Dicko Bromo FM Kamis 13/11/2014 Dua Dusun di Desa Alaskandang, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo, merupakan kampong yang terb...
Dicko Bromo FM
Kamis 13/11/2014
Dua Dusun di Desa Alaskandang, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo, merupakan kampong yang terbilang produktif dengan pembuatan gerabah. Dua Dusun tersebut meliputi Dusun Panpan dan Dusun Nangger. Mereka para warga hanya meraup untuk dalam satu penghasilan saja, yaitu membuat gerabah tradisional yang terbuat dari tanah liat.Tanahnya pun tidak harus tanah yang seperti biasanya, mereka masih membeli tanah liat itu ke Desa yang lain di Kecamatan itu. Sebab, menurut warga setempat, kwalitas tanah sangat mempengaruhi hasil bentuk dan hasil pembuatannya tak mudah pecah.
Proses pembuatan gerabah itu sendiri membutuhkan tenaga yang fit, sebab, dalam satu hari penuh pembuatan gerabah tidak ditinggal. Pembuatannya pun membutuhkan sinar matahari yang maksimal. Dua Dusun itu, kesehariannya hanya bekerja membuat gerabah, sebab, kondisi itu sangat menunjang penduduk di kampung tersebut.
Tak ayal, sejak dahulu, sejak puluhan tahun silam mereka sudah mempertahankan pembuatan gerabah tersebut. Sebab, dimatam masyarakat kwalitas pembuatan gerabah yang dihasilkan oleh warga Desa Alaskandang itu kwalitasnya bagus dan kuat.
Bahkan Pemsarannya sampai keluar daerah, yaitu di daerah pulai garam Madura, Pasuruan dan Lumajang. Tiga daerah tersebut sudah berlangganan setiap bulan untuk mengambil gerabah hasil buatan warga Desa Alaskandang itu,”ke Madura setiap bulannya, pedagang dari Madura mengambil gerabah sebanyak 8000 gerabah yang terdiri dari beberapa jenis seperti, cowek, kendi, dan tungku,”kata Sudarsih (30) pembuat gerabah.
Ia menuturkan, selain keMadura, pedagang yang dari Pasuruan juga setiap setengah bulan sekali mengambil 5000 gerabah. Untuk pembuatannya lanjut Sudarsih, dalam sehari dirinya hanya mendapat 40-50 cowek, dengan ukuran kecil, sedang dan besar. Sedangkan harga jualnya perbiji warga Alaskandang menjualnya kepasar tradisional dengan harga yang cukup terjangkau.
“Kalau cowek yang ukuran besar harganya Rp 3000, yang tanggung Rp 2000, sedangkan yang kecil hanya Rp 1500. Yang biasa Rp 10000,”sebutnya.
Sudarso (40) salah satu pembakar gerabah setempat mengatakan, proses penjemuran gerabah butuh waktu satu hari penuh, itupun kalau pencahayaan matahari cukup maksimal. Dikatakannya, lain lagi ketika musim hujan, bias-bisa menjemur gerabah tersebut bias mencapai 3-4 hari,”kalau mendung ya,,tambah lama menjemurnya, soalnya kalau cowek dan tunggu itu pembuatannya harus tebal, jadi membutuhkan sinar matahari yang panas,”ungkapnya.
Menurutnya, dua Dusun di Desa Alaskandang itu, hanya mengandalkan penghasilan dari membuat gerabah, suami istri di Desa tersebut aktivitas sehari-harinya hanya membuat gerabah,”dikampung ini, warga menggantungkan hidupnya dengan memproduksi gerabah. Sebab, disini sudah turun-temurun sejak puluhan tahun silam. Dan memang diakui masyarakat, gerabah disini tak kalah bagusnya denga gerabah dari hasil produksi di daerah lain,”aku Sudarso.
Sudarso mengaku, kalau pembakaran gerabah itu sendiri harus sangat teliti, sebab, dengan pembakaran gerabah, api harus benar-benar terarah pada gerabah yang sudah ditata.”Api kurang membara, maka hasil pembakaran kurang bagus, dampaknya pada kwalitas warnanya, biasanya merah tua menjadi merah bercampur hitam,”imbuhnya.
Disamping itu, penataan gerabah menjelang pembakaran, harus ditata dengan teratur. Sebab, penataannya ada caranya juga,”kalau penatannya kurang bagus, maka api kurang tersulut kedalam, menjadikan kwalitas mudah pecah karena efek pembakaran itu,”katanya lagi.
Warga di dua Dusun itu, tak pernah lepas dari pekerjaan gerabah yang sudah diakui oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Probolinggo. Sampai sekarang gerabah Alaskandang menjadi andalan mayarakat dengan kwalitasnya yang bagu, sehingga satu-satunya produksi gerabah yang bisa di andalkan di Kabupaten Probolinggo.(dc/fir)


COMMENTS