Dicko Bromo FM Rabu 04/02/2015 KRAKSAAN - Krupuk ikan jenggalak, masih terbilang tidak lazim bagi sebagian warga Kabupaten Probolin...
Dicko Bromo FM
Rabu 04/02/2015
KRAKSAAN
- Krupuk ikan jenggalak, masih terbilang tidak lazim bagi sebagian
warga Kabupaten Probolinggo, bahkan jika di banding dengan krupuk
tengiri, krupuk ini kalah tenar. Namun, di Dusun Koloran, Desa Gebangan,
Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo, krupuk ini di produksi oleh
sebagian warganya.
Ibu-ibu dan pemuda ini tergabung dalam kelompok usaha bersama Ansor mandiri.Kelompok ini memproduksi krupuk ikan jenggalak dan krupuk waluh. Dalam proses pembuatan krupuk, mereka mampu menghabiskan ikan jenggalak sebanyak 25 kg per hari. Industri krupuk ini memberdayakan warga sekitar, terutama ibu-ibu, serta pemudadesa.
Walau masih merupakan home industri, namun produk kelompok ini sudah menjangkau hingga Surabaya, Muncar dan Bali. Meski begitu, mereka tidak melupakan pasar lokal, yakni Probolinggo dan sekitarnya.
Mohamad Ishaq (27), warga Dusun Koloran, Desa gebangan, Kecamatan Krejengan, yang mempelopori pembuatan krupuk ikan janggalak. Menurutnya, sekitar 2013 yang lalu, iamembuat krupuk iniuntuk di konsumsi keluarganya.
Bersama Nur Wahyuni (istrinya), dirinyamengajak ibu-ibu pengajian karena melihat kondisi mereka yang memprihatinkan secara ekonomi. Ibu-ibu ini adalah buruhtani yang setelah musim tanam biasanya menganggur serta tidak mempunyai penghasilan tambahan. “Harapannya, mereka hidup lebihlayak,”ujarnya.
Ia menuturkan pembuatan krupuk Jenggalak sangat mudah. Pertama kali ikanjenggalak, dicuci dan daging ikan dipisahkan dari tulang serta kepalanya. Kemudian daging ikan di blender, setelah halus baru dicampur dengan tepung tapioka. Dengan komposisi 25 kg daging ikan jenggalak dicampur dengan 10 kg tepung tapioka serta bumbu. Lantas adonan digulung lonjong, kemudian gulungan ini dikukus selama 5 jam dengan api sedang . Gulungan yang sudah matang ini kemudian di iris menggunakan pisau dan di jemur selama satu hari penuh.“Pembuatan krupuk ini cukup mudah, ikannya di dapat dari nelayan Desa Kalibuntu,” tuturnya.
Menurut ayah satuanya kini, krupuk ikan ini pernah di permasalahkan oleh ketika di pasarkan ke Surabaya. Di Surabaya, krupuk produksi kelompoknya, disia-siakan karena tidak mempunyai ijin dari Dinas Kesehatan. Pengalaman yang terjadi di Surabaya ini, membuat ia berinisiatif mengajukan ijin kepada Dinas Kesehatan setempat.(dc/fir)
Rabu 04/02/2015
KRAKSAAN
- Krupuk ikan jenggalak, masih terbilang tidak lazim bagi sebagian
warga Kabupaten Probolinggo, bahkan jika di banding dengan krupuk
tengiri, krupuk ini kalah tenar. Namun, di Dusun Koloran, Desa Gebangan,
Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo, krupuk ini di produksi oleh
sebagian warganya.Ibu-ibu dan pemuda ini tergabung dalam kelompok usaha bersama Ansor mandiri.Kelompok ini memproduksi krupuk ikan jenggalak dan krupuk waluh. Dalam proses pembuatan krupuk, mereka mampu menghabiskan ikan jenggalak sebanyak 25 kg per hari. Industri krupuk ini memberdayakan warga sekitar, terutama ibu-ibu, serta pemudadesa.
Walau masih merupakan home industri, namun produk kelompok ini sudah menjangkau hingga Surabaya, Muncar dan Bali. Meski begitu, mereka tidak melupakan pasar lokal, yakni Probolinggo dan sekitarnya.
Mohamad Ishaq (27), warga Dusun Koloran, Desa gebangan, Kecamatan Krejengan, yang mempelopori pembuatan krupuk ikan janggalak. Menurutnya, sekitar 2013 yang lalu, iamembuat krupuk iniuntuk di konsumsi keluarganya.
Bersama Nur Wahyuni (istrinya), dirinyamengajak ibu-ibu pengajian karena melihat kondisi mereka yang memprihatinkan secara ekonomi. Ibu-ibu ini adalah buruhtani yang setelah musim tanam biasanya menganggur serta tidak mempunyai penghasilan tambahan. “Harapannya, mereka hidup lebihlayak,”ujarnya.
Ia menuturkan pembuatan krupuk Jenggalak sangat mudah. Pertama kali ikanjenggalak, dicuci dan daging ikan dipisahkan dari tulang serta kepalanya. Kemudian daging ikan di blender, setelah halus baru dicampur dengan tepung tapioka. Dengan komposisi 25 kg daging ikan jenggalak dicampur dengan 10 kg tepung tapioka serta bumbu. Lantas adonan digulung lonjong, kemudian gulungan ini dikukus selama 5 jam dengan api sedang . Gulungan yang sudah matang ini kemudian di iris menggunakan pisau dan di jemur selama satu hari penuh.“Pembuatan krupuk ini cukup mudah, ikannya di dapat dari nelayan Desa Kalibuntu,” tuturnya.
Menurut ayah satuanya kini, krupuk ikan ini pernah di permasalahkan oleh ketika di pasarkan ke Surabaya. Di Surabaya, krupuk produksi kelompoknya, disia-siakan karena tidak mempunyai ijin dari Dinas Kesehatan. Pengalaman yang terjadi di Surabaya ini, membuat ia berinisiatif mengajukan ijin kepada Dinas Kesehatan setempat.(dc/fir)


COMMENTS