Dicko : BromoFM Senin 09/03/2015 GENDING - Dalam rangka menyikapi melambungnya harga beras, Komisi B DPRD Kabupaten Probolinggo, Senin (9...
Dicko : BromoFM
Senin 09/03/2015
GENDING - Dalam rangka menyikapi melambungnya harga beras, Komisi B DPRD Kabupaten Probolinggo, Senin (9/3) mengunjungi kantor Perum Bulog Sub Divisi Regional (Subdivre) Probolinggo. Rombongan Komisi B yang dipimpin Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Probolinggo Moh. Said didampingi Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Probolinggo M. Sidik Widjanarko, diterima Kepala Perum Bulog Subdivre Probolinggo Zaenal.
Dalam kesempatan itu Said meminta agar Bulog menunjukkan standar beras yang layak dikonsumsi. Mulai dari ketentuan-ketentuan apa saja yang mengatur tentang kualitas beras, kadar remuk (broken) hingga benda asing. “Kami meminta agar beras di gudang Bulog ini beras lokal dan bukan impor,” ungkapnya.
Bulog juga diminta setiap ada kegiatan agar bisa menyosialisasikan kepada masyarakat terkait kualitas beras yang bagus sehingga hasil panen bisa terserap. “Tolong disosialisasikan kepada warga di sentra padi dan petani yang siap menjual hasil panennya sehingga tidak perlu lewat jalur tengkulak,” jelasnya.
Sementara Sidik mengatakan, kunjungan kerja Komisi B DPRD ini menyusul adanya informasi harga beras di masyarakat yang naik hingga Rp 10.700/kg. Tetapi setelah ditelusuri, ternyata beras yang dijual masyarakat adalah jenis IR 64 Premium.
“Biasanya kalau harganya naik, kami langsung melakukan operasi pasar bekerja sama dengan Perum Bulog Subdivre Probolinggo. Beras yang dijual adalah jenis IR 64 Medium dengan harga Rp 7.300 per kilogram dengan kemasan 5 kilogram,” ungkapnya.
Sedangkan Zaenal mengungkapkan, saat ini stok beras di gudang Perum Bulog Subdivre Probolinggo mencapai 27.000 ton. “Stok ini cukup untuk konsumsi 7 bulan ke depan,” ujarnya.
Terkait keluhan masyarakat tentang jeleknya kualitas beras saat operasi pasar, Zaenal mengatakan, beras tersebut merupakan pengadaan bulan September 2014 lalu. Di mana broken-nya mencapai 20%. Artinya dalam 1 kg beras, campuran pecah-pecah (remuk)-nya mencapai 2 ons.
“Kalau untuk Raskin (beras untuk warga miskin, Red.), kami menggunakan beras pengadaan bulan April 2014. Biasanya berasnya agak kuning. Tetapi beras itu tidak apek dan masih layak untuk dikonsumsi. Jika ada yang rusak silakan bisa dikembalikan ke kami,” jelasnya.
Zaenal menjelaskan, pada April-Mei pihaknya berkonsentrasi pada pembelian gabah. Oleh karena itu, para petani bisa menghubungi Gapoktan dan Satgas Bulog. “Tetapi kami masih belum bisa mengeluarkan harga karena masih menunggu keputusan Kementan dan Kemendag,” pungkasnya.(dc/fir)
Senin 09/03/2015
GENDING - Dalam rangka menyikapi melambungnya harga beras, Komisi B DPRD Kabupaten Probolinggo, Senin (9/3) mengunjungi kantor Perum Bulog Sub Divisi Regional (Subdivre) Probolinggo. Rombongan Komisi B yang dipimpin Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Probolinggo Moh. Said didampingi Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Probolinggo M. Sidik Widjanarko, diterima Kepala Perum Bulog Subdivre Probolinggo Zaenal.
Dalam kesempatan itu Said meminta agar Bulog menunjukkan standar beras yang layak dikonsumsi. Mulai dari ketentuan-ketentuan apa saja yang mengatur tentang kualitas beras, kadar remuk (broken) hingga benda asing. “Kami meminta agar beras di gudang Bulog ini beras lokal dan bukan impor,” ungkapnya.
Bulog juga diminta setiap ada kegiatan agar bisa menyosialisasikan kepada masyarakat terkait kualitas beras yang bagus sehingga hasil panen bisa terserap. “Tolong disosialisasikan kepada warga di sentra padi dan petani yang siap menjual hasil panennya sehingga tidak perlu lewat jalur tengkulak,” jelasnya.
Sementara Sidik mengatakan, kunjungan kerja Komisi B DPRD ini menyusul adanya informasi harga beras di masyarakat yang naik hingga Rp 10.700/kg. Tetapi setelah ditelusuri, ternyata beras yang dijual masyarakat adalah jenis IR 64 Premium.
“Biasanya kalau harganya naik, kami langsung melakukan operasi pasar bekerja sama dengan Perum Bulog Subdivre Probolinggo. Beras yang dijual adalah jenis IR 64 Medium dengan harga Rp 7.300 per kilogram dengan kemasan 5 kilogram,” ungkapnya.
Sedangkan Zaenal mengungkapkan, saat ini stok beras di gudang Perum Bulog Subdivre Probolinggo mencapai 27.000 ton. “Stok ini cukup untuk konsumsi 7 bulan ke depan,” ujarnya.
Terkait keluhan masyarakat tentang jeleknya kualitas beras saat operasi pasar, Zaenal mengatakan, beras tersebut merupakan pengadaan bulan September 2014 lalu. Di mana broken-nya mencapai 20%. Artinya dalam 1 kg beras, campuran pecah-pecah (remuk)-nya mencapai 2 ons.
“Kalau untuk Raskin (beras untuk warga miskin, Red.), kami menggunakan beras pengadaan bulan April 2014. Biasanya berasnya agak kuning. Tetapi beras itu tidak apek dan masih layak untuk dikonsumsi. Jika ada yang rusak silakan bisa dikembalikan ke kami,” jelasnya.
Zaenal menjelaskan, pada April-Mei pihaknya berkonsentrasi pada pembelian gabah. Oleh karena itu, para petani bisa menghubungi Gapoktan dan Satgas Bulog. “Tetapi kami masih belum bisa mengeluarkan harga karena masih menunggu keputusan Kementan dan Kemendag,” pungkasnya.(dc/fir)


COMMENTS