Dicko BromoFM Jum'at 24/10/2014 , 08 :00 WIB SUMBER - Sedikitnya 60 orang pria dewasa di Kecamatan Sumber, Kamis (23/10) k...
Dicko BromoFM
Jum'at 24/10/2014 , 08 :00 WIB
SUMBER
- Sedikitnya 60 orang pria dewasa di Kecamatan Sumber, Kamis (23/10)
kemarin mengikuti khitanan massal dewasa yang digelar oleh Puskesmas
Sumber di Puskesmas Pembantu (Pustu) Tempuran. Khitanan massal desa ini
digelar dalam rangka untuk memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN)
ke-50. Meskipun melakukan khitan pada usia dewasa adalah sebuah pilihan
yang sangat sulit, tetapi hal tersebut mereka lakukan dengan sebuah
keyakinan untuk menyempurnakan agama dan alasan kesehatan.
Berbeda dengan khitan pada umumnya. Para peserta khitan massal dewasa ini terlihat lebih santai bahkan sempat saling bersenda gurau sambil melempar joke-joke dengan sesama peserta khitanan massal. Tetapi ada juga yang tegang sambil menunggu giliran untuk dikhitan. Bahkan ada juga peserta yang wajahnya pucat tatkala dipanggil petugas kesehatan.
Tikno (40 th) warga Desa Cepoko Kecamatan Sumber merupakan peserta tertua khitanan massal ini. Kini, Tikno sudah memiliki 2 (dua) orang anak. Yang pertama perempuan dan sudah duduk di bangku kelas 3 SMP. Sementara kedua laki-laki dan masih duduk di bangku kelas 4 SD. Melihat dari umurnya tersebut, tidak mengherankan jika dirinya menjadi bahan guyonan teman seusianya.
Menurut Tikno, alasan dan motivasi dirinya mengikuti khitanan massal dewasa ini karena ingin supaya sholatnya sah dan diterima. Karena berdasarkan penjelasannya, guru dan ulama di sekitar rumahnya pernah menuturkan bahwa sholatnya tidak akan sah jika belum dikhitan.
Kepala Puskesmas Sumber Gandung Setyo Widodo mengungkapkan khitanan massal dewasa ini digelar dengan tujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat serta untuk memenuhi harapan masyarakat yang ingin sholatnya sah setelah dikhitan. “Dulu mereka mengaku pernah khitan ke dukun, hanya saja tidak berhasil. Karena merasa malu, mereka akhirnya tidak dikhitan lagi hingga dewasa,” ungkapnya.(dc/fir)
Berbeda dengan khitan pada umumnya. Para peserta khitan massal dewasa ini terlihat lebih santai bahkan sempat saling bersenda gurau sambil melempar joke-joke dengan sesama peserta khitanan massal. Tetapi ada juga yang tegang sambil menunggu giliran untuk dikhitan. Bahkan ada juga peserta yang wajahnya pucat tatkala dipanggil petugas kesehatan.
Tikno (40 th) warga Desa Cepoko Kecamatan Sumber merupakan peserta tertua khitanan massal ini. Kini, Tikno sudah memiliki 2 (dua) orang anak. Yang pertama perempuan dan sudah duduk di bangku kelas 3 SMP. Sementara kedua laki-laki dan masih duduk di bangku kelas 4 SD. Melihat dari umurnya tersebut, tidak mengherankan jika dirinya menjadi bahan guyonan teman seusianya.
Menurut Tikno, alasan dan motivasi dirinya mengikuti khitanan massal dewasa ini karena ingin supaya sholatnya sah dan diterima. Karena berdasarkan penjelasannya, guru dan ulama di sekitar rumahnya pernah menuturkan bahwa sholatnya tidak akan sah jika belum dikhitan.
Kepala Puskesmas Sumber Gandung Setyo Widodo mengungkapkan khitanan massal dewasa ini digelar dengan tujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat serta untuk memenuhi harapan masyarakat yang ingin sholatnya sah setelah dikhitan. “Dulu mereka mengaku pernah khitan ke dukun, hanya saja tidak berhasil. Karena merasa malu, mereka akhirnya tidak dikhitan lagi hingga dewasa,” ungkapnya.(dc/fir)



COMMENTS