Dicko : BromoFM Kamis 25/09/2014 , 08 : 00 WIB KRAKSAAN – Melewati pertengahan panen tembakau 2014 tahun ini, di Kabupaten Pr...
Dicko : BromoFM
Kamis 25/09/2014 , 08 : 00 WIB
KRAKSAAN
– Melewati pertengahan panen tembakau 2014 tahun ini, di Kabupaten
Probolinggo, harga yang dipastikan saat ini untuk tingkat petani
terbilang kurang begitu maksimal. Pasalnya, harga tertinggi untuk
tembakau super saat ini belum ada peningkatan. Harganya masih serupa
dengan harga masa panen awal yaitu maksimal Rp 33 ribu per kilogramnya.
Sedangkan harga tembakau biasa masih terpatok Rp 20 ribu, dengan kata lain masih dibawah harga pada tahun 2013 lalu. Meski tingkat areal tanam tahun ini melebihi rencana tanam disbanding tahun lalu. Menurut sejumlah petani yang termasuk daerah produktif tanam tembakau di tujuh Kecamatan Kabupaten Probolinggo, harga yang sedemikian saat ini setelah di kruskan dengan biaya pada masa awal tanam masih terbilang impas.
“Ya untung-untungan akan mendapatkan hasil, masalahnya tahun ini, harganya tetap Rp 33 ribu, tidak ada kenaikan lagi, sedangkan tanam tembakau masa panennya sudah hampir selesai, dan itu masih belum menutupi pembiayaan yang digunakan,” jelas Achmad (45) seorang petani asal Desa Sumber Centeng Kecamatan Kotaanyar.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Probolinggo, H.Mudzakir mengatakan, hal seperti ini disebabkan karena biaya untuk buruh tani segalanya mahal, seperti pupuk, dan para pekerja di sawah. Tidak menutup kemungkinan pengeluaran petani cukup besar. Sedangkan di Kabupaten Probolinggo saat ini sudah memasuki pertengahan masa panen, bahkan ada yang sudah hampir selesai.
Menuurutnya, harga yang saat ini besar kemungkinan tidak ada kenaikan lagi. Sebab, kalaupun ada kenaikan harga, sejak masa awal panen biasanya ada tanda-tanda kenaikan.”Sampai sekarang tanda-tanda kenaikan itu tidak ada, ini yang membuat para petani itu resah dengan kondisi harga yang dipatok Rp 20 ribu - Rp 30 ribu,” terangnya.
Mudzakir mangaku, tembakau sekarang banyak yang terserang penyakit, dan itu juga sangat berpengaruh terhadap meruginya petani, kalau masalah harga lanjutnya, di atas Rp 33 ribu itu sudah cukup bagus, hanya saja dari petani itu sendiri membandingkannya dengan biaya yang digunakan dari masa perbaikan tanah hingga menanam, hingga diperhitungkan dengan kerusakan tembakaunya.
Sementara itu, data yang diperolaeh dari Dinas Perkebunan dan Kehutanan (Disbunhut) Kabupaten Probolinggo menyebutkan, kondisi kerusakan tahun ini mencapai 25 persen. Diperkirakan realisasi tanam tembakau yang bisa produktivitas mencapai hanya sekitar 8.331 hektar. Sedangkan kebutuhan tembakau di seluruh gudang di Kabupaten Probolinggo, sekitar 12.929 Ton tembakau. Sehingga, diharapkan rendahnya realisasi tanam tembakau yang bisa produktivitas, dapat mengangkat harga tembakau.(dc/fir)
Sedangkan harga tembakau biasa masih terpatok Rp 20 ribu, dengan kata lain masih dibawah harga pada tahun 2013 lalu. Meski tingkat areal tanam tahun ini melebihi rencana tanam disbanding tahun lalu. Menurut sejumlah petani yang termasuk daerah produktif tanam tembakau di tujuh Kecamatan Kabupaten Probolinggo, harga yang sedemikian saat ini setelah di kruskan dengan biaya pada masa awal tanam masih terbilang impas.
“Ya untung-untungan akan mendapatkan hasil, masalahnya tahun ini, harganya tetap Rp 33 ribu, tidak ada kenaikan lagi, sedangkan tanam tembakau masa panennya sudah hampir selesai, dan itu masih belum menutupi pembiayaan yang digunakan,” jelas Achmad (45) seorang petani asal Desa Sumber Centeng Kecamatan Kotaanyar.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Probolinggo, H.Mudzakir mengatakan, hal seperti ini disebabkan karena biaya untuk buruh tani segalanya mahal, seperti pupuk, dan para pekerja di sawah. Tidak menutup kemungkinan pengeluaran petani cukup besar. Sedangkan di Kabupaten Probolinggo saat ini sudah memasuki pertengahan masa panen, bahkan ada yang sudah hampir selesai.
Menuurutnya, harga yang saat ini besar kemungkinan tidak ada kenaikan lagi. Sebab, kalaupun ada kenaikan harga, sejak masa awal panen biasanya ada tanda-tanda kenaikan.”Sampai sekarang tanda-tanda kenaikan itu tidak ada, ini yang membuat para petani itu resah dengan kondisi harga yang dipatok Rp 20 ribu - Rp 30 ribu,” terangnya.
Mudzakir mangaku, tembakau sekarang banyak yang terserang penyakit, dan itu juga sangat berpengaruh terhadap meruginya petani, kalau masalah harga lanjutnya, di atas Rp 33 ribu itu sudah cukup bagus, hanya saja dari petani itu sendiri membandingkannya dengan biaya yang digunakan dari masa perbaikan tanah hingga menanam, hingga diperhitungkan dengan kerusakan tembakaunya.
Sementara itu, data yang diperolaeh dari Dinas Perkebunan dan Kehutanan (Disbunhut) Kabupaten Probolinggo menyebutkan, kondisi kerusakan tahun ini mencapai 25 persen. Diperkirakan realisasi tanam tembakau yang bisa produktivitas mencapai hanya sekitar 8.331 hektar. Sedangkan kebutuhan tembakau di seluruh gudang di Kabupaten Probolinggo, sekitar 12.929 Ton tembakau. Sehingga, diharapkan rendahnya realisasi tanam tembakau yang bisa produktivitas, dapat mengangkat harga tembakau.(dc/fir)



COMMENTS