Dicko : BromoFM Kamis 01/01/2015 PAITON -Tindak kekerasan bisa menimpa kepada siapa saja, termasuk terhdap kerabat kita, tetangga, bahk...
Dicko : BromoFM
Kamis 01/01/2015
PAITON-Tindak kekerasan bisa menimpa kepada siapa saja, termasuk terhdap kerabat kita, tetangga, bahkan terhadap anak-anak kita. Apa lagi tindak kejahatan seperti Human trafficking alias perdagangan manusia yang saat ini kerap terjadi.
Perdagangan manusia yang terjadi masuk dalam kategori prostitusi yang ikut melibatkan anak-anak menjadi objek eksploitasi seksual.
Menurut PBB, Indonesia sendiri memasuki peringkat ke-2 sebagai negara yang paling banyak terjadi perdagangan manusia. Indonesia dicap sebagai pengirim, penampung dan sekaligus memproduksi aksi kejahatan ini. Sebab maraknya kondisi ini lantaran himpitan ekonomi yang kian mendesak.
"karenanya kami ingin mendorong budaya anti kekerasan kepada perempuan dan anak,” ungkap KH Abdul Hamid Wahid saat dialog interaktif “Korban Trafficking dan Perlindungan Kejahatan Terhadap Anak” di Aula SMA Nurul Jadid, Minggu (28/12/2014) lalu.
Ia mengatakan, para korban perdagangan manusia seperti PSK, tidak mengetahui bila ternyata merupakan korban kejahatan. Lantaran mendapatkan iming-iming uang, mereka rela menemani pria hidung belang yang kemudian berakhir pada penyakit seksual.
“Namun yang lebih penting adalah mengatasi kondisi korban pasca kekerasan dan eksploitasi seksual yaitu support for survival atau dukungan kepada korban agar tidak menyerah dan terus bertahan hidup. Hal ini karena biasanya setelah mengetahui kondisinya, para korban mengalami depresi, suka menyakiti diri sendiri dengan tidak makan, tidak tidur hingga bunuh diri,” tuturnya.
Menurutnya, bukan hanya korban, juga perlu fokus pada keluarga yang berpotensi memberikan dampak langsung bagi korban, misalnya dikucilkan dan lain sebagainya.
“Apalagi masyarakat Indonesia paling mudah dipengaruhi oleh labelling (pelabelan atau pencitraan) yang sebenarnya dikategorikan sebagai korban,” kata salah satu pengasuh di Ponpes Nurul Jadid tersebut.
Hal dibenarkan Yohanis, dari yayasan Embun Surabaya, penggiat pada pendampingan korban trafficking. Berdasarkan pengalamannya selama kurun waktu 9 tahun dalam penanganan korban kekerasan pada anak dan perempuan, ia mengatakan bahwa korban cenderung tertutup, bahkan berbohong saat memberikan laporan pada konselor.
Berbagai macam cara atau modus digunakan oleh para pelaku perdagangan orang (trafficking) di Indonesia, misalnya yang dialami Bunga, bukan nama sebenarnya. Ia diiming-imingi menjadi pekerja restoran di Kalimantan, namun ternyata dirinya malah dipekerjakan di warung dan diskotek untuk melayani para tamu.
"Saya dibujuk teman sekolah. Katanya bekerja di restoran cepat saji. Tetapi malah saya dijebak dan dijual," ungkapnya saat menceritakan kisah kelamnya pada peserta dialog.
Peran orang tua juga sangat berpengaruh dalam praktek kejahatan ini, kebanyakan dari mereka yang terjebak dalam lingkaran setan itu berasal dari keluarga broken home. orang tua mereka seringkali mengabaikannya karena kesibukan aktifitas pekerjaan. sehingga si anak merasa tidak menndapat perhatian.(dc/fir)
Kamis 01/01/2015
PAITON-Tindak kekerasan bisa menimpa kepada siapa saja, termasuk terhdap kerabat kita, tetangga, bahkan terhadap anak-anak kita. Apa lagi tindak kejahatan seperti Human trafficking alias perdagangan manusia yang saat ini kerap terjadi.
Perdagangan manusia yang terjadi masuk dalam kategori prostitusi yang ikut melibatkan anak-anak menjadi objek eksploitasi seksual.
Menurut PBB, Indonesia sendiri memasuki peringkat ke-2 sebagai negara yang paling banyak terjadi perdagangan manusia. Indonesia dicap sebagai pengirim, penampung dan sekaligus memproduksi aksi kejahatan ini. Sebab maraknya kondisi ini lantaran himpitan ekonomi yang kian mendesak.
"karenanya kami ingin mendorong budaya anti kekerasan kepada perempuan dan anak,” ungkap KH Abdul Hamid Wahid saat dialog interaktif “Korban Trafficking dan Perlindungan Kejahatan Terhadap Anak” di Aula SMA Nurul Jadid, Minggu (28/12/2014) lalu.
Ia mengatakan, para korban perdagangan manusia seperti PSK, tidak mengetahui bila ternyata merupakan korban kejahatan. Lantaran mendapatkan iming-iming uang, mereka rela menemani pria hidung belang yang kemudian berakhir pada penyakit seksual.
“Namun yang lebih penting adalah mengatasi kondisi korban pasca kekerasan dan eksploitasi seksual yaitu support for survival atau dukungan kepada korban agar tidak menyerah dan terus bertahan hidup. Hal ini karena biasanya setelah mengetahui kondisinya, para korban mengalami depresi, suka menyakiti diri sendiri dengan tidak makan, tidak tidur hingga bunuh diri,” tuturnya.
Menurutnya, bukan hanya korban, juga perlu fokus pada keluarga yang berpotensi memberikan dampak langsung bagi korban, misalnya dikucilkan dan lain sebagainya.
“Apalagi masyarakat Indonesia paling mudah dipengaruhi oleh labelling (pelabelan atau pencitraan) yang sebenarnya dikategorikan sebagai korban,” kata salah satu pengasuh di Ponpes Nurul Jadid tersebut.
Hal dibenarkan Yohanis, dari yayasan Embun Surabaya, penggiat pada pendampingan korban trafficking. Berdasarkan pengalamannya selama kurun waktu 9 tahun dalam penanganan korban kekerasan pada anak dan perempuan, ia mengatakan bahwa korban cenderung tertutup, bahkan berbohong saat memberikan laporan pada konselor.
Berbagai macam cara atau modus digunakan oleh para pelaku perdagangan orang (trafficking) di Indonesia, misalnya yang dialami Bunga, bukan nama sebenarnya. Ia diiming-imingi menjadi pekerja restoran di Kalimantan, namun ternyata dirinya malah dipekerjakan di warung dan diskotek untuk melayani para tamu.
"Saya dibujuk teman sekolah. Katanya bekerja di restoran cepat saji. Tetapi malah saya dijebak dan dijual," ungkapnya saat menceritakan kisah kelamnya pada peserta dialog.
Peran orang tua juga sangat berpengaruh dalam praktek kejahatan ini, kebanyakan dari mereka yang terjebak dalam lingkaran setan itu berasal dari keluarga broken home. orang tua mereka seringkali mengabaikannya karena kesibukan aktifitas pekerjaan. sehingga si anak merasa tidak menndapat perhatian.(dc/fir)


COMMENTS