Dicko : BromoFM Kamis 09/10/2014 , 10 : 00 WIB Bagi wara Desa/Kecamatan Kotaanyar, Kabupaten Probolinggo layangan raksasa yang d...
Dicko : BromoFM
Kamis 09/10/2014 , 10 : 00 WIB
Bagi
wara Desa/Kecamatan Kotaanyar, Kabupaten Probolinggo layangan raksasa
yang disebut “tok ancak” menjadi favorit dimana ketika musim kemarau
tiba layangan tersebut selalu menjadi kegemaran tersendiri, dengan
memodifikasi aksesoris yang terbuat dari perangkat lunak yang menempel
pada bagian layangan, serta dibuat perpaduan warna sesuai selera.Dalam menyambut pergantian musim kemarau ke musim penghujan saat ini, Rabu (98/10/14) warga Desa Kotaanyar melakukan tradisi yang pernah dilakukan sebelumnya, yaitu dengan mengadakan lomba ketangkasan melalui layangan raksasa tradisional “tok ancak”. Dalam perlombaan itu sekaligus sebagai bentuk rasa syukur dari warga itu sendiri setelah menjalani masa musim kemarau yang yang penuh berkah dengan menanam tembakau,”ini bentuk rasa syukur kami kepda Allah, karenan selama musim kemarau ini tanaman tembakau kami disini cukup bagus,”kata Aris warga setempat.
Lomba yang diadakan oleh organisasi pemuda Desa Kotaanyar itu dibuka oleh Muspika Kotaanyar pada pukul 14:00 WIB di lahan pesawahan dengan luas sekitar 2 Hektare (Ha) yang diwarnai dengan melepas ratusan merpati yang juga merupakan salah satu tradisi dari warga Kotaanyar. Tradisi layangan raksasa itu sudah menjadi agenda tahunan dari warga, yakni setiap menyambut pergantian musim panas, ke musim hujan.
Sementara itu, Mulyadi selaku ketua panitia mengatakan, peserta lomba ini diikuti 200 peserta se-Kecamatan Kotaanyar. Sedangakan layangan yang digunakan ukurannya cukup besar, rangka utama sepanjang 2 meter, ukuran sayapnya sekitar 2 meter. Namun ukuranya yang dibawa warga tidak merata, ada yang kurang 2 meter, ada juga yang lebih 2 meter.
“Layang-layang ini adalah jenis layang-layang yang dilengkapi dengan “sabengan” atau bentangan tongkat yang melengkung yang menghasilkan suara, yang diletakkan pada bagian atas layang-layang yang gunanya untuk menimbulkan bunyi gemuruh saat layang-layang di terbangkan ke atas dengan ketinggian sekitar 200 meter dari dasar tanah,”kata Mulydi.
Perlombaan layang-layang tok ancak di khususkan untuk para pria dewasa dan remaja. Perlombaan ini menjadi ajang ketangkasan antara yang tua dan muda, mereka dituntut untuk mengendalikan layang-layang saat diterbangkan dan berlomba turun secara cepat ke posisi masing-masing joki, peserta hanya diberi waktu 7 menit dari layangan dilepas selama kurun waktu 7 menit.
Layang-layang yang beratnya kurang lebih 20 kg saat diterpa angin ini cukup menguras tenaga para joki, meski begitu mereka pun tetap semangat dalam mengikuti lomba. Tak hanya para peserta, para penonton pun antusias menyaksikan lomba tahunan tersebut pria dan wanita dari tua, muda hingga anak-anak bersorak-sorak/saat lomba sedang berlangsung.
Nuansa khas jawa timuran pun kian kental saat musik gamelan mengiringi kegiatan perlombaan layang-layang tok ancak. Mulyadi mengatakan, lomba ini digelar selama 2 hari nantinya pemenang lomba akan mendapatkan hadiah berupa uang tunai senilai total Rp 2,5 juta, gelaran lomba layang-layang tok ancak pun berakhir saat matahari sore mulai terbenam.
“Tradisi ini tidak pernah pudar dimata masyarakat sekitar, seba, layangan raksasa ini bagian dari turunan sejak jaman dulu. Kami sangat berharap tradisi ini kedepan semakin menjadi kegemaran warga yang bersifat hiburan setiap pergantian musim,”harap Mulyadi.(dc/fir)


COMMENTS