Dicko : BromoFM Sabtu : 15/11/2014 SEJAK Januari 2013 lalu, Ratih Aprilia Anggraini resmi ditugaskan sebagai bidan desa di Desa Kedun...
Dicko : BromoFM
Sabtu : 15/11/2014
Sabtu : 15/11/2014
SEJAK Januari 2013 lalu, Ratih Aprilia Anggraini resmi ditugaskan sebagai bidan desa di Desa Kedungsumur Kecamatan Pakuniran. Meskipun belum genap dua tahun bertugas sebagai bidan, tetapi alumnus SDN Laweyan 1 tahun 2003 ini mengaku memiliki banyak pengalaman sangat berkesan yang belum pernah terpikirkan sebelumnya.
“Pengalaman paling berkesan saya ketika menolong persalinan di mobil Carry. Bayi dan ari-ari lahir di mobil yang sedang berjalan di jalan makadam. Waktu itu saya berjuang keras bagaimana caranya agar ibu dan bayinya selamat,” ungkapnya.
Perempuan kelahiran Probolinggo, 7 April 1991 ini menambahkan, ada pengalaman lain yang cukup menegangkan. Waktu itu dirinya membantu proses persalinan di daerah atas gunung yang belum ada aliran listrik.
“Saat itu saya menolong persalinan bayi kembar sendirian tanpa listrik dan hanya menggunakan senter kecil di atas gunung,” ujar lulusan SMPN 2 Kota Probolinggo tahun 2006 itu.
Dari seringnya membantu persalinan di daerah sulit, perempuan yang hobi main basket ini mengaku, semakin dekat dengan masyarakat dan sudah dianggap seperti keluarganya sendiri. Bahkan anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Juti Atmono dan Asiyati ini menganggap semua itu sebagai motivasi tersendiri dalam melaksanakan tugasnya sebagai bidan.
“Alhamdulillah, masyarakat yang pernah saya layani mengaku senang. Terutama melihat pengorbanan yang saya lakukan dalam membantu proses persalinan maupun memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dengan baik. Semua ini saya lakukan untuk memberikan pelayanan yang optimal agar kesejahteraan ibu dan bayi dapat terjamin,” tegasnya.
Alumni Poltekkes Majapahit Mojokerto ini menambahkan, menjadi seorang bidan merupakan hal yang sangat membanggakan. Meskipun kerjanya tidak mengenal waktu dan tidak mengenal lelah, tetapi hal itu memberikan sebuah kepuasan batin tatkala bisa membantu proses persalinan.
“Tekad saya ketika membantu persalinan adalah bagaimana caranya agar ibu dan bayinya lahir dengan selamat dan sehat,” pungkas perempuan asli Desa Muneng Kecamatan Sumberasih itu. (dc/fir)
“Pengalaman paling berkesan saya ketika menolong persalinan di mobil Carry. Bayi dan ari-ari lahir di mobil yang sedang berjalan di jalan makadam. Waktu itu saya berjuang keras bagaimana caranya agar ibu dan bayinya selamat,” ungkapnya.
Perempuan kelahiran Probolinggo, 7 April 1991 ini menambahkan, ada pengalaman lain yang cukup menegangkan. Waktu itu dirinya membantu proses persalinan di daerah atas gunung yang belum ada aliran listrik.
“Saat itu saya menolong persalinan bayi kembar sendirian tanpa listrik dan hanya menggunakan senter kecil di atas gunung,” ujar lulusan SMPN 2 Kota Probolinggo tahun 2006 itu.
Dari seringnya membantu persalinan di daerah sulit, perempuan yang hobi main basket ini mengaku, semakin dekat dengan masyarakat dan sudah dianggap seperti keluarganya sendiri. Bahkan anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Juti Atmono dan Asiyati ini menganggap semua itu sebagai motivasi tersendiri dalam melaksanakan tugasnya sebagai bidan.
“Alhamdulillah, masyarakat yang pernah saya layani mengaku senang. Terutama melihat pengorbanan yang saya lakukan dalam membantu proses persalinan maupun memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dengan baik. Semua ini saya lakukan untuk memberikan pelayanan yang optimal agar kesejahteraan ibu dan bayi dapat terjamin,” tegasnya.
Alumni Poltekkes Majapahit Mojokerto ini menambahkan, menjadi seorang bidan merupakan hal yang sangat membanggakan. Meskipun kerjanya tidak mengenal waktu dan tidak mengenal lelah, tetapi hal itu memberikan sebuah kepuasan batin tatkala bisa membantu proses persalinan.
“Tekad saya ketika membantu persalinan adalah bagaimana caranya agar ibu dan bayinya lahir dengan selamat dan sehat,” pungkas perempuan asli Desa Muneng Kecamatan Sumberasih itu. (dc/fir)



COMMENTS