Dicko : BromoFM Rabu 24/09/2014 , 08 : 00 WIB PAJARAKAN - KH. Ali Munib As’ad , yang merupakan keluarga besar Pondok pesantren...
Dicko : BromoFM
Rabu 24/09/2014 , 08 : 00 WIB
PAJARAKAN - KH. Ali Munib As’ad, yang merupakan keluarga besar Pondok pesantren (ponpes) Zainul Hasan Genggong Pajarakan,
Kabupaten Probolinggo, pulang ke Rahmatullah. Setelah menjalani
perawatan di rumah sakit Dharma Surabaya selama 20 hari. Beliau wafat
pada tanggal 22 September 2014.
Ju’aini As’ad, putra pertama almarhum saat dikonfirmasi mengatakan, ayahanda wafat diusia sekitar 73 tahun, karena mengalami sakit pembocoran lambung. Sakit yang diderita almarhum sudah lama terjadi. Tetapi, kondisi semakin memburuk dan dilarikan ke rumah sakit Dharma Surabaya, sejak 20 hari lalu.
”Rencananya pada hari yang sama menjelang beliau wafat akan dilakukank operasi. Tapi, karena kondisi abah semakin kritis, akhirnya tidak bisa operasi,” katanya.
Pria yang biasa disapa Gus Jon itu mengaku, Alhmarhum abahnya, meninggalkan 6 putra dan 10 cucu dan istri, Hj. Siti Zaenab. Dirinya bersama keluarga, sangat merasa kehilangan. Karena, sosok almarhum yang biasa disapa non Munib dirasakan dikenal oleh semua masyarakat, sebagai humoris. Pada siapapun, keluarga ataupun para tamu yang datang, pasti dibuat humor. Bahkan, kondisi apapun, Almarhum selalu menyikapi dengan sabar. ”Semua yang bertemua dengan abah, pasti dibuat tertawa,” tuturnya.
Gus Jon mengaku, dirinya tidak pernah melupakan moment bersama Almarhum yang sangat diingatnya. Semua peristiwa ataupun apapun yang dilakukan Almarhum, sangat dirasakan istimewa. Sehingga, tidak ada peristiwa yang tidak istimewa dilakukan almarhum padanya. ”Kalau diceritakan, pasti panjang. Karena, saya merasa selama bersama abah (Almarhum), apa yang dilakukan pada saya istimewa dan penuh kenangan, apa yang dirasakan seorang anak pasti sangat sulit melupakan kenangan bersama orang tuanya, itulah yang terjadi pada diri saya sekarang,” paparnyaa.(dc/fir)
Ju’aini As’ad, putra pertama almarhum saat dikonfirmasi mengatakan, ayahanda wafat diusia sekitar 73 tahun, karena mengalami sakit pembocoran lambung. Sakit yang diderita almarhum sudah lama terjadi. Tetapi, kondisi semakin memburuk dan dilarikan ke rumah sakit Dharma Surabaya, sejak 20 hari lalu.
”Rencananya pada hari yang sama menjelang beliau wafat akan dilakukank operasi. Tapi, karena kondisi abah semakin kritis, akhirnya tidak bisa operasi,” katanya.
Pria yang biasa disapa Gus Jon itu mengaku, Alhmarhum abahnya, meninggalkan 6 putra dan 10 cucu dan istri, Hj. Siti Zaenab. Dirinya bersama keluarga, sangat merasa kehilangan. Karena, sosok almarhum yang biasa disapa non Munib dirasakan dikenal oleh semua masyarakat, sebagai humoris. Pada siapapun, keluarga ataupun para tamu yang datang, pasti dibuat humor. Bahkan, kondisi apapun, Almarhum selalu menyikapi dengan sabar. ”Semua yang bertemua dengan abah, pasti dibuat tertawa,” tuturnya.
Gus Jon mengaku, dirinya tidak pernah melupakan moment bersama Almarhum yang sangat diingatnya. Semua peristiwa ataupun apapun yang dilakukan Almarhum, sangat dirasakan istimewa. Sehingga, tidak ada peristiwa yang tidak istimewa dilakukan almarhum padanya. ”Kalau diceritakan, pasti panjang. Karena, saya merasa selama bersama abah (Almarhum), apa yang dilakukan pada saya istimewa dan penuh kenangan, apa yang dirasakan seorang anak pasti sangat sulit melupakan kenangan bersama orang tuanya, itulah yang terjadi pada diri saya sekarang,” paparnyaa.(dc/fir)



COMMENTS