Dicko : BromoFM Selasa 09/09/2014 , 08 : 00 WIB KRAKSAAN – Hari besar aksara Nasional yang jatuh pada Senin (8/9/14), Kabupaten...
Dicko : BromoFM
Selasa 09/09/2014 , 08 : 00 WIB
KRAKSAAN
– Hari besar aksara Nasional yang jatuh pada Senin (8/9/14), Kabupaten
Probolinggo tercatat sebanyak 81.499 orang yang masih mengalami buta
aksara. Dari itu Perintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo terus berupaya
untuk memberantas dari angka tersebut.Sebab, di Kabupaten Probolinggo sendiri masuk golongan 33 daerah zona merah se Indonesia. Untuk menyikapi hal tersebut, Pemkab sangat memperhatikan sesuai ketentuan, daerah yang terdapat 50.000 ke atas penduduknya yang masih mengalami buta aksara.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Probolinggo menyebutkan, angka buta aksara di kabupaten, dari tahun ke tahun terus berkurang. Awalnya tahun 2010, sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS), tercatat 125.479 orang, masih buta aksara. Kemudian, tahun 2011, Pemda setempat pun mula menggarap penuntasan buta aksara. Sampai akhir tahun 2013, tersisa 81.499 orang buta aksara. Bahkan, Bupati sendiri mendapatkan beberapa penghargaan dari Pusat dan Provinsi, karena atas kepedulian dalam menuntaskan buta aksara tersebut.
”Tahun 2010, ada 125.479 orang yang masih belum melek aksara. Kemudian, tiga tahun beraksi, tersisa 81.499 orang, yang belum melek aksara. Pemerintah sudah berbuat. Akan lebih maksimal, kalau masyarakat mendukungnya program pemerintah,” ungkap Kepala Dinas Pendidikan (Kadispendik) Kabupaten Probolinggo Tutug Edi Utomo Senin (8/9).
Tutug mengaku, angka penduduk yang masih belum melek aksara masih tinggi. Tetapi, pemerintah sendiri, selama ini tidak hanya diam diri. Bahkan, sikap dan kepedulian dalam menuntaskan buta aksara, sangat layak diapresiasi.
Sedangkan di Kabupaten Probolinggo sendiri lanjutnya, salah satu dari 33 daerah yang masuk zona merah dalam buta aksara. Tingkat nasional, daerah yang terdapat 50.000 orang ke atas, masih belum melek huruf, masuk zona merah. Kabupaten Probolinggo sendiri, saat ini masuk zona merah. ”Semoga saja dengan semangat pemerintah dan doa masyarakat bersama, dapat segera menuntaskan buta aksara tersebut,” harapnya.
Tutug menuturkan, untuk tingkat Kabupaten Probolinggo, awalnya tahun 2011, tercatat sebanyak 11 kecamatan yang masuk zona merah. Yaitu Tiris, Krucil, Kotaanyar, Pakuniran, Sumber, Kuripan, Bantaran, Wonomerto, Lumbang, Sumberasih dan Tongas. Karena terdapat 5.000 lebih warganya, masih belum melek aksara. Beruntungnya, tahun ini hanya tersisa tiga kecamatan yang tersisa masuk zona merah. Yaitu kecamatan Tiris ada 7.818 orang; Krucil 5.740 orang dan Bantaran 5.135 orang, belum melek aksara,sasaran penuntasan kerja hampir seluruhnya beraktifitas kerja. Sehingga, sempitnya waktu warga untuk mengikuti progam kelompok belajar tersebut.
”Saya pernah turun langsung, ternyata banyak masyarakat enggan ikut kelompok belajar, karena dianggapnya pendidikan tidak penting. Selain terbentur dengan waktu. Karena mereka sibuk bekerja. Terpaksa para tutor mengalah, dan menyesuaikan waktu para warga. Termasuk bersedia mengajar malam hari,” jelasnya.
Ia menambahkan, program penuntasan buta aksara itu sendiri dari usia 15 tahun hingga 59 tahun.”Program itu khusus di Kabupaten Probolinggo, kami upayakan dari usia 15 tahun sampai 4o tahun, itu kami lakukan untuk menunjang Indek Pembangunan Manusia (IPM). Karena masyarakat yang sudah tergabung dalam penuntasan buta aksara dan yang mendapatkan suratr keterangna melek aksara (Sukma) diharapkan untuk mengikuti kejar paket,”imbunya.(Dc)


COMMENTS