Dicko : BromoFM Rabu 24/09/2014 , 10 : 00 WIB KRAKSAAN – Kabupaten Probolinggo mempunyai potensi ternak sapi perah, potensi t...
Dicko : BromoFM
Rabu 24/09/2014 , 10 : 00 WIB
KRAKSAAN
– Kabupaten Probolinggo mempunyai potensi ternak sapi perah, potensi
tersebut berada di wilayah Kecamatan Krucil Kabupaten setempat. Namun
dikala musim kemarau tiba, produksi susu hasil dari sapi perah tersebut
dipastikan menurun. Hal itu disebabkan karena petani kesulitan
mendapatkan rumput segar.
Menurut Bihar (34) salah satu peternak sapi di Desa Bremi Kecamatan Krucil Kabupaten Probolinggo, kalau musim kemarau tiba, petani kesulitan mencari rumput, kalaupun ada rumput dipegunungan mayoritas banyak yang kering, tidak seperti musim hujan, sehingga berdampak hasil susu yang diperoleh tidak maksimal seperti musim hujan.
”Asupan makan sapi perah membutuhkan rumput segar. Untuk memicu produktifitas susu,” katanya kepada wartawan, Minggu (21/9).
Menurutnya, asupan makan sapi perah memang membutuhkan rumput segar. Untuk memicu produktifitas susu. “Sekarang hasil susu drastis menurun sekitar lima puluh persen, tidak seperti musim hujan yang hasilnya cukup maksimal. Sebab, ketika musim hujan rumput dipegunungan segar dan sangat mudah didapat,”jelas Bihar.
Bihar mengaku, dalam satu ekor sapi peliharaannya seharinya bisa menghasilkan 6-7 liter. Karena sulitnya mendapatkan rumput segar, susu yang dihasilkannya dalam perhari hanya mendapatkan 3-4 liter.
Untuk dimusim kemarau ini, para peternak terpaksa memberikan rumput kering, hanya saja, ntuk menambah vitamin terhadap sapi, mereka mencampuri dengan pohon jagung sebagai pelengkap kesuburan susu yang terkandung dalam sapi perah.
Hal serupa juga dikatakan oleh beberapa warga sekitar yang mempunyai sapi perah, bahwa pada susu yang dihasilkan oleh sapi perahnya dipastikan terterjual setiap hari. Dan penampungan susu dari petani sudah dilakukan pembelian oleh koperasi.
“Dalam perliter susu, koperasi mengambilnya dengan harga Rp 8-9 ribu. Jika harga susu mengalami kenaikan, bisa lebih mahal lagi,” ujarnya.
Disebutkannya, dari dampak adanya kekeringan ladang yang mengakibatkan rumput kering, itu juga sangat berpengaruh pada pendapatan peternak yang biasanya mencapai Rp 70-100 ribu. Pada musim kemarau saat ini peternak hanya meraup keuntungan Rp 40-60 ribu.:Tentunya pendapatan kami sangat menurun, sebab, produksi susu yang dihasilkan saat melakukan pemerahan hasilnya sangat minim,”kata Fandri seorang peternak sapi perah warga setempat.(dc/fir)



COMMENTS