wonokerto 1 Kecamatan Sukapura.Kepala SDN Wonokerto 1 Suerlina mengungkapkan, pelatihan keterampilan membatik ini dilakukan sejak tahun 2013 silam. Kegiatan ini dimaksudkan untuk melestarikan budaya daerah. Apalagi sekolah yang dipimpinnya berada di lereng Gunung Bromo yang setiap harinya dilalui oleh para wisatawan.
“Ada dua jenis batik yang diajarkan kepada siswa, yakni batik jumputan dan batik tulis. Khusus untuk batik tulis, sudah ada beberapa motif yang dihasilkan. Seperti motif strawberry, Bromo dan alam. Intinya motifnya diambil dengan mengangkat potensi lokal,” ungkapnya.
Perempuan kelahiran Probolinggo, 12 Januari 1968 ini menjelaskan, pelatihan membatik ini bertujuan melatih anak didik kreatif sebagai upaya pendidikan keterampilan dalam mengembangkan bakat dan minat anak didiknya.
“Dengan kegiatan ini nantinya anak-anak mengetahui cara membatik sehingga bisa praktik langsung. Nanti pengembangan ke depannya bisa sebagai oleh-oleh yang diwujudkan dalam bentuk souvenir daerah wisata kawasan gunung Bromo,” jelasnya.
Menurut perempuan yang pernah menjadi guru di SDN Sukapura 2 ini, sebagian besar anak didiknya sudah mulai terampil membatik. Dimana untuk batik jumputan, dalam sehari bisa menghasilkan 16 potong. Jika lebih dimaksimalkan lagi, maka sehari bisa menghasilkan 50 potong.(dc/fir
)


COMMENTS