Dicko : BromoFM Jum'at 19/09/2014 KRAKSAAN - Namanya Abd. Fatah (22), remaja asal desa Bulu Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo ...
Dicko : BromoFM
Jum'at 19/09/2014
KRAKSAAN - Namanya Abd. Fatah (22), remaja asal desa Bulu Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo ini terkesan masih belia. Perawakan yang kecil dan wajahnya yang imut seringkali membuat orang menganggap dia masih seusia anak SMP.
Dibalik wajah yang imut dan perawakan kecil tersebut, ternyata Fatah, demikian biasa dia disapa, mempunyai keterbasan fisik. Ya, salah satu matanya sejak kecil tidak dapat berfungsi dengan baik. Saat usia masih belasan tahun, salah satunya matanya diganti dengan mata imitasi sehingga tidak dapat digunakan seperti mata biasa.
Sejak SMP Fatah rajin datang ke Perpustakaan Daerah Kabupaten Probolinggo pada saat dia masih "mondok" di pondok pesantren Darul Lughah wal Karomah. Ponpes tersebut berjarak sekitar 1 km sebelah timur perpusda. Oleh karena itu, tidak heran kalau seringkali dia datang ke perpustakaan.
Hampir setiap hari Jum`at dimana waktu yang disediakan oleh pondoknya untuk bisa berkesempatan keluar pondok, wajah Fatah selalu menghiasi ruang baca perpusda. Tujuannya hanya satu, ingin membaca buku-buku yang ada di perpusda. Karena bagi Fatah, buku merupakan barang mahal untuk bisa dia miliki.
Aktivitas tersebut (berkunjung ke perpusda-red) berlanjut sampai dia selesai merampungkan masa sekolahnya di pondok. Hingga pada saat itu, Universitas Brawijaya membuka kesempatan bagi lulusan SMA untuk mengikuti test masuk perguruan tinggi melalui jalur bidik misi (jalur beasiswa bagi masyarakat miskin).
Dari begitu banyaknya pendaftar yang mengikuti test tersebut, nama Fatah termasuk yang lolos mendapatkan kesempatan kuliah di UB melalui jalur bidik misi.
Saat ini dia memasuki semester 7 dengan IPK yang dia peroleh 3,57. Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari Perpusda tempat dimana dia dulu banyak menimba ilmu. Dia mampu menunjukkan kepada masyarakat bahwa keterbatasn fisik tidak dapat menghalangi manusia untuk tidak gemar membaca. "Hanya dengan membaca, wawasan kita akan meningkat. Semua ilmu bisa kita kuasai kalau kita senang membaca," katanya.(dc/fir)
Jum'at 19/09/2014
Dibalik wajah yang imut dan perawakan kecil tersebut, ternyata Fatah, demikian biasa dia disapa, mempunyai keterbasan fisik. Ya, salah satu matanya sejak kecil tidak dapat berfungsi dengan baik. Saat usia masih belasan tahun, salah satunya matanya diganti dengan mata imitasi sehingga tidak dapat digunakan seperti mata biasa.
Sejak SMP Fatah rajin datang ke Perpustakaan Daerah Kabupaten Probolinggo pada saat dia masih "mondok" di pondok pesantren Darul Lughah wal Karomah. Ponpes tersebut berjarak sekitar 1 km sebelah timur perpusda. Oleh karena itu, tidak heran kalau seringkali dia datang ke perpustakaan.
Hampir setiap hari Jum`at dimana waktu yang disediakan oleh pondoknya untuk bisa berkesempatan keluar pondok, wajah Fatah selalu menghiasi ruang baca perpusda. Tujuannya hanya satu, ingin membaca buku-buku yang ada di perpusda. Karena bagi Fatah, buku merupakan barang mahal untuk bisa dia miliki.
Aktivitas tersebut (berkunjung ke perpusda-red) berlanjut sampai dia selesai merampungkan masa sekolahnya di pondok. Hingga pada saat itu, Universitas Brawijaya membuka kesempatan bagi lulusan SMA untuk mengikuti test masuk perguruan tinggi melalui jalur bidik misi (jalur beasiswa bagi masyarakat miskin).
Dari begitu banyaknya pendaftar yang mengikuti test tersebut, nama Fatah termasuk yang lolos mendapatkan kesempatan kuliah di UB melalui jalur bidik misi.
Saat ini dia memasuki semester 7 dengan IPK yang dia peroleh 3,57. Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari Perpusda tempat dimana dia dulu banyak menimba ilmu. Dia mampu menunjukkan kepada masyarakat bahwa keterbatasn fisik tidak dapat menghalangi manusia untuk tidak gemar membaca. "Hanya dengan membaca, wawasan kita akan meningkat. Semua ilmu bisa kita kuasai kalau kita senang membaca," katanya.(dc/fir)


COMMENTS