Dicko : Bromo fm Senin 01/09/2014. 07.00 WIB Menjadi ketua OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah), sebuah kebanggan banyak siswa. Termas...
Dicko : Bromo fm
Senin 01/09/2014. 07.00 WIB
Menjadi ketua OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah), sebuah kebanggan banyak siswa. Termasuk, yang dirasakan Yusuf Dhiyauddin Robbani, nominator pemilihan OSIS Paling Keren (OPIK) nomor urut 5.
Siswa kelas XII IPA 1, SMAN 1 Kraksaan itu mengaku suka dunia organisasi sejak masuk SMA. Saat itu, dirinya berkeinginan menjadi seksi bidang (sekbid) jasmani dalam OSIS. Namun, dirinya malah dipilih sebagai coordinator MPK (Majelis Perwakilan Kelas) X. Sebuah organisasi yang setara dengan OSIS.
Senin 01/09/2014. 07.00 WIB
Siswa kelas XII IPA 1, SMAN 1 Kraksaan itu mengaku suka dunia organisasi sejak masuk SMA. Saat itu, dirinya berkeinginan menjadi seksi bidang (sekbid) jasmani dalam OSIS. Namun, dirinya malah dipilih sebagai coordinator MPK (Majelis Perwakilan Kelas) X. Sebuah organisasi yang setara dengan OSIS.
Tetapi, berawal dari itu, dirinya bisa menggeluti dunia organisasi. Saat dirinya naik kelas XI, berlangsung pergantian pengurus OSIS. Dirinya, malah terpilih sebagai ketua OSIS. ”Saya menjadi ketua OSIS, sejak tahun kemarin sampai sekarang masih menjabat aktif,” tuturnya.
Menggeluti dunia Organisasi diakui Dhiya, menjadi sebuah kebanggaan tersendiri dalam dirinya. Selain itu, terpenting pengalaman yang tidak pernah ada di dalam kelas, akan didapati saat berorganisasi. Bahkan, ini merupakan tahapan pembelajaran yang sangat bermanfaat nanti saat di tengah masyarakat.
”Pengalaman kegiatan berorganisasi itu yang paling penting. Ilmu pengalaman itu tidak diperoleh dalam pembelajaran di kelas. Dengan berorganisasi, kita bisa belajar menjadi pemimpin,” tutur putra pasangan H. Yasin-Anita Supristiwa Ningsih.
Meski demikian ditegaskan nominator kelahiran 17 Agustus 1997 mengaku, keaktifan dalam organisasi, tidak membuat terlena dan melupakan tugas utama dalam hal akademis. Melalui OSIS ini, siswa yang bercita-cita menjadi pengusaha, dapat belajar memenag (atur) waktu antara kegiatan akademis dan OSIS. Sehingga, tidak sampai menyisihkan atau bahkan melupakan kewajiban belajar.
”Harus pintar-pintar mengatur waktu. Bagi saya, akademis tetap terpenting. Saya biasa menghubungi guru langsung, kalau ada mata pelajaran yang kurang mampu. Jadi tidak ada kata ketinggalan pelajaran bagi saya,” ungkapnya dengan penuh keyakinan.
Terpisah, Awan Wijanarko selaku Waka Kesiswaan SMAN setempat mengaku sekolah sangat mendukung dengan banyak program OSIS. Baik itu, segi anggara ataupun support terhadap kegiatan di luar sekolah. Seperti halnya, tiap kali ada kegiatan di luar daerah, sekolah mendelegasikan perwakilan OSIS itu ikut.
”Banyak program OSIS di sekolah kami. Mulai dari program olahraga pencak silat yang sering tembus ke pecan olahraga provinsi, KIR (Karya Ilmiah Remaja), seni. Yang terbaru itu program jurnalistik koran sekolah dan fotografer,” katanya.(Dc)


COMMENTS