Dicko : BromoFM Jum'at 02/01/2015 Sebagai tenaga pengajar di dunia pendidikan, seorang perempuan bernama Suciyati tak pernah meras...
Dicko : BromoFM
Jum'at 02/01/2015
Sebagai tenaga pengajar di dunia pendidikan, seorang perempuan bernama Suciyati tak pernah merasa mengluh selama dirinya menjadi seorang guru. Hal ini terungkap saat media menemui gadis singgle ini di sekolahnya. Perempuan yang akrab disapa Yati ini menuturka, kalau dirinya selama mengajar siswa SD tak pernah merasa lelah, meskipun menemui hambatan apapun.
“Hambatan itu sudah biasa, dibidang apapun pastinya akan bertemu dengan y ang namanya hambatan atau masalah. Dari sanalah kesabaran di uji. Apa lagi sebagai tenaga pendidik, tiu harus mempunyai dasar dan ketelatenan untuk menjalaninya,”kata Yati yang gemar menjahit ini.
Yati kelahiran Probolinggo 10 April 1985 ini mengaku, meskipun dirinya bertahun-tahun menjadi guru suka relawan, namun optimis yang ia milliki tak pernah berkurang. Bahkan, dirinya sangat mebanggakan ketika diberi tugas-tugas dari sekolah.
“Saya rasa akalau tugas yang diberikan kepada kita itu patut dibanggakan, sebab, dari sanalah kepercayaan dari dewan guru tertuju kepada kita. Menolak sebuah pekerjaan yang di tujukan kepada kita itu suatu keburukan. Tetap menjaga kesehatan dan tak mengenal lelah, itulah guru yang profesional dan berungguh-sungguh,”ucapnya.
Mengajar anak didik harus penuh semangat. Metode pembelajaran yang digunakan Yati pun beragam,bisa dikatakan bermain sambil belajar, bagitu ketika diluar sekolah dirinya berupaya mendidik siswanya ketika bertemu dengan anak didiknya.
“Hal itu akan menambah pengetahuan terhadap siswa, jadi bagi saya mengajar itu tidak harus di dalam kelas, diluar sekolahpun bisa kita tunjukan cara menddik terhadap murid. Seorang guru harus selalu berperilau baik meskipun di luar jam sekolah. Karena kita tidak tahu seaktu-waktu kita bertemu dengan murid, apalgi dengan wali murid,”jelas Yati.(dc/fir)
Jum'at 02/01/2015
“Hambatan itu sudah biasa, dibidang apapun pastinya akan bertemu dengan y ang namanya hambatan atau masalah. Dari sanalah kesabaran di uji. Apa lagi sebagai tenaga pendidik, tiu harus mempunyai dasar dan ketelatenan untuk menjalaninya,”kata Yati yang gemar menjahit ini.
Yati kelahiran Probolinggo 10 April 1985 ini mengaku, meskipun dirinya bertahun-tahun menjadi guru suka relawan, namun optimis yang ia milliki tak pernah berkurang. Bahkan, dirinya sangat mebanggakan ketika diberi tugas-tugas dari sekolah.
“Saya rasa akalau tugas yang diberikan kepada kita itu patut dibanggakan, sebab, dari sanalah kepercayaan dari dewan guru tertuju kepada kita. Menolak sebuah pekerjaan yang di tujukan kepada kita itu suatu keburukan. Tetap menjaga kesehatan dan tak mengenal lelah, itulah guru yang profesional dan berungguh-sungguh,”ucapnya.
Mengajar anak didik harus penuh semangat. Metode pembelajaran yang digunakan Yati pun beragam,bisa dikatakan bermain sambil belajar, bagitu ketika diluar sekolah dirinya berupaya mendidik siswanya ketika bertemu dengan anak didiknya.
“Hal itu akan menambah pengetahuan terhadap siswa, jadi bagi saya mengajar itu tidak harus di dalam kelas, diluar sekolahpun bisa kita tunjukan cara menddik terhadap murid. Seorang guru harus selalu berperilau baik meskipun di luar jam sekolah. Karena kita tidak tahu seaktu-waktu kita bertemu dengan murid, apalgi dengan wali murid,”jelas Yati.(dc/fir)


COMMENTS