Penulis Dicko Rabu 03/12/2014 KRAKSAAN – Sejak tahun 2009 silam, batik di Kabupaten Probolinggo terus dikembangkan. Hal ini d...
Penulis Dicko
Rabu 03/12/2014
KRAKSAAN
– Sejak tahun 2009 silam, batik di Kabupaten Probolinggo terus
dikembangkan. Hal ini dibuktikan dengan keseriusan Pemerintah Kabupaten
(Pemkab) Probolinggo yang bertekad mengangkat batik dengan mendatangkan
pelatih Bayu Sumilir dari Surabaya yang terkenal dengan karyanya.Sebagai upaya membantu pengusaha batik dalam mengangkat potensi daerahnya masing-masing, Bapemas mulai intens memetakan motif batik. Artinya, tiap-tiap motif batik mempunyai ciri khas seperti pewarnaan, teknik pengerjaan serta motif khas di mana juga mengangkat potensi budaya serta sumber daya alam daerah masing-masing.
Dari hasil pemetaan, baru ditemukan 10 motif batik yang menjadi identitas 10 kecamatan. Yaitu, Senandung Lirik Biru Lancor (Dringu), Wangsit Madakaripura (Lumbang), Genggong Arsy (Pajarakan), Baku Menyono (Kuripan), Rancak Jambu Mente (Tegalsiwalan), Sulur Kacang Pohsangit (Wonomerto), Sejatining Urip (Krejengan), Gir Sereng Gending Asri (Gending), Satria Pandan Laras (Krucil) dan Pring Tiris (Tiris).
Pemilik satu-satunya sertifikat sistem industri tingkat nasional di Kabupaten Probolinggo ini menjelaskan, pemetaan motif batik ini penting untuk memudahkan dalam membina pengusaha batik.
“Hal ini penting agar Pemkab Probolinggo mempunyai potensi batik dari 24 kecamatan yang teradministrasi. Sebab selama ini masih belum ada. Padahal semua itu bisa menjadi identitas kecamatan. Untuk selanjutnya setiap desa memiliki potensi batik yang dapat dikembangkan,” terangnya.
Taufik menjelaskan motif yang digunakan hendaknya diambil dari potensi masing-masing daerah mulai dari produk unggulan dan asal usul (sejarah) daerah. Tetapi hal tersebut tidaklah mudah, harus survei ke lokasi untuk menyerap informasi masyarakat. “Kendalanya, ada beberapa kecamatan yang potensinya terbatas dan tidak bersifat khas,” pungkasnya.(dc/fir)


COMMENTS