Dicko : BromoFM Kamis 11/09/2014 , 09 : 00 WIB Menjalani kehidupan dengan rasa ikhlas itu memang sangat sulit, apa lagi sebaga...
Dicko : BromoFM
Kamis 11/09/2014 , 09 : 00 WIB
Menjalani kehidupan dengan rasa ikhlas itu memang sangat sulit, apa lagi sebagai manusia biasa. Dalam sebuah pekerjaanpun, terkadang tak luput dari khilaf dan selalu merasa kekurangan. Ungkapan tersebut tercurah dari hati Setiyo Utomo si tukang penjual balon. Setiyo Utomo (70) dan sang istrinya Sriyati (54) ini tak kuasa menahan haru ketika mereka berdua akan memenuhi panggilan Allah, yakni berangkat ke tanah suci menunaikan ibadah haji.
Pria kelahiran Probolinggo 1955 dan perempuan kelahiran Probolinggo 1960 ini akan berangkat haji pada 20 September 2014, adalah sebuah penantian yang mereka tunggu selama bertahun-tahun. Bahkan, menjelang keberangkatannya Setiyo Utomo dan Sriyati ini, Bupati Probolinggo Hj.P.Tantriana Sari, SE bersama sang suami Drs.H.Hasan Aminuddin,M.si berkunjung kerumahnya pada hari Rabu (10/9/14) kemarin.
Pasangan suami istri (pasutri) yang berdomisili di Kelurahan Sidomukti, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo ini masuk rombongan kloter 47 Kabupaten Probolinggo. Saat media ini berkunjung, mereka tengah santai di rumahnya, secara penampilan, keduanya tampak sederhana. Begitu juga dengan rumah yang ditempatinya saat ini. Mereka berdua sangat kompak berjualan keliling ke Desa-Desa dengan membawa puluhan balon.tak menyangka kerja kerasnya selama puluhan tahun ini berbuah manis. Uang yang dia kumpulkan sedikit demi sedikit dari menjual balon. akhirnya bisa mewujudkan cita-citanya untuk naik haji.
Diceritakan pria yang akrab disapa Uuk ini, dirinya hanya dari keluarga sederhana. Bahkan, kisah perjalanan hidupnya itu berawal dari menjual balon keliling sejak tahun1980, itupun berkeliling siang dan malam sampai dagangangan yang dibawanya habis terjual. Bahkan menurutnya, sering kali balon yang dijualnya hanya laku sedikit.
”Saya tidak menyangka bisa berangkat haji. Saya ini dulunya kerja susah mas, akan tetapi semua itu kami tempuh dengan kesabaran dan keikhlasan” kata bapak empat anak dengan lima cucu ini saat ditemui dirumahnya Kamis (11/9/14).
Uuk bercerita, sampai bisa daftar dan berangkat haji tahun ini. awalnya, sejak tahun 1980 an, dirinya hanya bekerja sebagai tukang balon keliling. Kebetulan, waktu itu penjual balon keliling masih sangat jarang. Dirinya pun bersama istrinya menekuni pekerjaan tersebut.
”Dulu waktu kerja tukang balon, istri saya sering ikut. Kebetulan saya jual balon keliling pakai becak dengan menyewa ke orang,” terangnya.
Ia mengaku, bekerja tukang balon keliling, akan terasa lebih senang saat ada acara hajatan, layar tancap atau tempat keramaian. Karena, biasanya balon jualannya laris terjual. ”Alhamdulillah, dari situ saya sedikit-dikit menabung untuk kebutuhan keluarga sehari-hari dan sampai bisa membeli tanah dan rumah,” tuturnya.
Dikatakan Uuk, pada tahun 2003 silam, mereka berdua mengikuti group pasar malam/dunia fantasi anak yang dipimpin temannya sendiri. Beberapa tahun kemudian, Uuk dan istrinya bertekat untuk membeli keranjang putar (red mulen) sendiri, yang biasa digunakan setiap hiburan pasar malam. Karena selama ikut temannya di group pasar malam tersebut, Uuk dan istrinya selalu mendapat tekanan pembayaran, bahkan Sriyati kerap kali nangis lantaran selalu dikucilkan oleh pimpinannya kala itu.
Seiring berjalannya waktu, lanjut Uuk, pada tahun 2009 akhirnya ia melengkapi arena bermain untuk pasar malam, seperti keranjang putar, mandi bola, memancing dan lainya. Bahkan dirinya mampu membuat kereta kelinci sebagai tambahan penghasilan.“Hasil usaha jualan balon dulu, ternyata juga bisa sampai memiliki group duafa permainan pasar malam,”sebutnya.
Saat itu juga diakui Uuk, dirinya pun memutuskan untuk tidak lagi bekerja sebagai tukang balon. Mengingat, penjual balon keliling pun semakin banyak. Sehingga, dirinya harus memilih untuk cari usaha lain. Ternyata, dunia fantasi anak dan kereta kelinci yang dimilikinya itu, menjadi lahan penghasilan sampai sekarang.
“Dari tahun 2009 itu sampai sekarang, hasil dari kerja saya dan suami, saya kumpulkan, bahkan saya sempat ikut 4 arisan. Dari 4 arisan itu saya ambil satu kali setelah tiga tahun, nominalnya mencapai Rp 40 juta. Dan itu saya bertekat dikumpulkan menjadi satu dengan tabungan selama bertahun tahun, agar keinginan saya dan suami saya untuk naik haji tercapai,”tutur Sriyati.
Sampai akhirnya, penghasilan yang diperoleh dalam keluarganya itu, dikumpulkan beli perhiasan. Hingga akhirnya, kata Sriyati, dirinya pun memutuskan untuk mendaftarkan berangkat haji pada tahun 2009 lalu. Saat itu, dirinya bersama suaminya, merasa sudah waktunya untuk melaksanakan keinginannya naik haji.
”Kalau keinginan naik haji sudah lama, sejak saya nikah dulu sudah sanagat berkeinginan pergi ke tanah suci, tapi Allah baru menghendaki kami berangkat pada tahun 2014 ini,”ujarnya.
Pak Uuk dan Sriyati mengatakan, sebetulnya dalam kehidupan ini, seperti roda yang berputar, dan mukjizat dari Allah itu tidak pernah disangka dan diduga. Semua keinginan hambanya pasti terkabulkan jika nawaituh dan usahanya benar-benar dilakukan, serta dijalani dengan penuh semangat ikhlas dan sabar.
“Harapan kami sekeluarga, semoga perjalanan kami ke tanah suci mekkah ini membawa banyak barokah dan maghfiroh. Dan semoga kami berdua menjadi haji yang mabbrur, amin,”harap pasangan suami istri Setiyo Utomo dan Sriyati.(Dc)



COMMENTS