Dicko ; BromoFM Minggu 01/03/2015 TONGAS - Sebagai bentuk perhatian kepada para Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), Dinas Pendidikan (Dispend...
Dicko ; BromoFM
Minggu 01/03/2015
TONGAS - Sebagai bentuk perhatian kepada para Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Probolinggo menargetkan, membuka sekolah inklusi mulai tahun ajaran 2015-2016 mendatang.
Meskipun belum resmi dibentuk sekolah inklusi, SDN Tongas Wetan 1 telah melakukan berbagai persiapan. Salah satunya dengan menerima pendaftaran siswa ABK sejak tahun pelajaran 2013-2014.
Kepala SDN Tongas Wetan 1 Maini Yudiningsih mengungkapkan, dalam menangani ABK, ada banyak hal yang bisa dilakukan. Antara lain dengan memberikan perhatian lebih kepada anak tersebut, memberikan waktu yang lebih banyak untuk membantu perkembangan berpikirnya, memberikan penguatan tersendiri, bahkan dengan tidak melihat ruang dan waktu.
“Berasumsi bahwa setiap anak mempunyai naluri yang sama, ternyata Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) ini justru mempunyai bentuk ikatan hati sambung rasa yang kuat yang menjadikannya merasa mendapatkan hak nya secara utuh di sekolah dengan tidak ada rasa deskriminasi dari guru atau teman-temannya,” ungkapnya.
Saat ini ada dua ABK yang memerlukan layanan khusus di SDN Tongas Wetan 1. Yakni, Najib yang mengalami kesulitan belajar hampir di semua mata pelajaran (lamban belajar). Selain itu Fitra dengan kasus yang sama (lamban belajar) yang berasal dari keluarga miskin. Orang tua Fitra berpenghasilan rata-rata per bulan Rp 300 ribu dengan jumlah 4 orang keluarga tertanggung.
“Karena siswanya khusus, maka pelayanannya juga khusus. Siapapun yang diminta untuk menemani, maka harus ditemani. Begitu pula dengan tempat belajarnya disesuaikan dengan keinginan siswa,” jelasnya.
Maini mengaku, sempat khawatir kehilangan murid saat menerima ABK. Tetapi pihaknya bertekad ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa semua anak didik tidak ada bedanya.
“Kita sama-sama makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan berhak mendapatkan pendidikan seluas-luasnya tanpa diskriminasi, termasuk bagi mereka Anak Berkebutuhan Khusus. Program layanan khusus ini juga kami sosialisasikan kepada masyarakat sekitar agar tidak berdampak kurang baik terhadap image sekolah,” pungkasnya.
Minggu 01/03/2015
TONGAS - Sebagai bentuk perhatian kepada para Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Probolinggo menargetkan, membuka sekolah inklusi mulai tahun ajaran 2015-2016 mendatang.Meskipun belum resmi dibentuk sekolah inklusi, SDN Tongas Wetan 1 telah melakukan berbagai persiapan. Salah satunya dengan menerima pendaftaran siswa ABK sejak tahun pelajaran 2013-2014.
Kepala SDN Tongas Wetan 1 Maini Yudiningsih mengungkapkan, dalam menangani ABK, ada banyak hal yang bisa dilakukan. Antara lain dengan memberikan perhatian lebih kepada anak tersebut, memberikan waktu yang lebih banyak untuk membantu perkembangan berpikirnya, memberikan penguatan tersendiri, bahkan dengan tidak melihat ruang dan waktu.
“Berasumsi bahwa setiap anak mempunyai naluri yang sama, ternyata Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) ini justru mempunyai bentuk ikatan hati sambung rasa yang kuat yang menjadikannya merasa mendapatkan hak nya secara utuh di sekolah dengan tidak ada rasa deskriminasi dari guru atau teman-temannya,” ungkapnya.
Saat ini ada dua ABK yang memerlukan layanan khusus di SDN Tongas Wetan 1. Yakni, Najib yang mengalami kesulitan belajar hampir di semua mata pelajaran (lamban belajar). Selain itu Fitra dengan kasus yang sama (lamban belajar) yang berasal dari keluarga miskin. Orang tua Fitra berpenghasilan rata-rata per bulan Rp 300 ribu dengan jumlah 4 orang keluarga tertanggung.
“Karena siswanya khusus, maka pelayanannya juga khusus. Siapapun yang diminta untuk menemani, maka harus ditemani. Begitu pula dengan tempat belajarnya disesuaikan dengan keinginan siswa,” jelasnya.
Maini mengaku, sempat khawatir kehilangan murid saat menerima ABK. Tetapi pihaknya bertekad ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa semua anak didik tidak ada bedanya.
“Kita sama-sama makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan berhak mendapatkan pendidikan seluas-luasnya tanpa diskriminasi, termasuk bagi mereka Anak Berkebutuhan Khusus. Program layanan khusus ini juga kami sosialisasikan kepada masyarakat sekitar agar tidak berdampak kurang baik terhadap image sekolah,” pungkasnya.


COMMENTS