Dicko BromoFM Rabu 29/10/2014 , 08 : 00 WIB Bagi Seorang Asmaul Husna, seorang guru kelas di salah satu Sekolah Dasar (SD) swasta...
Dicko BromoFM
Rabu 29/10/2014 , 08 : 00 WIB
Bagi
Seorang Asmaul Husna, seorang guru kelas di salah satu Sekolah Dasar
(SD) swasta di kota Kraksaan, tak pernah merasa lelah meskipun selama
beberapa tahun dirinya mengajar di dua sekolah. Sebab, menurutnya,
jabatan guru merupakan jabatan profesional, pemegangnya harus memenuhi
kualifikasi tertentu. Perempuan asal Desa/Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo ini mengaku, mengajar di dua sekolah bagi dirinya adalah suatu keberuntungan. Karena disatu sisi komitmen sebagai guru itu diperlukan syarat-syarat diantaranya adanya motivasi yang kuat, memiliki pengetahuan dan keterampilan, pengabdian, memiliki kode etik, dan berhak mendapatkan imbalan pengetahuan.
“Pagi hingga sore saya mengajar di SD swasta di kota Kraksaan, sedangkan sore harinya hingga pukul 17.00 WIB saya mengajar Madrasah Diniyah (Madin) di desaku. Itu saya lakukan bukan kepentingan pribadi saya, melainkan suatu kepentingan menerapkan rasa empati dalam membangun suasana belajar yang positif, sehingga diharapkan pada akhirnya dapat terjadi proses pembelajaran yang efektif,”ujarnya.
Perempuan kelahiran Probolinggo 17 Agustus 1980 ini menguraikan, dalam sisi lain didunia pendidikan, dirinya sangat berkeinginan untuk lebih mendorong potensi siswa, yang menurutnya belakangan ini, minimnya anak pelajar yang mengesampingkan pendidikan dari pada pergaulan, seperti halnya sekarang marak anak pelajar sering bolos sekolah, merokok bahkan terjerumus terhadap hal-hal yang negatif.
“Saya ingin pendidikan siswa lebih berkembang, selain itu saya berkeinginan memupuk siswa mempunyai jiwa yang akhlaqul qarimah. Dari itu saya tidak pernah lelah mengajar di dua sekolah. Sebab, di dua sekolah tempat saya bekerja ini menonjolkan pembelajaran agama Islam, apalagi di sekolah Madrasah Diniyahnya, disana saya banyak peluang mendidik dan membangun siswa menuju Ahklaqul Qarimah,”papar perempuan yang telah menempuh kuliah Institut Agama Islam (IAI) Nurul Jadid Paiton ini. (dc/fir)


COMMENTS