Dicko : BreomoFM Sabtu 21/03/2015 DRINGU- Di sektor pertanian, musim hujan kurang cocok untuk menanam bawang. Namun, pada kenyataannya ma...
Dicko : BreomoFM
Sabtu 21/03/2015
DRINGU- Di sektor pertanian, musim hujan kurang cocok untuk menanam bawang. Namun, pada kenyataannya masih banyak petani menanam bawang. Mereka bahkan optimis tanaman mereka akan memberikan keuntungan meski tidak signifikan.
Zainullah, petani asal Desa/Kecamatan Dringu mengaku tetap menanam bawang meski diprediksi hasilnya kurang baik. Bawang merah petani yang dipanen pada Oktober terjual dengan harga murah. Dalam 1 kuintal bawang kualitas sedang, pedagang hanya membeli sebesar Rp 400 ribu. “Dari pada dijual, lebih baik kami tanam bulan ini,” ungkapnya.
Rendahnya harga jual hasil panen itu membuatnya merugi hingga puluhan juta rupiah. Dalam masa panen Oktober, ia mengeluarkan biaya produksi sebesar Rp40 juta. Baik untuk membeli bibit, sewa lahan, hingga ongkos petani. Sementara hasil panennya hanya Rp25 juta saja. “Akhirnya saya putuskan bulan ini menanam bawang lagi. Biasanya Februari nanti bawang mahal harganya. Kalau ditanam Desember, panennya kan Februari,” katanya.
Zainullah sendiri hanya mengaku langkahnya kali ini spekulatif. Namun, ia tetap optimis meski hasil bawang pada musim hujan tidak sebaik musim kemarau. Justru kondisi itu diyakininya akan membuat harga bawang akan mahal. “Semoga saja nanti mahal. Kalau memang tetap murah, berarti nasib belum beruntung,” katanya.
Minusnya, bawang yang ditanam pada musim hujan rentan mengalami kerusakan. Sebab hampir setiap hari diguyur hujan. Akibatnya, banyak ditumbuhi jamur yang akan memperlambat proses pembuahan bawang. “Itu tadi, kalau barangnya sedikit, harganya akan tinggi. Itu sudah hukum pasar,” pungkasnya.(dc/fir)
Sabtu 21/03/2015
DRINGU- Di sektor pertanian, musim hujan kurang cocok untuk menanam bawang. Namun, pada kenyataannya masih banyak petani menanam bawang. Mereka bahkan optimis tanaman mereka akan memberikan keuntungan meski tidak signifikan.Zainullah, petani asal Desa/Kecamatan Dringu mengaku tetap menanam bawang meski diprediksi hasilnya kurang baik. Bawang merah petani yang dipanen pada Oktober terjual dengan harga murah. Dalam 1 kuintal bawang kualitas sedang, pedagang hanya membeli sebesar Rp 400 ribu. “Dari pada dijual, lebih baik kami tanam bulan ini,” ungkapnya.
Rendahnya harga jual hasil panen itu membuatnya merugi hingga puluhan juta rupiah. Dalam masa panen Oktober, ia mengeluarkan biaya produksi sebesar Rp40 juta. Baik untuk membeli bibit, sewa lahan, hingga ongkos petani. Sementara hasil panennya hanya Rp25 juta saja. “Akhirnya saya putuskan bulan ini menanam bawang lagi. Biasanya Februari nanti bawang mahal harganya. Kalau ditanam Desember, panennya kan Februari,” katanya.
Zainullah sendiri hanya mengaku langkahnya kali ini spekulatif. Namun, ia tetap optimis meski hasil bawang pada musim hujan tidak sebaik musim kemarau. Justru kondisi itu diyakininya akan membuat harga bawang akan mahal. “Semoga saja nanti mahal. Kalau memang tetap murah, berarti nasib belum beruntung,” katanya.
Minusnya, bawang yang ditanam pada musim hujan rentan mengalami kerusakan. Sebab hampir setiap hari diguyur hujan. Akibatnya, banyak ditumbuhi jamur yang akan memperlambat proses pembuahan bawang. “Itu tadi, kalau barangnya sedikit, harganya akan tinggi. Itu sudah hukum pasar,” pungkasnya.(dc/fir)


COMMENTS